Mengubah Jelantah Jadi Cuan dan Solusi Lingkungan di Pesisir Marunda

Kepala Bagian Hukum dan Kerja Sama
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Lisa Noviana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik harumnya masakan dapur rumah tangga, ada masalah terselubung yang kerap luput dari perhatian: limbah minyak goreng bekas pakai atau minyak jelantah. Jika dibuang sembarangan ke saluran air, jelantah tak hanya menyumbat pipa, tetapi juga mencemari ekosistem perairan dan memperburuk sanitasi permukiman.
Melihat persoalan tersebut, pada 25 Juli 2026, akademisi tidak tinggal diam. Tim dosen dan mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menggelar program PkM melalui pendekatan ilmiah populer yang interaktif. Program ini mengusung gagasan ekonomi sirkular—sebuah konsep pengelolaan sumber daya yang bertujuan meminimalkan limbah dengan cara mendaur ulang material menjadi produk bermanfaat secara berkelanjutan.
Edukasi Lingkungan: Mengubah Pola Pikir
Kegiatan diawali dengan edukasi komunikasi lingkungan. Tim dosen UBSI memberikan pemahaman mendalam tentang dampak ekologis limbah domestik. Jelantah yang dibuang ke selokan atau tanah dapat membentuk lapisan minyak yang menghalangi oksigen masuk ke air, sehingga merusak kualitas lingkungan pesisir dan berpotensi memicu genangan hingga banjir.
Melalui ruang diskusi yang hangat, masyarakat diajak mengubah cara pandang terhadap limbah dapur. Jelantah tidak lagi dipandang sebagai barang sisa yang tak berguna, melainkan sebagai bahan baku bernilai guna jika dikelola dengan tepat.
Berkreasi Menjadi Lilin Aromaterapi
Tak sekadar teori, para peserta yang terdiri atas 13 anggota Komunitas Perempuan RPTRA Marunda diajak langsung melakukan praktik pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah.
Di bawah bimbingan tim pelaksana—yang terdiri dari dosen Putri Ramadaniar, M.I.Kom., Lathiefah Widuri Retyaningtyas, M.Si., Gema Ramadhan Bastari, M.Si., dan Muhamad Lukman Arifianto, M.Si., serta tiga mahasiswa (Dinda, Anggita, dan Varicello)—peserta mempelajari tahapan mendasar:
Penyaringan & Pemurnian: Membersihkan minyak bekas dari sisa-sisa kotoran makanan.
Pencampuran Bahan: Menggabungkan minyak dengan bahan pengeras (seperti stearin/paraffin) dan tetesan minyak atsiri (essential oil) untuk memberikan aroma terapi yang menenangkan.
Pencetakan Estetis: Mencetak lilin ke dalam wadah yang aman dan menarik secara visual agar memiliki daya jual.
Hasilnya, limbah jelantah yang mulanya berbau menyengat berubah menjadi produk lilin aromaterapi yang cantik, harum, dan bernilai ekonomis tinggi.
Dari Dapur Menuju Peluang Usaha Skala Rumah Tangga
Antusiasme warga terlihat sepanjang jalannya sesi praktik. Perwakilan Komunitas Perempuan RPTRA Marunda, Ibu Yeni, mengungkapkan bahwa pelatihan ini membuka wawasan baru yang aplikatif bagi warga.
"Selama ini kami hanya tahu minyak jelantah itu dibuang atau dikumpulkan begitu saja. Sekarang kami tahu jelantah bisa diolah jadi lilin aromaterapi yang estetik dan bernilai jual. Selain membuat lingkungan rumah lebih bersih, ini bisa jadi peluang usaha sampingan untuk menambah penghasilan komunitas," tutur Yeni.
Sinergi Tri Dharma untuk Pembelajaran Berkelanjutan
Ketua tim pelaksana menegaskan bahwa keberadaan perguruan tinggi harus mampu menghadirkan solusi kontekstual atas permasalahan nyata di tengah masyarakat. Melalui implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, kolaborasi ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi pemicu lahirnya inovasi hijau berbasis komunitas (community-based green innovation).
Pengolahan jelantah menjadi lilin aromaterapi di Marunda menjadi bukti nyata bahwa langkah kecil dari dapur rumah tangga, jika dikelola dengan pengetahuan dan keterampilan, dapat memberikan dampak besar—baik untuk kelestarian lingkungan maupun kesejahteraan ekonomi warga.
