Tren Cardigan dan Thrifting: Kenapa Baju Bekas Banyak Diminati Kalangan GenZ?
Tulisan dari Lusiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Belakangan ini, cardigan kembali sering terlihat dalam berbagai gaya berpakaian anak muda. Mulai dari cardigan rajut polos, motif garis, oversized, hingga model vintage, semuanya mudah ditemukan dalam inspirasi outfit di media sosial. Namun, bukan hanya cardigan baru yang dicari. Banyak anak muda justru memilih berburu cardigan dan berbagai jenis outer lainnya melalui thrift.

Thrifting sendiri bukan lagi hal yang asing di kalangan Gen Z. Berburu pakaian bekas kini bahkan menjadi kegiatan yang menarik bagi sebagian orang. Padahal, barang yang dibeli sebelumnya sudah pernah digunakan. Lalu, apa yang membuat pakaian thrift tetap banyak diminati?
Cardigan dan Outer Lama Kembali Dilirik
Tren fashion memang sering berputar. Model pakaian yang pernah populer pada masanya bisa kembali diminati setelah beberapa tahun. Cardigan menjadi salah satu contohnya.
Selain cardigan, berbagai outer seperti sweater, jaket denim, hoodie, vest rajut, hingga jaket bergaya vintage juga masih banyak digunakan. Outer seperti ini cukup mudah dipadukan dengan pakaian sederhana dan bisa memberikan tampilan yang berbeda tanpa perlu menggunakan terlalu banyak aksesori.
Menariknya, model-model tersebut cukup banyak ditemukan saat thrifting. Bahkan, beberapa pakaian lama justru memiliki desain, motif, atau potongan yang sulit ditemukan pada koleksi pakaian baru.
Harganya Lebih Terjangkau
Harga menjadi salah satu alasan yang membuat pakaian thrift menarik bagi Gen Z. Dengan budget yang lebih terbatas, seseorang tetap bisa mendapatkan pakaian yang sesuai dengan gaya mereka tanpa harus membeli semuanya dalam kondisi baru.
Hal ini cukup terasa ketika mencari outer. Cardigan rajut, sweater, atau jaket baru terkadang memiliki harga yang cukup tinggi. Sementara di tempat thrift, barang serupa bisa ditemukan dengan harga lebih murah selama kita mau meluangkan waktu untuk mencarinya.
Tidak jarang juga pembeli menemukan pakaian dari brand tertentu dengan kondisi yang masih bagus tetapi dijual dengan harga yang lebih terjangkau.
Media Sosial Ikut Mendorong Tren Thrifting
Sekarang, berburu pakaian thrift juga semakin mudah karena banyak penjual yang menjual barangnya melalui live TikTok, Instagram, Shopee. Cardigan, sweater, jaket, hingga berbagai outer lainnya ditampilkan satu per satu secara langsung, lengkap dengan ukuran dan kondisi barang. Pembeli pun bisa bertanya melalui kolom komentar sebelum memutuskan membeli
Cara belanja ini cukup menarik bagi Gen Z karena lebih praktis dan interaktif. Apalagi barang thrift biasanya hanya tersedia satu, sehingga pembeli harus cepat ketika menemukan barang yang disukai. Tanpa harus datang langsung ke toko, berburu pakaian thrift sekarang bisa dilakukan hanya melalui layar ponsel.
Sensasi “War” Saat Live Thrift
Salah satu hal yang membuat belanja thrift lewat live terasa lebih seru adalah adanya “war” antar pembeli. Berbeda dengan pakaian baru yang biasanya memiliki banyak stok, barang thrift sering kali hanya tersedia satu untuk setiap model. Jadi, ketika penjual menunjukkan cardigan, sweater, atau jaket yang menarik, pembeli harus cepat melakukan claim sebelum didahului orang lain.
Situasi ini membuat live thrift terasa seperti berburu barang secara langsung. Apalagi kalau barang yang ditawarkan memiliki model bagus, kondisi masih mulus, atau berasal dari brand tertentu dengan harga murah. Kolom komentar bisa langsung ramai oleh pembeli yang ingin mendapatkan barang yang sama. Sensasi berebut dan takut kehabisan inilah yang membuat sebagian orang betah mengikuti live thrift.
Model Unik dan Tidak Terlalu Pasaran
Bagi sebagian anak muda, pakaian bukan hanya kebutuhan, tetapi juga menjadi salah satu cara menunjukkan gaya masing-masing. Karena itu, pakaian yang unik dan tidak terlalu pasaran memiliki daya tarik tersendiri.
Di tempat thrift, barang yang tersedia biasanya sangat beragam dan jumlahnya terbatas. Satu cardigan atau jaket yang ditemukan belum tentu memiliki model yang sama dengan barang lainnya.
Inilah yang membuat thrifting terasa berbeda dengan berbelanja di toko pakaian biasa. Pembeli bisa menemukan model vintage, warna yang unik, motif lama, atau potongan pakaian yang justru kembali cocok dengan tren sekarang.
Bekas Tidak Berarti Kehilangan Gaya
Tentu saja, membeli pakaian bekas tetap membutuhkan ketelitian. Kondisi bahan, noda, jahitan, kancing, hingga resleting perlu diperiksa sebelum membeli. Pakaian thrift juga perlu dicuci dan dibersihkan dengan baik sebelum digunakan.
Namun, status sebagai pakaian bekas ternyata tidak selalu mengurangi daya tariknya. Tren cardigan dan berbagai outer lainnya menunjukkan bahwa pakaian lama masih bisa terlihat menarik ketika dipadukan dengan gaya masa kini.
Bagi Gen Z, thrifting akhirnya bukan hanya soal mencari pakaian murah. Model yang unik, harga terjangkau, pengaruh media sosial, serta pengalaman mencari barang menjadi beberapa alasan mengapa baju bekas masih banyak diminati.
Fashion memang terus berubah, tetapi satu hal yang menarik dari tren thrift adalah bagaimana pakaian lama bisa mendapatkan kesempatan untuk kembali digunakan. Cardigan atau jaket yang mungkin pernah menjadi tren bertahun-tahun lalu, sekarang bisa kembali menjadi bagian dari gaya generasi yang berbeda.

