#dirumahaja, Sebuah Inisiatif Bersama

Life at kumparanverified-green

comment
22
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
#dirumahaja, Sebuah Inisiatif Bersama
zoom-in-whitePerbesar

Sampailah kita ke titik yang dalam doa, saya harap tak akan pernah terjadi; penyebaran virus corona di Indonesia pada umumnya dan di Jakarta khususnya semakin meluas dan semakin sulit dikendalikan.

Vorus corona merebak di lebih dari 100 negara, termasuk Indonesia. WHO pun menetapkannya menjadi pandemi. Dok, Reuters/Willy Kurniawan
zoom-in-whitePerbesar
Vorus corona merebak di lebih dari 100 negara, termasuk Indonesia. WHO pun menetapkannya menjadi pandemi. Dok, Reuters/Willy Kurniawan

Dari awal sekali ketika virus corona merebak di Wuhan, China, sekitar dua bulan lalu, manajemen kumparan sudah memikirkan sebuah skenario apabila virus tersebut menyebar menjadi pandemi dunia, termasuk tentunya menyerbu Indonesia.

Kami saat itu menyusun tiga buah respons bila itu terjadi. Respons hijau yang berarti hati-hati dan waspada. Respons kuning yang berarti siaga. Respons merah yang berarti bahaya. Semuanya dengan konsekuensi operasional kantor yang berbeda-beda.

Ketika tiga hari lalu, Jumat (13/3/20), pemerintah mengumumkan terjadinya peningkatan penularan yang cukup tajam di Indonesia, kami memutuskan untuk menerapkan respons hijau. Pergerakan seluruh karyawan dipantau, keluar masuknya tamu diperiksa dengan ketat, dan setiap hari manajemen melakukan evaluasi harian sesuai perkembangan situasi.

Selama melakukan peliputan terkait virus corona, wartawan kumparan selalu dibekali masker dan hand sanitizer untuk mengantisipasi potensi penularan. Dok, Fitra Andrianto/kumparan

Tetapi hari ini, kami memutuskan untuk mengubah status respons menjadi merah —tanpa melalui kuning— setelah melihat perkembangan ring-1 pemerintahan negeri ini tertembus oleh penularan virus corona.

Cara berpikir kami sederhana, jika ring-1 saja sudah kena, skenario terburuknya adalah penularan pasti juga sudah meluas di kalangan masyarakat. Seperti kemudian tersirat dari status Kejadian Luar Biasa (KLB) yang diterapkan beberapa pemerintah daerah. Seperti kemudian penetapan statusnya sebagai bencana non-alam oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo.

Status respons merah, berarti semua staf diwajibkan bekerja dari rumah (WFH-Work From Home). Mereka yang terpaksa harus bekerja dari kantor (WFO-Work From The Office) harus mengikuti prosedur yang ketat dan memenuhi beberapa persyaratan yang sudah ditentukan SOP-nya oleh manajemen.

Wartawan kumparan Darin Atian Dina ketika meliput keterangan pers dari Badan Narkotika Nasiona (BNN). Dok kumparan

Para wartawan kumparan yang biasanya tak kenal lelah turun ke lapangan untuk mengumpulkan berita bagi pembaca, sementara ini juga kami larang melakukan tugas keseharian mereka. Off-limit istilah kami. Mereka harus pintar-pintar menemukan cara lain untuk meliput berita. Atau kalau terpaksa sekali, harus ada persetujuan dari manajemen dengan sekian macam persyaratan yang harus dipenuhi.

Semua acara offline, pertemuan-pertemuan bisnis, dan segala rapat yang mengharuskan tatap muka untuk sementara kami tunda hingga waktu yang belum ditentukan. Kalau bisa dilakukan lewat online, maka cara itu yang kami tempuh.

Berlebihan? Better safe than sorry. Bagi kami, berita dan pekerjaan sangatlah penting, tetapi tidak lebih penting dari kesehatan kami bersama.

Bukan hanya itu. Cakupan perhatian kami juga ke keluarga dan handai taulan karyawan kumparan. Kami meminta semua awak kumparan untuk melaporkan kondisi keluarga terdekat ke departemen HR agar perusahaan sebisa mungkin membantu saat diperlukan. Pada akhirnya, ketentraman hati karyawan adalah juga ketentraman hati perusahaan.

Semoga kita semua tetap sehat wal afiat menghadapi masa-masa sulit ini.

Salam

Hugo Diba, CEO kumparan