Konten dari Pengguna

Dari Scroll Jadi Cuan: Fenomena Jualan Lewat Live Streaming

Lalu Rifki Safero

Lalu Rifki Safero

Mahasiswa aktif Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lalu Rifki Safero tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa sangka, aktivitas scroll TikTok yang awalnya sekadar hiburan kini bisa jadi ladang cuan—bukan hanya bagi pembeli, tapi juga penjual. Fenomena jualan lewat live streaming tengah naik daun dan mengubah cara orang berbisnis di era digital.

Ilustrasi Jualan Lewat Live Streaming (Sumber: https://freepik.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Jualan Lewat Live Streaming (Sumber: https://freepik.com)

Dulu, pedagang harus membuka toko fisik, menunggu pembeli datang, dan bersaing dengan puluhan toko sebelah. Sekarang? Cukup bermodal kamera depan ponsel, lampu ring, dan produk menarik, siapa pun bisa jadi penjual online—langsung dari kamar tidur.

Live Streaming: Toko Virtual di Genggaman

Fenomena ini dikenal sebagai live commerce. Di Indonesia, tren ini mulai meledak sejak platform seperti TikTok Shop, Shopee Live, hingga Lazada Live gencar mengembangkan fitur siaran langsung interaktif.

Penjual bisa berinteraksi langsung dengan penonton, menjelaskan produk secara real-time, memberikan diskon terbatas, bahkan menjawab pertanyaan pembeli secara spontan. Hasilnya? Transaksi terasa lebih personal, cepat, dan impulsif.

Mengapa Live Streaming Laris Manis?

Ada beberapa alasan mengapa jualan live begitu efektif:

  1. Real-time dan interaktif: Pembeli merasa seolah-olah sedang ngobrol langsung dengan penjual, bukan sekadar melihat katalog.

  2. Rasa urgensi: Penjual sering membuat promo terbatas saat live—"Diskon hanya selama live!"—yang membuat pembeli tergoda untuk cepat checkout.

  3. Tingkat kepercayaan lebih tinggi: Produk dilihat secara langsung, dibuka, dicoba, dan ditunjukkan dari berbagai sudut.

Live streaming menggabungkan hiburan dan transaksi. Tak jarang, banyak penonton menonton live bukan untuk belanja, tapi karena gaya penjualnya yang lucu, seru, atau bahkan dramatis. Namun tanpa sadar, mereka akhirnya membeli juga.

Bukan Sekadar Tren, tapi Strategi Bisnis Baru

Fenomena ini bukan hanya tren sesaat. Beberapa brand besar bahkan mulai membentuk tim khusus untuk live selling, lengkap dengan host profesional, jadwal tayang, dan strategi pemasaran yang matang.

Di sisi lain, muncul juga fenomena “host live” freelance, yaitu orang yang dibayar untuk tampil dan menjualkan produk lewat live. Profesi baru ini semakin dicari karena terbukti mendongkrak penjualan.

Namun, tidak semua berjalan mulus. Tantangan tetap ada, seperti:

  • Kompetisi antarpenjual yang semakin sengit.

  • Ketergantungan pada algoritma platform.

  • Butuh stamina dan konsistensi tinggi—jualan live bisa berlangsung berjam-jam.

Siapakah yang Paling Diuntungkan?

Fenomena ini paling menguntungkan bagi:

  • UMKM yang ingin menjangkau pasar lebih luas tanpa biaya besar.

  • Kreator konten yang bisa memonetisasi audiens-nya.

  • Konsumen, karena banyak penawaran eksklusif hanya tersedia saat live.

Meski begitu, pelaku usaha perlu bijak. Harga bukan satu-satunya kunci. Kredibilitas, konsistensi, dan kreativitas dalam menyajikan konten tetap menjadi faktor utama dalam mempertahankan pelanggan.

Akhir Kata: Era Dagang Sudah Berubah

Dari pasar tradisional, ke toko online, kini kita memasuki era jualan via kamera depan. Dunia dagang bukan lagi soal tempat, tapi soal cara menghadirkan pengalaman. Dan live streaming adalah jawabannya.

Karena sekarang, dari scroll bisa jadi cuan—asal tahu cara mainnya.