Konten dari Pengguna

Satu Kalimat di Dalam Lift dan Nasihat yang Berubah Menjadi Polemik

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lesmana Adriyansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://unsplash.com/id/foto/orang-dengan-mantel-coklat-memegang-kalung-manik-manik-hitam-Y3kkV8YAI8o?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink
zoom-in-whitePerbesar
https://unsplash.com/id/foto/orang-dengan-mantel-coklat-memegang-kalung-manik-manik-hitam-Y3kkV8YAI8o?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink

Pernah mendengar nasihat yang isinya benar, tetapi cara menyampaikannya membuat hati terasa perih? Itu yang saya rasakan ketika menonton kabar viral tentang seorang mutawif, pembimbing jemaah umrah asal Indonesia, pada akhir September lalu.

Dalam video itu, ia berada di dalam lift bersama sejumlah jemaah, termasuk seorang perempuan lansia di kursi roda. Ia mengajak orang agar tidak menunda umrah sampai usia lanjut. Tetapi dalam penyampaiannya, ia menyinggung jemaah lansia yang butuh kursi roda serta mudah sakit atau pingsan. Banyak orang menilai ucapan itu tidak pantas. Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj), Dahnil Anzar Simanjuntak, meminta agar mutawif tersebut masuk daftar hitam jika terbukti melanggar etika. Ia juga menegaskan perlunya tabayun lebih dulu, yaitu memanggil dan meminta keterangan yang bersangkutan.

Isi pesannya tidak salah

Jujur saja, kalau hanya isinya yang dilihat, pesan itu ada benarnya. Ibadah di Tanah Suci menguras tenaga: berjalan jauh, berdesak-desakan, dengan cuaca yang berbeda dari tanah air. Orang yang berangkat saat bugar tentu lebih ringan menjalaninya. Nasihat "jangan menunda" itu baik.

Masalahnya ada pada tempat dan caranya. Nasihat yang disampaikan di depan orang yang sedang dinasihati, dengan menyebut kelemahan mereka, terasa lebih mirip sindiran.

Bayangkan perasaan sang nenek

Coba bayangkan, ini hanya ilustrasi. Seorang ibu berusia 70-an duduk di kursi roda, lalu mendengar pembimbingnya membahas lansia yang butuh kursi roda dan mudah sakit. Padahal bagi banyak orang, umrah di usia senja bukan soal menunda. Ada yang baru bisa berangkat setelah puluhan tahun menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Ada yang baru punya kesempatan setelah anak-anaknya mandiri.

Mereka datang dengan niat tulus. Kursi roda itu bukan tanda kurang persiapan. Bisa jadi itu bukti betapa besar tekad mereka untuk tetap berangkat.

Tugas mutawif adalah sabar

Menurut Wamenhaj, mutawif harus sabar dalam membimbing jemaah, apalagi mereka menerima insentif atas tugasnya. Saya setuju. Mendampingi lansia memang melelahkan, dan justru di situlah nilai tugas ini. Mutawif bukan sekadar pemandu yang hafal rute dan doa. Ia juga penjaga martabat jemaah selama jauh dari rumah.

Jangan terburu-buru menghakimi

Kita juga perlu adil. Yang kita lihat baru potongan video, jadi langkah tabayun memang perlu. Siapa tahu ada konteks lain, atau niat baik yang tidak tersampaikan dengan tepat. Menghujat habis-habisan di kolom komentar bukan sikap yang adil.

Tetapi dampak ucapan tetap nyata, apa pun niatnya. Kalau jemaah merasa direndahkan, itu tetap persoalan layanan.

Persoalan yang lebih luas

Menurut saya, kasus ini hanya satu bagian dari persoalan layanan umrah. Awal September lalu, Wamenhaj juga menyebut pengaduan tentang travel nakal masih cukup tinggi, termasuk jemaah yang telantar. Artinya, kualitas layanan, dari izin travel sampai adab pembimbing, masih perlu dibenahi.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Travel perlu membekali pembimbingnya dengan pelatihan melayani lansia, bukan hanya hafalan manasik. Calon jemaah sebaiknya memilih travel berizin dengan rekam jejak baik. Keluarga yang mengantar orang tuanya umrah pun bisa menanyakan bagaimana pembimbing memperlakukan jemaah sepuh.

Pelajaran kecilnya

Kebenaran yang disampaikan tanpa kelembutan sering kehilangan maknanya. Pesan "jangan menunda ibadah" sebenarnya indah, asal disampaikan dengan hormat kepada orang yang justru sedang berjuang menunaikannya.

Semoga kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua, bukan hanya bagi para mutawif. Sebab menghormati yang lebih tua bukan sekadar etika. Itu bagian dari akhlak yang diajarkan agama kita.