Konten dari Pengguna

Afrika Selatan : Warisan Beracun Politik Apartheid

Lisa Amelia

Lisa Amelia

Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Mulawarman

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lisa Amelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber foto : Lisa Amelia
zoom-in-whitePerbesar
sumber foto : Lisa Amelia

Politik apartheid banyak memberikan luka bagi masyarakat di Afrika Selatan. Undang-undang yang dibuat apartheid memaksa kelompok ras kulit putih dan ras kulit hitam untuk hidup dan berkembang secara terpisah. Politik ini membedakan bahwa ras kulit putih mendapatkan privilage dari ras warna kulit lainnya. Tujuan adanya apartheid ini untuk mempertahankan dominasi ras kulit putih, hal ini membuat orang kulit hitam malah terasing dari tanah airnya sendiri. Berakhirnya apartheid ditandai dengan adanya pemilu antirasial pertama yang kemudian hasilnya dimenangkan oleh Nelson Maneda sebagai Presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan dan mendapat penghargaan nobel. Meskipun Apartheid ini sudah berakhir lama, tetapi rasialisme di Afrika masih sering terjadi. Salah satu sumber ketidakpuasan sosial di Afrika Selatan pasca berakhirnya politik apartheid adalah warisan rasisme kulit putih. Warisan beracun ini terbukti dalam ketidaksetaraan yang dirasialisasi.

Pada Mei 2022 yang lalu terjadi sebuah insiden dimana seorang mahasiswa hukum berkulit putih di Universitas Stellenbosch membobol kamar seorang mahasiswa lain yang berkulit hitam. Dalam video yang beredar di media sosial terlihat seorang pria kulit putih menerobos masuk ke kamar siswa kulit hitam tahun pertama di asrama pada dini hari Minggu, dan kemudian dengan sengaja buang air kecil di atas barang-barangnya. Kongres Mahasiswa Afrika juga mengatakan bahwa korban pada saat itu sedang tertidur dikamarnya lalu dia terbangun karena mendengar suara berisik yang ternyata suara tersebut berasal dari mahasiswa kulit putih rasis yang mengencingi meja belajar, buku dan laptop korban.

Akibat dari insiden yang terjadi, Universitas Stellenbosch mendapatkan imbas sosial. Insiden ini membuat mahasiswa lain dari semua ras mengadakan protes di kampus dengan membawa papan dan kertas yang bertuliskan We Are Not Toilets. Bahkan banyak orang Afrika Selatan termasuk mantan mahasiswa yang ikut melakukan aksi ke media sosial untuk melampiaskan kemarahan mereka tentang Stellenbosch. Beberapa orang mengatakan bahwa Stellenbosch adalah salah satu Universitas terbaik di Afrika tetapi memiliki masalah yang mengakar dengan elitisme dan rasisme. Universitas Stellenbosch adalah kampus yang didominasi oleh orang berkulit putih dan ini bukan kali pertama insiden rasial terjadi di Universitas terkemuka itu. Bahkan salah satu staff Stellenbosch yang berkulit hitam juga pernah mengalami kejadian rasial di kampus tersebut, terdapat siswa kulit putih yang dengan sengaja menabraknya di trotoar serta dengan sengaja hampir menabrak ketika staff itu sedang berjalan ke penyebrangan pejalan kaki.

Banyak orang berkulit putih yang masih menganggap bahwa mereka memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding orang yang berkulit hitam. Seorang mahasiswa kulit putih lainnya pernah menempelkan poster dengan ikonografi Nazi dan menyerukan agar mahasiswa kulit putih bersatu untuk melestarikan budaya mereka. Ini sudah jelas bahwa politik apartheid menurunkan warisan beracun yang menjadi "wabah" dan masalah yang besar.

Universitas mengecam insiden diatas sebagai "rasis", dan memberikan sanksi skors kepada mahasiswa kulit putih yang tidak disebutkan namanya itu. Sanksi skors saja tidak dirasa cukup memberikan efek jera bagi kejahatan rasial tersebut, jika tidak ditangani dengan cukup serius kasus-kasus rasial seperti itu tentunya akan terus berlanjut. Dalam pernyataan wakil rektor Universitas, Wim de Villers, mengatakan bahwa pihak kampus bertindak dengan cepat dan tegas untuk mengatasi masalah-masalah ini dalam menegakkan komitmen terhadap budaya inklusivitas. Pihak kampus juga tidak dapat menerima insiden ini karena tidak ada siswa yang berhak untuk merendahkan martabat atau hak asasi siswa lain dengan cara ini.