Menelusuri Keunikan Jam Gadang

Saya merupakan seorang mahasiswa Universitas Padjajaran prodi Televisi dan Film
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Luthfi Mubaraq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bukittinggi merupakan sebuah kota yang terletak di provinsi Sumatera Barat. Kota ini sangat terkenal dengan destinasi wisatanya yang sangat beragam. Objek wisata yang melimpah menjadi daya tarik di daerah ini seperti Jam Gadang, Benteng Fort de Cock, Lobang Jepang, Ngarai Sianok, dan masih banyak lagi destinasi wisata lainnya. Dengan banyaknya destinasi wisata ini kota bukittinggi sering juga disebut sebagai kota wisata.
Di antara banyaknya objek wisata tersebut terdapat objek wisata yang sangat ikonik di kota Bukittinggi yaitu Jam Gadang. Jam Gadang merupakan destinasi wisata yang menjadi landmark dari kota Bukittinggi. Jam Gadang ini memiliki empat sisi yang di setiap sisinya terdapat jam dengan ukuran besar oleh karena itu dinamakan Jam Gadang. Kata Jam Gadang berasal dari Minangkabau yang berarti “jam besar”.
Pembangunan Jam Gadang tidak memakai besi dan semen. Pembangunan jam gadang rampung pada tahun 1926 yang merupakan sebuah hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker sekretaris dari Fort de Kock (sekarang dikenal Bukittinggi) pada zaman Hindia Belanda. Desain dari bangunan Jam Gadang ini, merupakan rancangan dari Yazid Rajo Mangkuto, ia merupakan seorang arsitektur pribumi. Peletakan batu pertama Jam Gadang diletakkan oleh anak dari Rook Maker yang berumur 6 tahun pada saat itu. Dalam membangun Jam Gadang ini menghabiskan dana mencapai 3000 guden, yang mana pada masa itu angka tersebut cukup besar.
Banyak keunikan yang terdapat pada Jam Gadang ini antara lain, pada menara Jam Gadang terdapat empat buah jam yang diameter-nya berukuran masing – masing 80 cm. Jam Gadang sendiri digerakkan secara mekanik oleh suatu mesin yang diproduksi dari Rotterdam, Belanda. Yang di produksi oleh pabrik Vortmann Relinghausen. Jam ini merupakan hasil dari produksi pada tahun 1892
Keunikan selanjutnya terletak pada angka Jam Gadang tersebut. Angka yang dipakai pada Jam Gadang adalah angka romawi, namun pada angka empat dari jam gadang terjadi keunikan yaitu angka empat yang biasanya dilambangkan dengan “IV” tetapi pada jam gadang memakai “IIII” untuk melambangkan angka empat. Menurut cerita yang beredar di masyarakat konon pada saat proses pembangunan Jam Gadang ada empat pekerja yang meninggal karena kecelakaan saat kerja. Untuk mengenang kematian pekerja tersebut, maka sengaja ditulis angka “I” berjajar sebanyak empat buah.
Selain dari cerita tersebut, angka IV juga diartikan sebagai ”I Victory” yang artinya aku menang. Belanda yang juga andil dalam pembuatan bangunan setinggi 26 meter itu menghindari arti “aku menang”. Belanda khawatir memicu pemberontakan untuk menentang penjajah. Karena takut hal itu akan terjadi belanda memproduksi jamnya dengan angka “IIII”.
Namun beberapa ahli juga menyatakan bahwa angka empat, pada awalnya huruf romawi tertulis IIII. Hal ini terjadi jauh sebelum pemerintahan Louis XIV. Dan penulisan angka empat dengan IV dikatakan sebagai perubahan penulisan angka romawi yang pada awalnya bertuliskan “IIII”.
Keunikan lainnya adalah jam gadang sering disebut sebai saudara kembar dari Big Ben karena keduanya menggunakan mesin jam yang sama yaitu bautan dari Vortmann Relinghousen. Mesin dari Jam Gadang ini memakai mesin jam khusus yang hanya diproduksi sebanyak dua di dunia yaitu dipakai di Jam Gadang sendiri dan dipakai pada Big Ben. Namun secara fisik Jam Gadang dan Big Ben memiliki bentuk yang berbeda, Jam Gadang memiliki desain dengan gaya artistic modern dan memiliki ciri khas rumah adat Minangkabau pada bagian atasnya, dan memiliki tinggi 26 meter. Sedangkan Big Ben memiliki gaya Gothik Victoria dengan tinggi mencapai 96 meter.
Keunikan Jam Gadang lainnya ialah, Jam Gadang telah mengalami tiga kali perubaham. Pada saat pertama kali Jam Gadang didirikan menaranya berbentuk bulat dan terdapat patung ayam jantan yang menghadap ke arah timur di atasnya. Namun pada saat penjajahan Jepang menara diubah menjadi bentuk pagoda. Dan akhirnya, pada saat Indonesia dapat mendapatkan kemerdekaan, menara diubah menjadi bentuk gonjong atau atap rumah adat Minangkabau.
Untuk kalian yang ingin mendatangi Jam Gadang ini kalian tidak perlu khawatir, kalian hanya cukup mendatangi Pasar Atas, Bukittinggi. Kalian tidak perlu mengeluarkan uang sedikit pun karena untuk memasuki area Jam Gadang ini gratis dan dibuka untuk umum. Jika kalian ingin mengabadikan momen saat berada di Jam Gadang, di pelataran Jam Gadang sudah ada fotografer yang membuka jasa foto langsung cetak. Dan jika kalian ingin membawa oleh – oleh saat kembali ke daerah asal kalian, kalian tidak perlu takut karena di sekitar pelataran Jam Gadang banyak terdapat penjual cinderamata – cinderamata khas bukittinggi.
Dari paparan di atas kalian tidak perlu ragu untuk mendatangi destinasi wisata ini, karena kalian bisa menikmati keindahan monumen Jam Gadang ini hanya dengan cuma – Cuma. Dan jangan lupa jika kalian mendatangi Jam Gadang ini kita harus menjaga destinasi wisata ini dengan baik, jangan sampai kita merusak keindahan dari destinasi ini.
