“Kembali ke Jalan Allah: Rumah Paling Tenang yang Sering Kita Lupakan”

mahasiswa prodi ilmu hadist UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari maharani dwi putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kita semua pernah merasa lelah. Sibuk mengejar validasi, pencapaian, bahkan cinta manusia. Tapi di antara semua tempat yang kita datangi untuk mencari ketenangan, sering kali kita lupa: rumah paling damai bukan di dunia yang ramai, tapi saat hati ini kembali menyatu dengan Rabb-nya.

Hidup ini perjalanan panjang. Ada hari ketika kita merasa kuat, ada pula saat kita tersungkur, jatuh dalam kesalahan, jauh dari arah. Tapi sebaik-baik tempat pulang, bukanlah pelukan manusia—melainkan ketika hati kita benar-benar kembali ke jalan Allah.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Maka berpalinglah kamu dari mereka. Sesungguhnya kamu tidak berdosa sedikit pun terhadap mereka. Dan berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.”
(QS. Adz-Dzariyat: 55)
Banyak dari kita mencari tempat pulang di dunia ini: cinta yang mengisi kekosongan, pencapaian yang membuktikan diri, teman-teman yang menyenangkan hati. Tapi semuanya hanya sementara. Bahkan rumah yang kita bangun dengan susah payah pun suatu saat akan kita tinggalkan.
Kita lupa, bahwa rumah yang sesungguhnya adalah hati yang bertauhid.
Saat hati kita kembali berserah, kembali sujud, kembali memohon hanya kepada-Nya—di situlah ketenangan sejati mulai terasa.
Kenapa Harus Kembali?
Karena dunia ini terlalu gaduh. Media sosial bising dengan standar yang menipu, banyak orang berkata cinta tapi ternyata hanya sementara. Tapi Allah? Tidak pernah meninggalkan.
Maka ketika hidup mulai tidak tenang, ketika langkah terasa limbung, jangan tanya siapa yang menjauh. Tanyalah: sudah sejauh apa aku dari jalan Allah?
Tanda Kita Perlu Kembali:
Hati mudah tersinggung, tapi sulit tersentuh oleh ayat-ayat Allah.
Merasa kosong padahal semua sudah dimiliki.
Ibadah mulai terasa beban, bukan kebutuhan.
Terlalu sibuk mencari perhatian manusia, lupa mencari ridha Tuhan.
Rumah bukan hanya tentang tembok dan atap, tapi tentang di mana hati ini merasa aman dan tenang. Dan tempat itu bukan di pelukan siapa-siapa, tapi di sujud yang panjang, di tangis malam hari, di doa yang tulus dan diam-diam.
“Sebaik-baik rumah kembali, adalah kembali ke jalan Allah.”
Karena di sanalah kamu akan selalu disambut, meski berkali-kali pernah pergi.
