Konten dari Pengguna

Homesick Jangan Panik! Inilah Solusinya!

Lutfi Faizaturokhmah

Lutfi Faizaturokhmah

Psychology student at the State Islamic University of Jakarta

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Lutfi Faizaturokhmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi homesick. Sumber : Canva.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi homesick. Sumber : Canva.com

Lebih baik di sini, rumah kita sendiri

Segala nikmat dan anugerah yang kuasa

Semuanya ada di sini

Rumah kita..

Wah, penggalan lirik lagu dari God Bless tersebut yang berjudul “Rumah Kita” sangat menggambarkan perasaan anak rantau. Apalagi waktu didengarkan pada saat kondisi hujan, menambah kesyahduan, bukan?

Anak rantau kerap kali merasakan kesedihan bahkan sampai meneteskan air matanya sebagai sebab dari kerinduan yang tidak tertahan. Terkadang, anak ratau juga sering mengalami kesepian, hampa, bahkan ingin menyerah begitu saja karena dirinya merasa tidak mampu dan sulit untuk melewati fase seperti ini.

Dalam hal ini, biasanya homesick sering kali dialami oleh seorang mahasiswa. Mahasiswa biasanya merantau dengan tujuan untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi yang jauh dari rumah. Jadi, kondisi seperti inilah yang mengharuskan mahasiwa untuk tinggal di tempat yang baru, seperti kos, asrama, maupun apartemen. Pada awalnya, merantau merupakan suatu hal yang dinilai cukup berat untuk dilalui. Bagaimana tidak, dari kecil hingga remaja kita hidup berada dalam lingkup comfort zone.

Hal tersebut berbanding terbalik ketika kita hidup dalam rantauan. Semua hal kita lakukan secara mandiri. Terlebih kita tidak bisa bergantung lagi kepada orang tua maupun keluarga kita. Selain hal itu, kita juga dihadapkan kepada kondisi yang mengharuskan kita untuk membangun dan menyesuaikan lingkungan sosial yang baru. Semua hal tersebut biasanya tidak bisa kita terima dengan mudah dan berujung kepada yang namanya homesick.

Mengenal arti homesick

Homesick dapat diartikan sebagai sebuah kondisi ketika seseorang merasa sedih, tertekan, dan berujung pada stres sebagai akibat dari masa penyesuaian diri di lingkungan yang baru dan jauh dari rumah. Homesick secara singkatnya dapat disebut juga sebagai kangen rumah. Homesick itu sendiri tidak hanya kangen akan kondisi rumah, akan tetapi bisa juga kangen dengan segala hal yang berada pada lingkungan yang lama, seperti kangen terhadap vibes yang ada di rumah, kangen terhadap kebiasaan yang ada di rumah, kangen keluarga, kangen makanan, kangen teman-teman, dan lain-lain.

Thurber, C. A., Walton, E., & Council on School Health (2007) juga menyatakan homesick atau homesickness merupakan suatu kondisi seseorang yang mengalami tekanan dan gangguan fungsional yang ditandai dengan kerinduan yang akut serta pikiran yang kacau sebagai akibat dari sebuah perpisahan dari lingkungan asalnya dan keterikatannya dengan keluarga. Homesick itu sendiri tidak hanya ditandai dengan perasaan sedih saja, tetapi bisa juga ditandai dengan gangguan kecemasan, merasa kesepian, merasa malas untuk beraktivitas, kesulitan tidur, gagal fokus, hingga mood swing.

Apakah homesick ini sifatnya normal?

Tenang saja, homesick ini sifatnya normal dan tidak perlu untuk ditakuti. Jawaban ini diperkuat oleh pernyataan Thurber, C. A., Walton, E., & Council on School Health (2007) bahwa homesick juga bukan merupakan sebuah gangguan emosi akut. Homesick ini terjadi karena kebutuhan naluriah kita yang belum terpenuhi di lingkungan yang baru, seperti kebutuhan akan rasa kasih sayang dan perlindungan dari keluarga maupun orang terdekat, serta kebutuhan akan rasa aman. Kondisi inilah yang membuat diri kita merasa membutuhkan waktu sejenak untuk mendapatkan kembali hal yang serupa di lingkungannya yang baru.

Fase homesick biasanya berlangsung di awal saja dan akan menghilang seiring berjalannya waktu. Ketika kita sudah menemukan sisi kenyamanan dan penyesuaian yang baik dari lingkungan yang baru, maka kemungkinan kita untuk mengalami homesick akan jauh lebih berkurang. Homesick ini sifatnya tidak permanen, bisa datang dan juga bisa pergi. Hal ini disebabkan karena kita tidak bisa memprediksi kapan perasaan kangen akan suasana rumah itu muncul dalam diri kita. Semua tergantung kepada individu yang mengalaminya. Akan tetapi, jika efek dari homesick tersebut berlangsung sangat lama dan sangat mengganggu diri kita, baik secara psikis maupun fisik, seperti berujung pada depresi akut maupun segala hal yang mengganggu aktivitas kita, sangat disarankan untuk berkonsultasi kepada psikolog atau psikiater agar mendapat penanganan khusus.

Tips menghadapi homesick

Iswan Saputro, M.Psi., Psikolog membagikan beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mengurangi kondisi homesick pada diri kita. Beberapa tips tersebut diantaranya :

1. Menjadi pribadi yang lebih terbuka di lingkungan sosial.

Pada saat kita menjadi seorang mahasiswa baru, pasti kita dihadapi dengan lingkungan yang baru. Dalam hal ini, tidak ada salahnya bagi kita untuk menjadi pribadi yang lebih terbuka dalam berinteraksi. Melalui cara tersebut, kemungkinan masa penyesuaian diri kita terhadap lingkungan serta teman baru akan jauh lebih cepat dan mudah.

2. Memberanikan diri untuk berkenalan dengan orang baru. Berkenalan dapat membuat diri kita cepat untuk menemukan teman yang mungkin bisa dikatakan sefrekuensi dengan kita. Setelah menemukan kenyamanan dengan teman yang baru, kemungkinan adaptasi yang akan kita hadapi akan jauh lebih mudah dan terbantu. Di sisi lain, dengan kita mendapatkan teman, kita akan mendapatkan sebuah partner yang bisa membantu kita pada situasi senang, susah, maupun sedih.

3. Tetap melakukan komunikasi dengan keluarga maupun orang terdekat kita. Komunikasi merupakan hal yang sangat penting walaupun dilakukan secara online. Hal ini bisa membuat diri kita merasa sedikit terobati atas rasa kangen tersebut serta untuk memastikan juga kondisi kita sendiri dengan keluarga maupun orang terdekat kita dalam keadaan baik-baik saja. Akan tetapi, cara ini sebaiknya tidak boleh dilakukan terlalu sering, karena diri kita juga butuh waktu untuk sendiri dan menikmati waktu untuk dapat menyesuaikan dengan lingkungan serta suasana yang baru.

4. Mengikuti sebuah komunitas atau kegiatan organisasi di kampus.

Pada saat kita memasuki dunia kampus, kita pasti disuguhkan dengan berbagai macam komunitas, UKM, maupun sebuah lembaga organisasi. Kita bisa memilih, organisasi atau komunitas mana yang sekiranya cocok dengan minat yang kita miliki. Manfaat yang kita peroleh dari mengikuti kegiatan tersebut yakni bisa menambah relasi pertemanan dan melatih skills yang kita miliki. Dengan hal tersebut, seseorang untuk mengalami homesick akan cenderung lebih berkurang. Hal ini dikarenakan seseorang yang mengalami homesick biasanya muncul disaat orang tersebut sedang sendiri dan juga tidak melakukan hal apapun atau gabut.

5. Melakukan aktivitas yang kita sukai.

Kita bisa mengalihkan kondisi homesick tersebut dengan berbagai macam aktivitas yang kita sukai. Contoh dari aktivitas tersebut yaitu menonton bioskop, mendengarkan musik, menari, berolahraga, shopping, menonton pertunjukan musik atau konser, dan masih banyak lagi. Kita juga bisa menjelajahi tempat atau biasa dikenal sebagai healing di sekitar lingkungan baru kita yang sekiranya unik untuk dikunjungi. Aktivitas tersebut dilakukan dengan maksud supaya diri kita merasa senang atau mood yang kita miliki dalam keadaan baik-baik saja. Dengan hal tersebut, kemungkinan kita untuk mengalami homesick akan jauh lebih berkurang.

6. Memberikan afirmasi positif bagi diri kita sendiri.

Melalui afirmasi positif, segalanya akan bisa mengalir ke dalam hal positif juga. Kita harus beranggapan bahwa menjadi anak rantau tidak seburuk yang kita bayangkan. Pikirkan saja semua hal positif yang diperoleh ketika kita memutuskan untuk berkuliah jauh dan merantau, seperti kita bisa mendapatkan ilmu baru, pengalaman baru, suasana baru, relasi baru, dan juga kita bisa belajar untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri. Selain itu, beri keyakinan pada diri sendiri bahwa kita bisa melewati fase dan rintangan ini dengan baik.

Nah, dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa ketika seseorang mengalami homesick itu merupakan suatu hal yang wajar dan tidak perlu untuk kita takuti. Hal tersebut terjadi karena diri kita masih berada pada masa penyesuaian atau peralihan dari lingkungan yang lama ke lingkungan yang baru. Ketika kita mengalami perasaan sedih, rindu berat, merasa kesepian, dan lain sebagainya, itu merupakan hal yang biasa. Akan tetapi, alangkah baiknya kita tidak boleh stuck terhadap kondisi tersebut. Cobalah untuk bangkit dan melakukan beberapa tips yang bisa mengurangi kondisi homesick tersebut. Selain itu, kita tidak boleh membanding-bandingkan proses adaptasi yang kita lakukan dengan orang lain karena akan berbeda. Setiap manusia pasti mempunyai cara dan waktunya tersendiri untuk berhasil melewati fase tersebut. Teruslah percaya pada diri kita sendiri bahwa kita bisa untuk melewati segala rintangan dan ujian yang ada di dalamnya. Tetap semangat pejuang anak rantau! Kalian hebat!

Reference

Thurber, C. A., Walton, E., & Council on School Health. (2007). Preventing and treating homesickness. Pediatrics, 119(1), 192-201.

Klik Dokter. (2022, Oktober). Homesick, Rindu Biasa atau Gangguan Emosi? https://www.klikdokter.com/psikologi/kesehatan-mental/homesick-rindu-biasa-atau-gangguan-emosi