Indonesia dan APEC 2026 Menuntut Rantai Pasok yang Adil dari Bayang-bayang China

Mahasiswa Universitas Sriwijaya
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari M Fazli Randa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kata kunci : KTT APEC 2026, rantai pasok kawasan, Indonesia-China, de‑risking, ekonomi China, geopolitik ekonomi, ketahanan rantai pasok, integrasi ekonomi Asia‑Pasifik, retorika.
KTT APEC 2026, Bukan Sekadar Pertemuan Retorika
KTT APEC 2026 di Shinzhen bukan sekedar forum retorika antar China, AS, dan negera-negara Asia-Pasifik. Di tengah perang dagang yang belum usai dan tren de-risking terhadap rantai pasok global, forum ini menjadi medan penting untuk merumuskan aturan baru soal bagaimana barang, data, dan modal bergerak di kawasan. Bagi Indonesia, momen ini justru menjadi peluang langka, bukan sekedar "menyambut investasi china", tetapi ikut menegosiasikan skema rantai pasok yang lebih adil bagi negara berkembang. China saat ini ingin memakai APEC 2026 untuk memperkuat citra sebagai pelopor integrasi ekonomi inklusif dan ketahanan rantai pasok regional. Namun di lapangan, Indonesia kerap berada di posisi lemah, sebagai pemasok bahan baku seperti nikel, kelapa sawit, dan logam strategis, sementara nilai tambah paling besar dinikmati oleh kapasitas industri dan teknologi China serta negara maju lainnya. Di situlah Indonesia bisa mengusulkan kerangka baru yang menekankan transparansi, etika, dan pembagian nilai yang lebih seimbang
Menuntut Standar Rantai Pasok yang Lebih Baik
Di APEC 2026, Indonesia berpotensi mendorong standar terkait praktik rantai pasok, mulai dari transparansi sumber bahan baku, keberlanjutan lingkungan, hingga perlindungan terhadap UMKM dan pekerja lokal. Lebih dari itu, Indonesia bisa mengusulkan kerja sama platform digital logistik bersama negara ASEAN dan mitra Pasifik, sehingga rute pengiriman tidak terlalu terpusat pada satu negara besar atau satu alur logistik tunggal. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya menjadi "base camp" perusahaan asing, tetapi penentu bagaimana data dan alur barang bergerak di kawasan
Indonesia sebagai jembatan pembangunan di Tengah Persaingan China-AS
Dalam konteks geopolitik yang semakin terpolarisasi, Indonesia bisa merancang posisi strategis sebagai jembatan pembangunan yang dimana pro kerjasama ekonomi, tetapi kritis terhadap monopoli dan ketimpangan rantai pasok yang diwarnai persaingan China dan AS. Melalui APEC 2026, Indonesia punya kesempatan untuk menegaskan bahwa rantai pasok yang kuat bukan hanya soal efisiensi dan kecepatan, tetapi juga soal keadilan, keterlibatan, dan keberlanjutan bagi negara yang selama ini berada di ujung belakang.
