GenRengers Educamp Cara Nordianto Hartoyo Selamatkan Remaja Dari Pernikahan Dini

Momblogger and freelancer
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Liswanti Pertiwi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama, saya harus kehilangan beberapa teman yang mundur dari Sekolah untuk menikah. Begitupun setelah lulus SMP, ada beberapa teman yang memilih tidak melanjutkan ke SMA, dengan alasan akan menikah.
Saat itu saya sampai bertanya-tanya, apa yang melatarbelakangi mereka memutuskan menikah dini? Padahal diusia remaja menjadi masa yang menyenangnya, dari belajar bersama, bermain bersama hingga meraih cita-cita. Bukan mengurus rumah tangga atau melahirkan.
Saya juga sempat kaget, ketika undangan datang ke rumah. Begitu juga kedua orangtua saya, bahwa anak 14 tahun sudah dapat undangan nikah dari teman seumurannya. Ada banyak faktor yang membuat teman-teman sekolah memutuskan menikah muda. Ada yang karena faktor ekonomi, ada juga yang sudah pacaran dengan orang yang lebih dewasa.
Mungkin ini juga yang dirasakan Nordianto Hartoyo Sanan sebagai salah satu penerima apresiasi SATU Indonesia Awards tahun 2018, yang kehilangan temannya saat duduk di kelas 3 SMP. Sampai akhirnya Nordianto mencari tahu teman bermainnya, yang ternyata sudah dinikahkan oleh kedua orangtuanya.
GenRengers Educamp kurangi angka pernikahan dini
Nordianto Hartoyo Sanan yang lahir di Kalimantan tahun 1994 ini memiliki keinginan yang kuat untuk menolong teman-temannya dari menikah muda. Dirinya juga merupakan salah satu anak yang terlahir dari seorang Ibu yang menikah dini di usia 16 tahun.
Nordianto melihat bagaimana Ibunya yang sakit-sakitan, karena hamil di usia muda, bahkan mengalami keguguran hingga berkali-kali. Dan tentunya banyak faktor lainnya yang membuat kesehatan reproduksi sang Ibu menurun.
Saya jadi ingat ketika mengikuti seminar tentang kehamilan beberapa tahun silam. Menikah dini juga bisa berdampak buruk pada kesehatan Ibu dan janin. Mulai dari stunting, bayi lahir prematur, hingga angka kematian bayi jadi lebih besar.
Sejak melihat secara langsung bagaimana keadaan Ibunya, Nordianto memiliki keinginan yang kuat untuk bisa selamatkan anak-anak remaja di daerahnya terhindar dari pernikahan dini. Sampai akhirnya di tahun 2016, Nordianto Hartoyo berhasil mengumpulkan 20 relawan dan menggagas sebuah program kemah selama 3 hari 2 malam yang dinamakan Genrengers Educamp.
Dengan hadirnya program GenRengers Educamp ini, Nordianto berhasil mengurangi angka pernikahan dini di Kalimantan Barat. Sehingga pernikahan dini bisa menjauh dari bumi khatulistiwa. Masa depan anak-anak terselamatkan. Mereka masih bisa belajar dan menuntut ilmu untuk masa depannya.
Latar belakang hadirnya GenRengers Educamp
Selain melihat kesehatan Ibunya yang sering sakit-sakitan, ternyata Nordianto juga mengetahui bahwa Kalimantan Barat masuk dalam provinsi dengan angkat perkawinan anak yang tinggi. Penyebabnya, dari faktor ekonomi, sosial budaya, hingga gaya hidup generasi muda.
Dan nyatanya kasus pernikahan dini masih banyak terjadi. Bahkan kasus pernikahan dini sudah banyak diberitakan. Ada anak usia remaja menikah dengan pria dewasa seusia kakeknya, ada juga yang menikah di usia yang sama-sama remaja. Padahal usia remaja tuh masih harus banyak belajar lagi.
Nordianto akhirnya tergerak untuk bisa melakukan sesuatu, supaya bisa memperbaiki kehidupan anak-anak di daerahnya. Sehingga pernikahan dini bisa menjauh dari bumi khatulistiwa.
Karena menikah itu bukan hal mudah, termasuk memiliki dan mengasuh anak. Menikah dini juga meningkatkan risiko keguguran dan kelainan pada bayi, karena kurangnya asupan gizi. Untuk menghasilkan generasi yang sehat dan berkualitas, tentu saja asupan nutrisi di 1000 hari pertama kehidupan sangatlah penting. Mental calon Ibu juga harus sudah siap segalanya.
Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) usia ideal untuk menikah dan melahirkan secara sehat adalah 21 – 35 tahun. Karena di usia ini, pasangan tentunya sudah siap secara fisik maupun mental.
Semua orangtua tentu tidak ingin anaknya menikah muda. Karena banyak dampak yang akan dirasakan di masa depan. Masa depan anak remaja masih jauh, mereka punya hak untuk mendapatkan pendidikan dan menikmati masa remajanya, tanpa harus dibebani dengan mengurus anak.
Memberikan edukasi kepada anak memang sangat penting dilakukan. Tentu itu juga yang dilakukan Nordianto, yang akhirnya mengikuti banyak kegiatan di Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-Remaja). Dari sinilah, dirinya mendapatkan banyak pelajaran mengenai program Perencanaan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja (PKBR).
Setelah itu, Nordianto terus bergerak menyelamatakan anak-anak didaerahnnya, dari mulai mengumpulkan dan mengajarkan mereka untuk mengenai kesehatan reproduksi, bahaya seks bebas, hingga kemandirian ekonomi dalam membangun rumah tangga.
Program GenRengers Educamp
Untuk menjalankan sebuah program yang bermanfaat, tentu saja butuh sekali dukungan berbagai pihak. Nordianto bersama 20 relawan sebagai tim inti mulai menggagas program GenRengers Educamp. Program ini tentu saja dijalankan dengan konsep perkemahan selama 3 hari 2 malam untuk memberikan edukasi dan pelatihan kepada para remaja, dengan 3 hal pokok, seperti:
1. Para remaja diajarkan bagaimana mengenal dan peduli terhadap diri sendiri. Mulai dari mengajarkan mengenai organ-organ reproduksi, dan bagian mana yang akan tersakiti seandainya melakukan pernikahan dini.
2. Mengajarkan remaja tentang entrepreneur atau kewirausahaan. Karena faktor ekonomi menjadi penyebab tertinggi angka pernikahan dini di Kalimantan Barat.
3. Mengajarkan remaja berkreasi dan berinovasi, serta memahami teknologi.
Dengan adanya 3 program GenRengers Educamp ini tentu diharapkan bisa semakin menjauhkan anak remaja dari pernikahan dini. Bukan hanya di Kalimantan Barat, tapi juga daerah lainnya. Karena programnya ini menarik sekali.
Menikah dini itu bukan solusi untuk keluar dari masalah ekonomi. Karena ada banyak cara bisa dilakukan, yakni dengan wirausaha. Jangan korbankan kebahagiaan anak yang masih ingin menikmati masa remaja dan belajar, dengan menikahkan mereka. Karena belum tentu mereka merasakan bahagia.
Pernah bertemu dengan teman yang menikah dini bukan karena faktor ekonomi, tapi janji orangtua. Dia bicara bagaimana menyesalnya mengikuti keinginan orangtua untuk menikah dan tidak melanjutkan sekolah. Padahal ada keinginan untuk bisa mengembangkan diri.
Keberhasilan GenRengers Educamp Nordianto untuk selamatkan anak bangsa dari pernikahan dini
Dengan program GenRengers Educamp yang diganggas oleh Nordianto sudah menunjukkan hasil nyata. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik tahun 2017, Kalimantan Barat mengalami penurunan jumlah perempuan menikah di bawah umur 18 tahun dari 104/1.000 menjadi 39/1.000.
Bahkan program GenRengers Educamp ini sudah berhasil mengedukasi dan mendidik 400 remaja per tahunnya, yang tentunya siap untuk menjadi duta GenRengers di 14 kabupaten dan kota di Kalimantan Barat.
Bukan itu saja, 30 remaja dari tiap Kabupaten dan Kota yang terlibat program GenRengers Educamp ini dapat menyelesaikan SMA dan Perguruan Tinggi. Bahkan ada yang memiliki untuk bekerja juga. Yang menariknya, dari para remaja ini menjadi role model untuk remaja lainnya. Sehingga akan semakin banyak lagi remaja yang terselamatkan masa depannya dari pernikahan dini.
Program GenRengers Educamp ini makin terus berkembang. Hingga di tahun 2019 program ini sudah direduplikasi di 5 provinsi lainnya dan 24 kabupaten/kota. Dengan program GenRengers Educamp ini, Nordianto menunjukkan kepeduliannya kepada remaja sebagai generasi bangsa untuk terus berkembang dan terhindar dari pernikahan dini. Bahkan Nordianto mendapatkan beasiswa Euroweek Youth Leader 2019 di Polandia.
Semoga makin banyak lagi kabupaten lainnya yang bisa mendidik dan mengedukasi remaja masa kini menjauh dari pernikahan dini. Serta tetap fokus belajar dan menggapai cita-cita setinggi mungkin.
Menikah itu ibadah. Tapi, menikah juga penting untuk siapkan mental dan fisik, supaya bisa melahirkan generasi yang sehat dan kuat. Termasuk terpenuhinya nutrisi di 1000 hari pertama kehidupan, untuk investasi kesehatan anak di masa depan.
Menikahlah di usia yang ideal dan tepat, supaya bisa melahirkan generasi yang sehat, kuat dan hebat. Bangkit bersama untuk Indonesia.
