Konten dari Pengguna

Menerka Penonton Istirahatlah Kata-Kata

M Ardi Kurniawan

M Ardi Kurniawan

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Ardi Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Buku saku puisi Wiji Thukul. (Foto: Zabur Karuru/Antara)
zoom-in-whitePerbesar
Buku saku puisi Wiji Thukul. (Foto: Zabur Karuru/Antara)

Kawan saya berhasrat sekali menonton film tentang penyair idolanya. Film itu melemparkan ingatannya ke 12 tahun lalu di fakultas sastra suatu kampus negeri. Pada suatu mata kuliah tentang puisi Indonesia, dosen kerap menyebut nama Sapardi, Sutardji, dan Rendra. Kawan saya tak suka puisi-puisi mereka. "Puisi mereka sudah habis kupakai merayu perempuan yang kuliah di Sastra Perancis. Aku bosan."

Ia lalu menemukan penyair yang hilang di tumpukan diskusi buku kiri. Kelak satu baris puisinya terus menancap di kepalanya sampai hari ini. Ya, hanya di kepala. Sebab sebenarnya, ia ingin sekali membacakan puisi tersebut kepada atasan-atasannya di kantor. Tapi, kawan saya lalu ingat rekening tabungan, asuransi, dan susu anak yang harus ia lunasi. Ia pun urung meneriakkan kata "Lawan!".

Begitulah. Respon kawan saya yang ingin sekali menonton Istirahatlah Kata-Kata membuat saya menerka-nerka. Kira-kira bagaimana sebenarnya respon penonton film ini.

Menurut saya, ada tiga kategori penonton Istirahatlah Kata-Kata

Yang hidup satu zaman dengan tokoh utama film ini dan turut merasakan tekanan negara.

Yang hidup satu generasi di bawahnya, tumbuh besar pascareformasi bersama buku kiri yang beredar luas dan barangkali membaca buku Che untuk pemula.

Yang ketiga adalah dua generasi di bawahnya, mungkin milenial, yang mungkin tak pernah merasakan negara yang represif.

Tentu saja tiga kategori tersebut simplikasi saya saja supaya mudah menerka kira-kira bagaimana respon penonton terhadap film ini.

Nah, sekarang soal film.

Film ini saya kira berusaha menghindari klise dan banal.

Ogah menampilkan aksi heroik nan kolektif para aktivis.

Mungkin lho, hal-hal semacam itu sudah banal dan dikomodikasi sutradara-sutradara lain (dari Gie sampai Di Balik 98).

Saya sih sepakat. Peneraan aksi kolektif saya kira tak punya efek lagi bagi penonton. Sudah kehilangan efek karena kerap diulang. Lihat saja di perempatan UIN Yogya saat mahasiswa demo soal apa pun. Para pengendara motor mobil bukannya simpatik, malah sibuk mengumpat karena merasa mahasiswa membuat macet jalan saja.

Kalau saya sih, mending mampir KFC di utara UIN sambil nonton mahasiwa demo bakar ban 😄

Sekarang lanjut ke efek filmnya. Saya duga sih ada dua maunya sutradara.

Pertama, hendak menunjukkan kalau begini lho suasana hidup di zaman represif. Sendiri. Sunyi. Sepi. Klandestin.

Kedua, hendak menunjukkan semacam ideologi bahwa perlawanan tak perlu lagi menggunakan segala rupa demo kolektif.

Ini mungkin yang jadi titik kritik oleh beberapa orang. Sebab dengan demikian, berpretensi mendoktrin bahwa aksi kolektif tak penting lagi. Lebih penting klak klik petisi dan share daftar bacaan/tontonan/wacana kekirian kekinian.

Lalu apa hubungannya dengan respon penonton? Ini dugaan saya saja. Subjektif tentu saja.

Mereka yang hidup sezaman dan sempat merasakan aksi represif saya kira memandang film ini sebagai kenangan masa lampau. Menjadi titik berangkat bahwa semua aksi di masa lalu sudah selesai. Kenangan sudah dituntaskan. Macam penonton umur 30-an yang menuntaskan masa mudanya atau menyelesaikan kehidupan remajanya dengan menonton AADC 2 (dan bisa hidup damai di masa mendatang).

Kedua, penonton yang satu generasi di bawahnya saya kira bimbang. Mungkin bertanya-tanya, apakah risiko semacam itu yang harus ditempuh jika menekuni jalur aktivisme? Bagaimana jika jadi pegawai korporasi saja? Bukanlah lebih nyaman dan aman. Toh, aksi memimpin massa di masa lalu bisa diganti dengan orasi marketing kepada klien bukan? Idealisme diganti passion, bagaimana?

Ketiga, mereka yang mungkin tak sempat merasakan negara yang represif tentu akan bertanya-tanya. Apakah semacam itu suasana hidup di zaman semua serba diawasi. Bukankah sama saja sekarang. Apapun yang ditulis di sosial media diawasi bukan. Hanya saja bukan negara yang mengawasi, tapi netizen.

Terakhir, problem utama film ini saya kira adalah kehendaknya menjadi film biografis. Tentu banyak protes datang dari mereka yang merasa terikat dengan tokoh utama film ini. Mereka yang merasa tokoh utama menjadi sosok yang tak mereka kenal. Sama lah kira-kira seperti kawan-kawan saya yang mengidolakan kelompok musik atau solois yang dulu suka nyanyi-nyanyi protes. Tapi sekarang ikutan advertensi kopi dan telepon genggam dan makanan cepat saji. Kawan-kawan saya merasa kehilangan idola mereka. Begitulah kira-kira mengapa protes itu datang.

Coba film ini pakai disclaimer ‘terinspirasi oleh tokoh’. Mungkin ndak akan banyak protes.

Overall, film ini bagus. Paling tidak berhasil menyeret nama penyairnya kembali ke ranah perbincangan publik. Supaya publik ingat ada penyair yang hilang. Supaya publik ingat sastra Indonesia bukan soal estetika saja. Dan supaya laman wikipedia sastra Indonesia tak diisi penyair yang itu-itu saja.