Surat untuk Masa Lalu

mahasiswa Pendidikan Dokter UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2025
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Lulu Marsha Ariftha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Aku ngetik ini pukul 23.00 WIB, sambil dengerin rintik hujan yang tidak berhenti sejak tadi sore. Bukan karena galau, bukan ingin balikan.

Kita pisah bukan karena benci, itu yang paling berat sebenarnya. Kalau ada yang terlihat salah, mungkin itu lebih mudah. Aku bisa marah, bisa menyalahkan sesuatu, bisa move on dengan dramatis. Tapi kenyataannya? Kita hanya dua orang yang sama-sama memiliki mimpi, jalannya pelan-pelan mengarah ke titik yang berbeda. Kamu ke lagit, literally dengan pelatihan penerbangan kamu itu, dan aku ke kota lain dengan hidup yang juga nggak bisa nunggu.
Jarak itu nyata, dan kita sama-sama tahu.
Nggak ada yang salah, nggak ada yang menang. Kita hanya... selesai.
Yang susah itu bukan saat kita bilang selamat tinggal.
Yang susah itu setelahnya, waktu aku lagi stuck, overthinking sampai kepala mau meledak, dan refleks pertamaku adalah... mau chat kamu. Tapi nomormu, sudah tidak ada di ponselku lagi.
Aku hanya berdiri didepan jendela sambil dengarin rintik hujan dan terkadang teringat suaramu waktu bilang:
"Hidup itu seperti mancing, lempar umpan, sabar dan nikmati anginnya."
Sialnya, kata-katamu masih hidup di kepalaku. Bahkan setelah kamu sendiri sudah lama pergi.
Sembilan bulan berlalu, dua tahun aku mulai memulai kehidupan baru tanpa kamu di dalamnya. Hal yang dulu sering kamu sebut-sebut, soal pengen ninggalin jejak yang berarti, bukan sekadar kejar jabatan atau angka di rekening.
Aku melakukannya sekarang.
Lucu ya, justru setelah kita pisah, aku perlahan jadi versi diriku yang dulu kamu percaya bisa aku raih. Seperti kamu sudah nanem sesuatu dalam diam, dan aku baru sadar tunasnya tumbuh setelah kamu sudah pergi dariku.
Kamu harusnya bangga.
"Tapi kamunya nggak ada disini buat tau"
Waktu mau lulus SMA dulu, waktu aku hancur dikecewakan teman sekelas, kamu datang bawa susu strawberry dan duduk di sebelahku tanpa banyak tanya. Kamu cuma bilang pelan:
"Kesedihan itu bukan akhir. Itu pupuk buat mimpi berikutnya."
Aku nggak lupa itu, Diel. Nggak akan pernah. Dan sekarang, kalimat itu aku pakai juga untuk ngikhlaskan kamu.
Aku sudah baik-baik saja sekarang, beneran.
Bukan karena aku sudah nggak sayang, tapi karena aku akhirnya ngerti bahwa beberapa hal memang dirancang untuk indah di waktunya, bukan untuk selamanya. Kita adalah dua orang yang saling menguatkan di babak yang tepat, lalu masing-masing melanjutkan ceritanya sendiri, dan itu bukan hal yang sedih.
"Itu justru... indah, dengan caranya sendiri."
Ini surat pertamaku untukmu, nggak pernah terkirim dan memang nggak perlu dikirim, abadi di kumparan jikalau terpublish, "semoga suatu saat kamu membacanya, walaupun tidak tahu aku yg menulis".
Terima kasih untuk semua yang pernah kamu ajarkan. Untuk susu strawberry dan buket bunga plastik yang masih kusimpan hingga saat ini dipojok kamarku. Buat senyum lebar yang sampai sekarang masih aku ingat dengan sangat jelas.
Terbang tinggi dengan mimpimu ya, Diel.
Aku di sini juga lagi belajar terbang dengan caraku sendiri. Dan untuk pertama kalinya, aku nggak takut.
-Seseorang yang akhirnya bisa tersenyum mengingatmu.
