Selat Hormuz Ditutup, Afrika Ketiban "Durian Runtuh", tapi Sampai Kapan?

Mahasiswa Universitas Sriwijaya
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Lovenia zahrah Shaffa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan ada satu jalur laut yang dipakai untuk mengalirkan seperlima dari seluruh kebutuhan minyak dunia, lalu tiba-tiba jalur itu diblokir. Bukan macet biasa, tapi benar-benar ditutup. Itulah yang terjadi pada awal Maret 2026, ketika Iran menutup Selat Hormuz menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayahnya.
Efeknya langsung terasa ke mana-mana. Harga minyak melonjak tajam, antrean panjang kendaraan muncul di pom bensin Bangladesh, Zimbabwe panik kekurangan bahan bakar, dan negara-negara Eropa bergidik sebab teringat lagi mimpi buruk krisis energi beberapa tahun lalu. Tapi di sudut lain dunia, tepatnya di Lagos, Luanda, dan Maputo, ada yang diam-diam tersenyum.
Krisis ini adalah peluang bersejarah bagi Afrika. Tapi sekaligus peringatan keras. Benua ini tidak boleh sekadar jadi "pengisi kekosongan sementara" lalu ditinggalkan lagi begitu selat dibuka dan harga kembali normal. Kalau Afrika tidak bergerak cepat dan cerdas, berkah ini hanya akan jadi angin lalu.
Mengapa Afrika, mengapa sekarang?
Jawaban sederhananya, karena tidak ada pilihan lain bagi para pembeli.
Selat Hormuz macet. Laut Merah tidak aman untuk dilalui kapal tanker. Qatar, salah satu pemasok gas terbesar di dunia, terpaksa menyatakan tidak bisa memenuhi semua kontrak ekspornya karena situasi terlalu berbahaya. Pembeli minyak dari Eropa hingga Asia butuh alternatif cepat. Dan Afrika ada di sana, dengan jalur laut yang relatif aman, biaya pengiriman lebih murah, dan jarak yang masuk akal dari pasar Eropa.
Badan Energi Internasional (IEA) mencatat ini sebagai gangguan pasokan terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah pasar minyak global, sekitar 10 sampai 15 juta barel minyak per hari terkena dampaknya sekaligus. Sebagai gambaran, kebutuhan minyak Indonesia dalam sehari sekitar 1,5 juta barel. Jadi skala guncangan ini luar biasa besar.
Hasilnya harga minyak mentah dunia naik dari 69 dolar per barel di Februari 2026 menjadi 104 dolar di Maret 2026. Nigeria, Libya, Angola, Gabon, Mozambik, Namibia, dan Tanzania tiba-tiba jadi nama-nama yang paling sering disebut di ruang negosiasi energi global.
Nigeria: Pemenang besar yang setengah hati
Tidak ada negara Afrika yang nasibnya lebih kompleks dari Nigeria dalam krisis ini.
Di atas kertas, angkanya memang mengesankan. Cadangan mata uang asing Nigeria melonjak ke 50,45 miliar dolar, tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Dengan harga jual minyak di atas 100 dolar per barel sementara biaya produksinya hanya sekitar 25-40 dolar per barel, keuntungan para produsen minyak Nigeria meledak lebih dari 200 persen dibanding awal 2025.
Tapi ada masalah yang tidak bisa disembunyikan, Nigeria hanya mampu memompa 1,58 juta barel per hari di kuartal pertama 2026, jauh di bawah target pemerintah sebesar 1,84 juta barel per hari. Di saat dunia berteriak meminta lebih banyak minyak Nigeria, Nigeria justru tidak bisa memenuhinya secara penuh. Ini tragedi klasik negara kaya sumber daya yang gagal membangun kemampuan produksinya sendiri.
Ada lagi yang membuat rugi, misalnya harga bahan bakar pesawat yang naik dua kali lipat akibat perang membuat biaya operasional di ladang minyak lepas pantai Nigeria membengkak drastis. Pasalnya, satu-satunya cara mengangkut pekerja ke platform pengeboran di tengah laut adalah dengan helikopter. Berkah datang, tapi pengeluaran ikut membesar.
Satu kabar baik yang layak dicatat, Kilang Dangote, milik pengusaha terkaya Afrika, Aliko Dangote, sudah beroperasi penuh sejak Februari 2026 dengan kapasitas 650.000 barel per hari, salah satu yang terbesar di dunia. Di tengah kekacauan pasokan global, kilang ini tampil sebagai penyelamat energi kawasan yang tidak ternilai.
Peta menang-kalah di Afrika
Tidak semua negara Afrika ikut merasakan manisnya situasi ini.
Pemenang: Algeria kebanjiran pesanan gas alam cair dari Eropa bahkan Vietnam, salah satu pemenang paling bersih di benua ini. Angola dan Namibia mulai dilirik serius untuk proyek minyak lepas pantai yang selama ini tertunda. Mozambik ketiban berkah ganda: perusahaan energi raksasa TotalEnergies dari Prancis menghidupkan kembali proyek gas senilai 20 miliar dolar yang sempat mangkrak lima tahun, sementara ExxonMobil sedang menggarap proyek serupa senilai 30 miliar dolar di wilayah yang sama.
Yang menanggung beban: Kenya justru sedang pusing, jalur pengiriman bunga potong mereka ke Timur Tengah terganggu, dan kerugiannya sudah mencapai 1,4 juta dolar per pekan. Mesir terpaksa mengeluarkan aturan penutupan toko pukul 21.00 malam demi menghemat konsumsi bahan bakar. Afrika Selatan menaikkan harga bensin, tapi berusaha meredam gejolak dengan memotong pajak bahan bakar selama sebulan.
Bukan pertama kali, dan Afrika selalu kalah di babak akhir
Sejarawan ekonomi akan mengingatkan bahwa ini bukan kali pertama Afrika mendapat limpahan rezeki dari kekacauan geopolitik global dan bukan kali pertama rezeki itu menguap begitu saja.
Saat krisis minyak 1973 mengguncang dunia, beberapa negara Afrika penghasil minyak sempat kaya mendadak. Tapi apa yang terjadi setelahnya? Banyak yang jatuh ke dalam jebakan yang oleh para ekonom disebut "kutukan sumber daya" negara kaya minyak tapi rakyatnya tetap miskin, infrastrukturnya tidak maju, dan ketika harga minyak turun, ekonominya langsung oleng.
Dambisa Moyo, ekonom asal Zambia yang tulisan-tulisannya banyak mengkritik cara Afrika mengelola sumber dayanya, sudah lama menyoroti pola yang berulang ini. Banyak negara Afrika menjual sumber daya alam keluar dalam bentuk mentah tanpa membangun industri pengolahan di dalam negeri. Hasilnya, keuntungan besar mengalir ke segelintir pihak sementara rakyat biasa tidak banyak merasakan perubahan.
Afrika bukan miskin. Afrika dirampok, dan ironisnya kadang oleh tangannya sendiri. Dambisa Moyo, ekonom asal Zambia.
Pertanyaan yang lebih penting bukan seberapa banyak minyak yang terjual bulan ini, tapi apakah uang itu akan benar-benar mengubah hidup rakyat Nigeria atau Mozambik sepuluh tahun ke depan. Kalau jawabannya tidak jelas, maka krisis Timur Tengah ini hanya akan jadi anekdot menyedihkan dalam buku sejarah.
Peluang jangka panjang yang tidak boleh disia-siakan
Ada angka yang perlu dicatat baik-baik, ekspor gas alam cair dari kawasan Afrika bagian bawah Gurun Sahara diperkirakan akan naik hampir dua kali lipat pada tahun 2034. Proyek-proyek besar di Mozambik, Angola, Nigeria, dan beberapa negara lain sedang berjalan dan situasi krisis ini justru mempercepat minat investasi ke sana.
Satu proyek lama juga tiba-tiba kembali relevan, misalnya rencana membangun pipa gas raksasa dari Nigeria menembus Niger dan Aljazair untuk memasok gas langsung ke Eropa. Proyek ini sudah bertahun-tahun tidak bergerak karena tidak ada yang merasa mendesak. Sekarang, ketika Eropa mulai takut kehabisan pasokan energi, semua pihak tiba-tiba tertarik membahasnya lagi di meja perundingan.
Yang harus dilakukan Afrika sekarang
Pertama, perbaiki kemampuan produksi sebelum harga turun lagi. Nigeria tidak bisa terus gagal memenuhi target produksinya sendiri di saat permintaan sedang tinggi-tingginya. Perbaikan infrastruktur di sektor hulu harus jadi prioritas sekarang, bukan setelah krisis usai dan momentum hilang.
Kedua, bangun kilang dan industri pengolahan minyak dalam negeri. Terus-menerus menjual minyak mentah ke luar negeri adalah model lama yang menguntungkan pembeli, bukan penjual. Nilai tambah yang besar ada di proses pengolahan. Kilang Dangote sudah membuktikan ini bisa dilakukan dan perlu direplikasi di negara-negara lain.
Ketiga, pastikan uang hasil minyak masuk ke pembangunan yang dirasakan rakyat. Bukan untuk proyek-proyek besar yang lebih banyak menguntungkan kontraktor dan pejabat. Sejarah sudah terlalu banyak memberikan contoh buruk soal ini dan Afrika tidak punya banyak waktu lagi untuk mengulanginya.
Keempat, bernegosiasi bersama sebagai satu blok bukan sendiri-sendiri. Satu negara kecil yang maju sendirian ke meja negosiasi melawan perusahaan minyak raksasa multinasional hampir pasti kalah. Tapi kalau negara-negara Afrika bergerak bersama dengan posisi yang seragam, kekuatan tawarnya jauh lebih besar. Kerangka kerja sama ekonomi Afrika (AfCFTA) dan berbagai perjanjian energi antar-Afrika perlu dipercepat realisasinya.
Kelima, jangan lupakan negara-negara Afrika yang sedang kesulitan. Solidaritas di dalam benua sendiri harus diwujudkan secara nyata, bukan sekadar slogan di forum-forum internasional. Mekanisme untuk saling bantu pasokan dan subsidi antar-negara Afrika harus dibahas serius sebelum krisis ini selesai.
Selat Hormuz mungkin akan dibuka lagi suatu hari nanti. Harga minyak akan turun kembali. Para pembeli dari Eropa dan Asia akan mulai mencari sumber lain yang lebih murah. Tapi saat ini, ada jendela peluang yang terbuka lebar dan jendela seperti ini jarang sekali datang dua kali dalam satu generasi.
Afrika punya sumber dayanya. Yang selama ini kurang adalah kemauan politik dan keberanian untuk benar-benar mengubah berkah itu menjadi fondasi yang tahan lama bukan sekadar angka ekspor yang bagus di atas kertas. Pertanyaannya bukan bisa atau tidak. Tapi mau atau tidak.
