Konten dari Pengguna

“Hidup Cuma Sekali”: Doom Spending, dan Kebiasaan Belanja Gen Z

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lusiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih, lagi capek atau stres terus tiba-tiba buka TikTok atau Shopee, lihat barang lucu, dan akhirnya checkout? Padahal sebelumnya nggak ada niat beli sama sekali. Alasannya sederhana, “Udahlah, beli aja. Hidup cuma sekali.”

Kebiasaan seperti ini ternyata bukan sekadar belanja impulsif biasa. Ada istilah yang sering digunakan untuk menggambarkannya, yaitu doom spending.

Apa Itu Doom Spending?

Doom spending adalah kebiasaan mengeluarkan uang untuk mendapatkan kesenangan sesaat ketika sedang merasa stres, cemas, atau pesimis dengan keadaan.

Contohnya sederhana. Lagi banyak tugas, checkout makanan. Lagi capek kerja, beli baju. Lagi bad mood, tiba-tiba keranjang belanja yang sudah lama didiamkan langsung dibayar.

Rasanya memang menyenangkan, apalagi ketika muncul notifikasi “pesanan berhasil dibuat”. Tapi beberapa hari kemudian, bisa saja muncul pikiran, “Ngapain kemarin gue beli ini?”

Ilustrasi seseorang melakukan doom spending dengan berbelanja online sebagai pelarian saat merasa lelah dan stres. (Sumber: Ilustrasi AI)

Kenapa Gen Z Rentan Mengalaminya?

Sekarang belanja memang jauh lebih mudah. Nggak perlu keluar rumah atau datang langsung ke toko. Cukup buka HP, pilih barang, bayar, lalu tinggal menunggu paket datang.

Media sosial juga membuat godaan belanja ada di mana-mana. Lagi scroll TikTok ketemu konten racun belanja, buka Instagram muncul produk yang sedang tren, lalu masuk marketplace ada flash sale dan gratis ongkir.

Belum lagi kalimat seperti “diskon tinggal 10 menit”, “stok hampir habis”, atau “harga khusus live”. Hal-hal kecil seperti ini bisa membuat kita merasa harus membeli sekarang juga.

Self Reward atau Doom Spending?

Self reward sebenarnya nggak salah. Sesekali membeli makanan favorit atau barang yang sudah lama diinginkan setelah bekerja keras tentu boleh.

Masalahnya muncul ketika belanja selalu dijadikan jalan keluar setiap kali sedang stres.

Capek, checkout. Sedih, checkout. Bosan, checkout. Baru gajian, checkout lagi.

Kalau terus dilakukan, pengeluaran kecil yang awalnya terasa sepele bisa menumpuk. Apalagi sekarang ada berbagai metode pembayaran yang membuat proses belanja terasa semakin mudah.

Ilustrasi fenomena FOMO (Fear of Missing Out) yang membuat seseorang terdorong mengikuti tren dan membeli barang yang sedang populer. Foto: Ilustrasi AI

FOMO Juga Bisa Bikin Dompet Kering

Pernah nggak sebenarnya biasa saja dengan suatu barang, tapi setelah berkali-kali melihatnya di media sosial malah jadi ingin punya?

Inilah salah satu pengaruh tren dan FOMO atau fear of missing out. Ketika suatu produk sedang ramai digunakan, kita bisa merasa tertinggal kalau belum memilikinya.

Mulai dari pakaian, skincare, tumbler, sepatu, sampai makanan viral. Kadang yang dibeli bukan karena benar-benar dibutuhkan, tetapi karena semua orang sepertinya sedang punya.

“Hidup Cuma Sekali”, Tapi Jangan Sampai Menyesal

Menikmati uang hasil kerja sendiri tentu bukan sesuatu yang salah. Kita juga nggak harus terus-terusan menabung sampai lupa menikmati hidup.

Tapi sebelum menekan tombol checkout, mungkin bisa bertanya sebentar ke diri sendiri: “Aku benar-benar butuh ini, atau cuma lagi stres dan pengen beli sesuatu?”

Memberikan jeda satu atau dua hari sebelum membeli juga bisa membantu. Kalau setelah beberapa hari barang tersebut masih terasa penting, mungkin memang layak dibeli. Kalau sudah nggak tertarik, berarti kita baru saja menyelamatkan isi dompet.

Karena “hidup cuma sekali” memang benar. Tapi tanggal tua juga datang setiap bulan.