Konten dari Pengguna

Sekolah Sama, Kesempatan Berbeda

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari liravirnandaa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sekolah sama, kesempatan berbeda: mengapa kesempatan belajar setiap siswa tidak selalu setara?

Gambar ini diambil oleh penulis saat sedang mengajar di salah satu sekolah di Tangsel
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ini diambil oleh penulis saat sedang mengajar di salah satu sekolah di Tangsel

Saya pernah berpikir bahwa ketika semua siswa bersekolah di tempat yang sama, diajar oleh guru yang sama, menggunakan buku yang sama, dan mengerjakan tugas yang sama, berarti mereka memperoleh kesempatan pendidikan yang sama.

Namun, semakin saya mempelajari pendidikan dan ekonomi, saya mulai menyadari bahwa kenyataannya tidak sesederhana itu.

Kesempatan untuk belajar ternyata tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di dalam ruang kelas.

Ada siswa yang setelah pulang sekolah dapat langsung beristirahat dan mengerjakan tugas dengan tenang. Ada pula yang harus membantu orang tua, menjaga adik, atau melakukan pekerjaan lain sebelum dapat membuka buku. Ada siswa yang memiliki laptop pribadi dan akses internet yang stabil, sementara siswa lainnya harus menggunakan telepon seluler bersama anggota keluarga atau mencari jaringan internet gratis untuk menyelesaikan tugas.

Di sekolah, mereka mungkin mendapatkan tugas yang sama. Namun, proses untuk menyelesaikannya belum tentu sama.

Hal sederhana seperti tugas membuat presentasi dapat menjadi contoh. Bagi sebagian siswa, tugas tersebut mungkin hanya membutuhkan beberapa jam. Mereka dapat menggunakan laptop, mencari referensi di internet, dan mengerjakannya dari rumah dengan nyaman.

Bagi siswa lain, tugas yang sama mungkin membutuhkan usaha lebih panjang. Ia harus meminjam perangkat, menghemat kuota internet, atau mencari tempat dengan akses Wi-Fi. Belum lagi jika setelah pulang sekolah ia memiliki tanggung jawab lain di rumah.

Pada akhirnya, guru hanya menerima hasil tugas yang sama-sama dikumpulkan.

Perbedaan proses tersebut tidak selalu terlihat.

Saya semakin menyadari hal ini ketika melihat bahwa perkembangan teknologi juga membawa persoalan baru dalam pendidikan. Saat ini, teknologi semakin sering digunakan sebagai bagian dari kegiatan belajar. Siswa diminta mencari informasi melalui internet, membuat presentasi digital, mengerjakan tugas melalui platform daring, hingga menggunakan berbagai aplikasi untuk mendukung pembelajaran.

Digitalisasi memang dapat memperluas akses terhadap sumber belajar. Namun, akses tersebut tidak otomatis berarti semua siswa memiliki kemampuan yang sama untuk memanfaatkannya.

Sebuah perangkat dapat menjadi sarana belajar bagi seorang siswa, tetapi bagi siswa lain perangkat yang sama mungkin merupakan barang yang harus digunakan bersama keluarga. Internet dapat menjadi sumber pengetahuan yang tidak terbatas bagi sebagian siswa, tetapi bagi siswa lainnya kuota internet merupakan sesuatu yang harus dipertimbangkan penggunaannya.

Di sinilah saya melihat bahwa pendidikan memiliki hubungan yang sangat erat dengan kondisi ekonomi.

Ekonomi pendidikan tidak hanya berbicara mengenai biaya sekolah. Ada pula sumber daya lain yang memengaruhi proses belajar, seperti waktu, perangkat, akses informasi, transportasi, lingkungan belajar, dan dukungan keluarga.

Hal-hal tersebut sering kali tidak masuk dalam pembicaraan ketika prestasi siswa dinilai.

Ketika seorang siswa memperoleh nilai tinggi, kita cenderung melihatnya sebagai hasil dari kecerdasan dan kerja keras. Sebaliknya, ketika seorang siswa memperoleh nilai rendah, kita mudah menganggapnya kurang belajar atau kurang disiplin.

Padahal, nilai tidak pernah menceritakan seluruh keadaan yang dialami seorang siswa.

Nilai tidak menjelaskan apakah ia belajar dengan menggunakan buku pribadi atau meminjam milik orang lain. Nilai tidak menunjukkan apakah ia memiliki tempat belajar yang tenang atau harus belajar di tengah aktivitas keluarga. Nilai juga tidak menunjukkan berapa banyak waktu yang harus ia bagi antara belajar dengan membantu keluarganya.

Tentu saja, kondisi ekonomi bukan satu-satunya faktor yang menentukan prestasi belajar. Kemampuan, motivasi, lingkungan, kualitas pembelajaran, dan berbagai faktor lainnya juga memiliki peran.

Namun, mengabaikan kondisi ekonomi ketika membicarakan kesempatan pendidikan juga bukan sesuatu yang tepat.

Menurut saya, inilah bagian yang sering terlupakan dalam pembicaraan mengenai pemerataan pendidikan. Kita sering merasa bahwa pendidikan sudah adil ketika semua anak memiliki akses untuk bersekolah.

Padahal, masuk ke sekolah hanyalah awal.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah setiap siswa memiliki kesempatan yang cukup untuk memanfaatkan pendidikan tersebut.

Dua siswa dapat duduk di bangku yang sama, menerima materi yang sama, dan mengerjakan ujian yang sama. Akan tetapi, mereka dapat datang ke ruang kelas dengan kondisi kehidupan yang sangat berbeda.

Ada yang datang dengan dukungan belajar yang lengkap. Ada yang datang dengan berbagai keterbatasan yang tidak terlihat.

Karena itu, menurut saya, membicarakan kesetaraan pendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada apakah semua siswa memperoleh fasilitas yang sama. Kita juga perlu melihat apakah fasilitas dan kesempatan tersebut benar-benar dapat diakses dan dimanfaatkan oleh setiap siswa.

Sebab, memberikan hal yang sama kepada semua orang belum tentu menghasilkan kesempatan yang sama.

Pada akhirnya, saya melihat bahwa sekolah memang dapat menjadi tempat yang sama bagi banyak siswa. Namun, kehidupan yang mereka bawa ke dalam sekolah tidak pernah benar-benar sama.

Sekolahnya sama.

Gurunya mungkin sama.

Tugasnya mungkin sama.

Tetapi kesempatan untuk memanfaatkan semuanya dapat berbeda.

Dan mungkin, ketika kita berbicara tentang pendidikan yang lebih adil, kita tidak hanya perlu melihat siapa yang memperoleh nilai paling tinggi. Kita juga perlu memahami kondisi dan kesempatan yang berada di balik angka tersebut.