93% Orang Indonesia Nilai Kemandirian sebagai Warisan Bermakna

Menjadi generasi sandwich berarti hidup di antara beberapa tanggung jawab sekaligus. Di satu sisi, ada kebutuhan orang tua yang perlu dibantu. Di sisi lain, ada kebutuhan pasangan, anak, cicilan, atau masa depan sendiri yang juga tidak boleh luput disiapkan.
Kondisi ini menjadi semakin relevan di tengah perubahan struktur penduduk Indonesia. BPS melalui SUPAS 2025 mencatat, rasio ketergantungan Indonesia mencapai 45,05 persen pada 2025. Artinya, kelompok usia produktif masih memiliki beban untuk menopang penduduk usia nonproduktif, baik anak-anak maupun lansia.
Berdasarkan data BPS, Indonesia juga telah memasuki fase ageing population, dengan persentase penduduk lanjut usia mencapai 11,97 persen. Peningkatan jumlah lansia ini membuat kesiapan kesehatan, perlindungan finansial, dan perencanaan masa tua menjadi semakin penting untuk dibicarakan.
Di tengah situasi itu, muncul pertanyaan penting: bagaimana agar tanggung jawab yang dipikul hari ini tidak menjadi beban yang diteruskan kepada anak kelak?
Membantu orang tua tentu menjadi bagian dari kasih sayang dan tanggung jawab keluarga. Namun, jika masa depan tidak mulai disiapkan, beban yang hari ini dirasakan bisa saja berulang di generasi berikutnya. Seseorang yang saat ini membantu orang tua, pada masa tua nanti juga berpotensi bergantung pada anak apabila tidak memiliki persiapan yang cukup.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kemandirian perlu mulai dibangun sejak usia produktif. Bukan untuk mengurangi peran keluarga, melainkan agar tanggung jawab finansial tidak terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dengan persiapan yang lebih matang, seseorang tetap dapat membantu keluarga hari ini tanpa mengabaikan kebutuhan masa depannya sendiri. Persiapan itu juga dapat membantu anak-anak kelak terhindar dari tekanan finansial yang sama.
Kemandirian sebagai Bentuk Warisan Baru
Cara pandang ini juga terlihat dalam Asia Care Survey 2026 dari Manulife. Survei tersebut menunjukkan bahwa 93 persen orang dewasa di Indonesia menganggap kemandirian dan kebebasan finansial sebagai warisan paling bermakna yang dapat ditinggalkan bagi keluarga. Angka ini berada di atas rata-rata regional Asia yang sebesar 82 persen.
Presiden Direktur & CEO PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Lauren Sulistiawati, mengatakan, “temuan Manulife Asia Care Survey 2026 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin menyadari pentingnya mempersiapkan masa depan yang lebih panjang. Kemandirian di usia lanjut kini dipandang sebagai bentuk kepedulian kepada keluarga, karena dapat membantu generasi berikutnya melangkah lebih ringan."
Kemandirian dalam konteks ini bukan berarti hidup tanpa bantuan keluarga. Keluarga tetap menjadi ruang untuk saling mendukung, merawat, dan berbagi tanggung jawab. Namun, ada perbedaan antara saling membantu dan menjadikan anak sebagai satu-satunya penopang hidup di masa tua.
Asia Care Survey 2026 menunjukkan bahwa banyak orang mulai menyiapkan masa tua dengan sumber daya sendiri. Sebanyak 87 persen responden berencana mengandalkan tabungan untuk membiayai masa pensiun dan kebutuhan perawatan.
Namun, pada kenyataannya dukungan keluarga masih tetap terasa, terutama di Indonesia, dengan 32 persen responden berharap dapat mengandalkan anak sebagai sumber dukungan finansial. Bahkan, 77 persen responden juga berpikir untuk tetap bekerja setelah usia 65 tahun, sehingga persiapan pensiun menjadi semakin penting untuk dibangun sejak dini.
Data tersebut menunjukkan bahwa perencanaan masa tua tidak hanya berkaitan dengan akumulasi kekayaan, tapi juga juga berhubungan dengan kemampuan seseorang menjaga kualitas hidup dan mengurangi ketergantungan kepada keluarga di kemudian hari.
Lauren juga menjelaskan bahwa, “kemandirian tidak dibangun dalam semalam, melainkan melalui langkah-langkah yang konsisten, mulai dari menjaga kesehatan, memiliki perlindungan yang memadai, hingga mempersiapkan masa depan finansial dengan baik.”
Dari sisi kesejahteraan finansial, menabung dan berinvestasi tidak lagi hanya dilihat sebagai cara mengumpulkan aset. Keduanya juga menjadi bagian dari upaya menjaga kebutuhan masa depan agar tetap dapat dikelola dengan lebih mandiri.
Sementara itu, persiapan pensiun tidak hanya dimulai ketika seseorang berhenti bekerja. Asia Care Survey 2026 mencatat, 77 persen responden Indonesia mempertimbangkan untuk tetap bekerja setelah usia 65 tahun.
Temuan ini juga menunjukkan bahwa masa pensiun kini tidak lagi dipandang sebagai satu titik akhir, melainkan perjalanan bertahap yang mencakup fase pra-pensiun, masa transisi, hingga pensiun jangka panjang. Setiap fase membawa kebutuhan yang berbeda, sehingga persiapannya perlu dibangun secara bertahap dan sesuai kemampuan.
Dengan demikian, menjadi generasi sandwich terakhir bukan berarti berhenti membantu keluarga. Upaya ini justru dimulai dari kemampuan menyiapkan diri sendiri, agar beban finansial tidak terus berpindah kepada anak dan generasi berikutnya.
Warisan pun tidak hanya diukur dari besarnya aset yang ditinggalkan. Bagi generasi sandwich, warisan juga berupa kemandirian dalam hal kesehatan yang terjaga, finansial dan hari tua yang lebih siap agar tidak membebani orang-orang yang Anda cintai.
Simak perspektif lengkap tentang kemandirian sebagai warisan baru dalam Asia Care Survey 2026 dari Manulife.
PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
(kS)
