Rahasia di Balik Kesuksesan Ekonomi Jepang Pasca Kekalahan di Perang Dunia II

Asya Herliana Pramesti
Fakultas Ilmu Budaya UNAIR Mahasiswa Studi Kejepangan
Konten dari Pengguna
24 Oktober 2023 19:03 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Asya Herliana Pramesti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seorang wanita jepang berdiri di atas reruntuhan rumahnya pasca perang dunia II. Foto: PhotoTalk/iStock
zoom-in-whitePerbesar
Seorang wanita jepang berdiri di atas reruntuhan rumahnya pasca perang dunia II. Foto: PhotoTalk/iStock
ADVERTISEMENT
Pada Perang Dunia II Jepang dengan pahit menelan berita kekalahannya saat suara dari kaisar yang tak pernah sekalipun didengar oleh rakyat bergaung melalui siaran radio untuk membawa berita bahwa Jepang telah menyerah. Perang berakhir dan Jepang harus bangkit dalam kondisi keuangan yang begitu menyedihkan.
ADVERTISEMENT
Perlu diketahui bahwa Jepang telah menggelontorkan banyak sekali dana untuk kepentingan perang. Pada satu titik nyaris semua pabrik yang ada dialihfungsikan untuk membuat senjata serta amunisi. Maka dari itu, setelah kekalahan, Jepang seakan-akan dipaksa untuk kembali ke titik nol.
Salah satu pukulan terbesar bagi mereka adalah jatuhnya bom atom di dua kota besar Jepang, yaitu Hiroshima dan Nagasaki. Bukan hanya terpuruk karena jutaan orang terenggut nyawanya dalam tragedi itu, rakyat Jepang yang tersisa pun menjadi was-was dengan nasib mereka di masa depan.
Jangan-jangan kekalahan ini merupakan awal mula dari kehancuran mereka yang sesungguhnya. Namun bagi beberapa orang, hal ini justru dilihat sebagai sebuah pertanda untuk memulai sebuah era yang baru.
ADVERTISEMENT
Tak lama setelah Jepang menyatakan kalau mereka menyerah, negara sekutu dipimpin oleh Amerika mulai menyebarkan pengaruhnya di negara matahari terbit tersebut. Mereka hendak melakukan beberapa upaya supaya Jepang tak lagi berani untuk melawan mereka di masa depan.
Salah satu siasat yang dilakukan ialah meminjamkan sejumlah uang yang bisa dimanfaatkan oleh Jepang untuk membangun kembali negaranya. Strategi penyuntikan dana ini kurang lebih sama dengan Marshall Plan yang Amerika praktikkan di negara Eropa.
Dengan menerima dana tersebut memang membuat Jepang jadi terikat dengan Amerika Serikat dan negara sekutu, tapi di sisi lain mereka bisa memanfaatkannya untuk memperbaiki kondisi ekonomi yang sedang terpuruk.
Pemerintah Jepang pun dengan cepat mulai memperbaiki kembali infrastruktur negara dan memodernisasi sektor industri yang masih bertahan. Karena memiliki banyak tenaga kerja yang terpelajar Jepang membangun kerajaan ekonominya melalui industri teknologi. Berfokus pada inovasi di sektor otomotif, elektronik, dan manufaktur lainnya membawa Jepang ke garis depan dalam revolusi industri global.
ADVERTISEMENT
Walaupun Jepang memiliki sumber daya alam yang terbatas dan nyaris semua bahan baku harus mengimpor dari negara lain, namun mereka dapat dengan lihai memanfaatkan kelemahan ini dengan membuktikan bahwa mereka tetap unggul karena mampu mengubah bahan baku itu menjadi sesuatu yang luar biasa.
Sektor industri Jepang selalu memproduksi barang berkualitas tinggi dengan biaya produksi yang efisien. Hal ini membuat banyak negara mulai tergiur untuk membeli barang dari sana. Melalui peluang ini Jepang pun mulai melakukan ekspor dalam jumlah yang besar.
Pada era tersebut bisa dipastikan nyaris semua barang elektronik pasti berasal dari pabrik Jepang. Sony, Panasonic, Toshiba dan Casio merupakan beberapa di antara brand elektronik yang masih eksis di seluruh dunia sampai sekarang.
Pelabuhan di Yokohama tempat ekspor dan impor. Foto: kanzilyou/iStock
Jepang melakukan semua hal itu bukan berarti tanpa tantangan. Pada tahun awal 1950 terdapat konflik antara para karyawan serta pihak perusahaan. Hal ini sebenarnya juga tak terelakkan karena mereka tengah berusaha beradaptasi dengan sistem yang baru.
ADVERTISEMENT
Pada mulanya perusahaan memang menekan biaya produksi sebisa mungkin supaya keuntungan bisa lebih maksimal. Namun hal ini membuat para pekerja tak puas. Mereka menganggap lingkungan perusahaan yang tidak layak akan merugikan mereka, apalagi untuk orang-orang yang bekerja di lapangan.
Karena tekanan dari pihak pekerja tak kunjung berakhir akhirnya kebijakan pun diubah. Pada akhirnya hal ini segera diperbaiki dan beberapa perusahaan juga membuat sistem kontrak karyawan jangka panjang.
Tanpa disangka-sangka ini justru membuat perekonomian lebih cepat berkembang. Karena mendapatkan kenaikan gaji kini para karyawan jadi lebih banyak membelanjakan uangnya. Hal ini memiliki pengaruh yang signifikan dalam perputaran uang di Jepang.
Selain itu, mereka juga berjanji akan bekerja keras serta mendedikasikan hidupnya pada perusahaan bila tuntutan mereka didengarkan. Sampai sekarang hal ini masih terlihat dalam budaya kerja Jepang.
ADVERTISEMENT
Tak berhenti sampai di situ, setelah berhasil memantapkan posisi di rantai perekonomian dunia sebagai penyuplai barang elektronik dan lokomotif, Jepang dengan cermat mengolah uang yang telah mereka dapat supaya tak terbuang sia-sia.
Sebagian besar uang tersebut mereka gunakan untuk membangun infrastuktur yang hancur setelah perang dan membangun sebuah sistem transportasi yang canggih. Belajar dari pengalaman saat perang, mereka menyadari pentingnya sistem logistik dalam perdagangan. Di masa inilah gagasan pengembangan shinkansen muncul.
Stasiun shinkansen di Tokyo. Foto:Eloi_Omella/iStock
Tokaido shinkansen secara resmi beroperasi mulai dari tahun 1964. Sampai saat ini sebanyak 65 persen dari total penumpang rute tokaido shinkansen tiap tahunnya adalah karyawan serta pebisnis. Tokaido shinkansen menghubungkan Tokyo, Nagoya dan Osaka.
Ketiga daerah ini merupakan pusat industri paling besar di Jepang. Dengan adanya rute ini makin banyak anak muda serta para ahli yang tertarik untuk bekerja di pusat industri. Hal ini mendorong produktivitas di Jepang secara keseluruhan.
ADVERTISEMENT
Pertumbuhan ekonomi Jepang kemudian berkembang pesat hingga tahun 1990, di mana pada saat itu mereka telah menduduki peringkat tiga negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia.
Terhitung sejak kekalahan mereka pada tahun 1945, butuh setidaknya 45 tahun bagi Jepang untuk menjadi negara yang kita kenal sekarang. Bagaimana Jepang bisa melakukannya dalam waktu yang sungguh singkat bukanlah hasil dari keajaiban, tapi kerja keras.
Shibuya, salah satu distrik paling sibuk di Jepang. Foto: MarsYu/iStock
Dalam kurun waktu itu nyatanya keadaan Jepang tak sepenuhnya stabil, malahan penuh dengan tantangan. Terjadi banyak sekali perubahan dalam sistem kenegaraan dan sosial di Jepang setelah mereka kalah dari perang. Perubahan-perubahan ini bersifat kontinu dan kuantitatif.
Maka tidaklah mungkin suatu negara bisa menghadapinya apabila mereka tak saling bekerja sama demi satu tujuan yang sama. Kesuksesan Jepang bukan merupakan hasil dari kebijakan khusus pemerintah atau beberapa pencapaian heroik saja, tetapi merupakan hasil dari upaya-upaya kumulatif masyarakat dalam memperjuangkan negaranya.
ADVERTISEMENT