Anak Muda Asia Menganggur: Krisis atau Peluang di Tengah Tren Global?

I am a management lecturer at the Faculty of Economics Mulawarman University. In addition to teaching, I also have a passion for writing and conducting research.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Lusiana Desy Ariswati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah tren global yang menggembirakan dimana angka pengangguran anak muda dunia turun ke titik terendah dalam 15 tahun terakhir, mencapai 12,8% pada 2024 menurut International Labour Organization (ILO), Asia justru menjadi pengecualian yang mencemaskan. Benua ini, dengan populasi anak muda terbesar di dunia, menghadapi krisis pengangguran yang membuat banyak negara di kawasan ini terpuruk, bahkan menjadi beban di Asia Tenggara. Apa yang salah? Dan mengapa anak muda, yang seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi, justru terjebak dalam lingkaran unemployment?

Krisis di Tengah Angka Global yang Cerah
Menurut laporan ILO Agustus 2024, angka pengangguran anak muda secara global berada di 13% pada 2023, terendah sejak awal milenium. Namun, Asia menonjol dengan angka yang jauh lebih tinggi. Negara-negara Arab memimpin dengan 28,6% anak muda menganggur, diikuti Afrika Utara (22,5%). Di Asia Selatan, dengan populasi lebih dari 2 miliar jiwa (setengahnya di bawah 24 tahun) setiap hari 100 ribu anak muda baru memasuki pasar kerja, menciptakan persaingan sengit. Sementara itu, Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mencatat angka lebih baik di 9,8%, tetapi tetap menghadapi tantangan besar.
Mengapa Anak Muda Asia Sulit Dapat Kerja?
Penyebabnya kompleks. Di negara-negara Arab, Brookings Institution menyebutkan tingginya pengangguran bukan hal baru, selama lebih dari 30 tahun, wilayah ini konsisten menduduki peringkat tertinggi dunia. Pertumbuhan populasi yang cepat, hingga dua kali lipat lebih tinggi dari rata-rata global, menciptakan ledakan jumlah anak muda. Sayangnya, ini tidak diimbangi dengan lapangan kerja yang memadai. Pendidikan rendah, kurangnya skill yang relevan, konflik di beberapa negara, dan kesenjangan gender menjadi pemicu. World Population Review mencatat, di wilayah Middle East and North Africa (MENA), pengangguran perempuan muda bahkan dua kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Selain itu, banyak anak muda di negara Arab menolak pekerjaan yang dianggap kurang prestisius, menunggu dream job yang sulit didapat karena skill mismatch. Menurut IMF, perusahaan sering kali memilih kandidat dengan keterampilan terbaik, sementara banyak pelamar muda kurang memenuhi syarat. Diversifikasi ekonomi yang lemah juga memperparah minimnya peluang kerja berkualitas.
Di Asia Selatan, tantangannya tak kalah berat. Dengan 100 ribu anak muda masuk pasar kerja setiap hari, persaingan sangat ketat. Banyak yang terjebak dalam Not in Education, Employment, or Training (NEET), istilah yang mencakup mereka yang tidak bekerja, tidak sekolah, atau tidak dalam pelatihan. Indonesia, sebagai bagian dari ASEAN, menghadapi masalah serupa, meski angka penganggurannya lebih rendah dibandingkan subwilayah Asia lainnya.
Asia Tenggara: Cahaya di Ujung Terowongan?
Menariknya, Asia Tenggara menunjukkan performa lebih baik dengan angka pengangguran 9,8%, lebih rendah dari rata-rata global. Faktor seperti pertumbuhan ekonomi yang stabil di beberapa negara ASEAN, investasi asing, dan sektor jasa yang berkembang membantu menciptakan peluang. Namun, tantangan seperti skill mismatch dan kualitas pendidikan masih menghambat potensi penuh anak muda.
Peluang di Tengah Krisis
Krisis ini bukan tanpa harapan. Pemerintah di berbagai negara Asia mulai bertindak, dari program pelatihan skill hingga insentif untuk sektor swasta. Di Indonesia, misalnya, inisiatif seperti Kartu Prakerja berupaya meningkatkan keterampilan anak muda. Namun, untuk mengubah beban menjadi aset, diperlukan langkah besar: reformasi pendidikan, diversifikasi ekonomi, dan kebijakan yang mendukung kesetaraan gender.
Apa Selanjutnya?
Krisis pengangguran anak muda di Asia adalah wake-up call. Generasi muda adalah masa depan, tetapi tanpa lapangan kerja yang memadai dan keterampilan relevan, potensi mereka terbuang sia-sia. Akankah Asia mampu mengubah tantangan ini menjadi peluang? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi langkah harus dimulai sekarang.
Cerita pengangguran anak muda Asia adalah cerminan tantangan global dan lokal. Dengan langkah strategis, krisis ini bisa jadi peluang untuk membangun generasi yang lebih kuat. Bagaimana menurut Anda? Apa solusi terbaik untuk anak muda Asia?
