Konten dari Pengguna

Niat Nagih Utang, Malah Dapat Cerita Sedih: Dilema Jadi Orang Nggak Enakan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lusiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih, udah niat nagih utang karena kebetulan lagi butuh uangnya, tapi pas ditagih malah jadi nggak enakan sendiri?

Awalnya cuma mau chat sederhana, “Eh, yang kemarin kira-kira kapan bisa dibalikin?” Harapannya dapat jawaban yang jelas. Entah besok, minggu depan, atau tanggal sekian.

Tapi ternyata jawabannya malah panjang.

“Belum bisa nih, kemarin uangnya kepake buat kebutuhan rumah.”

Belum selesai sampai situ. Ceritanya lanjut ke masalah kerjaan, kebutuhan keluarga, pengeluaran mendadak, dan berbagai hal lainnya. Niat awal cuma mau nagih, malah berakhir jadi tempat curhat.

Ilustrasi rasa nggak enakan saat menagih utang. Foto: Ilustrasi/AI

Mau Nagih, Tapi Jadi Nggak Tega

Kalau termasuk orang yang nggak enakan, situasi kayak gini pasti bikin serba salah.

Sebelum nagih mungkin udah yakin, “Pokoknya kali ini harus dibalikin.” Tapi setelah dengar ceritanya, rasa kesal yang tadi ada malah berubah jadi kasihan.

Mau tetap nagih rasanya nggak tega. Tapi mau bilang “yaudah nanti aja”, kita sendiri sebenarnya lagi butuh.

Akhirnya kalimat yang keluar malah, “Yaudah, kalau udah ada kabarin aja.”

Setelah itu baru kepikiran, tadi sebenarnya siapa yang lagi butuh uang?

Padahal Cuma Minta Uang Sendiri

Aneh memang, nagih utang kadang rasanya lebih berat daripada saat minjemin uang.

Takut dianggap perhitungan, takut bikin hubungan jadi nggak enak, atau takut orang yang ditagih merasa kita nggak memahami kondisinya.

Padahal kita bukan lagi minta uang orang lain. Kita cuma minta uang sendiri yang sebelumnya dipinjam.

Apalagi kondisi seseorang bisa berubah. Waktu minjemin mungkin kita lagi punya uang lebih. Beberapa minggu kemudian, bisa jadi justru kita yang sedang membutuhkannya.

Nggak Enakan Boleh, Tapi Tetap Ada Batasnya

Punya rasa kasihan tentu bukan hal yang salah. Apalagi kalau yang meminjam adalah teman atau orang terdekat.

Tapi memahami keadaan orang lain bukan berarti harus mengabaikan kebutuhan sendiri.

Nagih utang juga nggak otomatis bikin kita jadi orang jahat atau nggak punya empati. Kita tetap bisa memberikan waktu sambil meminta kepastian kapan uang tersebut akan dikembalikan.

Karena kalau setiap nagih selalu berakhir dengan rasa nggak enakan, lama-lama yang punya utang tenang, sementara yang punya uang malah bingung gimana cara minta uangnya sendiri.

Belum Lagi Kalau yang Ngutang Malah Lebih Galak

Nah, ini yang lebih bikin bingung.

Ada juga orang yang ketika ditagih justru lebih galak daripada yang punya uang.

Baru ditanya baik-baik, jawabannya udah ketus.

“Kan gue bilang nanti.”

“Baru segitu aja ditagih terus.”

Atau malah bikin kita merasa bersalah karena berani nanyain uang sendiri.

Padahal kalau dipikir-pikir, siapa yang sebenarnya punya utang?

Yang minjem uang dia, yang nunggu kita, tapi yang harus hati-hati ngomong juga kita. Kadang sampai harus mikirin susunan chat supaya nggak bikin dia tersinggung.

Aneh, tapi kejadian kayak gini ternyata cukup sering ditemui.

Ilustrasi saat menagih utang justru mendapat respons yang kurang menyenangkan, hingga membuat orang yang menagih merasa serba salah. Foto: Ilustrasi/AI

Dari Utang, Ujung-ujungnya Jadi Lost Contact

Yang awalnya cuma masalah pinjam uang, kadang malah bisa merembet ke hubungan pertemanan.

Awalnya masih sering ngobrol seperti biasa. Tapi setelah beberapa kali ditagih, mulai jarang balas chat. Ketemu jadi canggung, komunikasi makin sedikit, bahkan ada yang sengaja menghindar.

Di sisi lain, yang minjemin juga lama-lama kesel. Bukan cuma karena uangnya belum balik, tapi karena merasa kepercayaannya nggak dihargai. Apalagi kalau setiap ditagih malah dikasih alasan, dibales ketus, atau justru kita yang dibuat merasa bersalah.

Dari situ mulai muncul rasa kecewa. Yang satu merasa terus ditagih, yang satu lagi merasa terus dihindari. Padahal kalau dari awal sama-sama terbuka dan ada kepastian, mungkin masalahnya nggak perlu sampai sejauh itu.

Yang tadinya teman dekat, lama-lama jadi asing. Chat berhenti, saling menjauh, bahkan bisa sampai saling benci dan akhirnya lost contact.

Sayang banget kalau hubungan yang sudah dibangun lama akhirnya rusak cuma gara-gara utang yang sebenarnya bisa dibicarakan baik-baik.

Kadang yang hilang karena utang bukan cuma uang, tapi juga kepercayaan dan pertemanan.