Segel Botol Bukan Sekadar Pemanis Kemasan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tampilan kemasan botol Le Minerale yang dilengkapi segel pelindung. Foto: Istimewa.
zoom-in-whitePerbesar
Tampilan kemasan botol Le Minerale yang dilengkapi segel pelindung. Foto: Istimewa.

Saat membeli air minum dalam kemasan, apa yang biasanya menjadi perhatian kamu? Apakah yang terpenting airnya jernih? botolnya tidak rusak? tanggal kadaluarsanya masih aman? atau harga?

Selain itu, pernahkah kamu juga turut memperhatikan kondisi tutup dan leher botolnya? Ya, bagian tersebut sering kali luput dari perhatian. Padahal, tutup dan leher botol menjadi area yang berdekatan langsung dengan mulut ketika air diminum. Kebersihannya pun tak kalah penting dibandingkan kejernihan air yang ada di dalam kemasan.

Meski telah diproduksi dengan standar kebersihan yang ketat di pabrik, air minum dalam kemasan atau AMDK masih harus melalui perjalanan panjang sebelum sampai ke tangan konsumen. Produk akan melewati proses distribusi, penyimpanan di gudang, hingga dipajang di berbagai titik penjualan seperti minimarket, warung kelontong, terminal, atau area terbuka lainnya.

Selama proses tersebut, bagian luar kemasan berpotensi terpapar debu dan mikroorganisme dari lingkungan. Oleh karena itu, perlindungan terhadap produk tidak berhenti pada proses produksi, tetapi juga perlu dijaga hingga botol dibuka dan dikonsumsi.

Seorang pedagang menjajakan air mineral Le Minerale di tepi jalan. Foto: Istimewa.

Di sinilah segel pada tutup botol memiliki peran penting. Bukan sekadar elemen tambahan atau pemanis kemasan, segel berfungsi sebagai pelindung yang membantu menjaga area tutup dan leher botol dari paparan lingkungan selama proses distribusi dan penyimpanan.

Potensi kontaminasi dari luar kemasan menjadi salah satu perhatian dalam menjaga higienitas AMDK. Debu, bakteri, maupun jamur dapat menempel pada permukaan benda yang terpapar lingkungan, termasuk kemasan produk.

Kepala Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Indonesia, Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, M.Sc menjelaskan bahwa kontaminasi silang dari luar kemasan tetap dapat menjadi risiko meskipun air mineral telah diproduksi menggunakan standar yang ketat.

Sejumlah mikroorganisme juga diketahui mampu bertahan pada permukaan benda mati selama beberapa hari. Salah satunya adalah bakteri Staphylococcus aureus. Berdasarkan penelitian Kusumaningrum pada 2003, bakteri tersebut dapat bertahan pada permukaan stainless steel hingga empat hari.

“Bila pada permukaan stainless steel saja mikroba bisa bertahan berhari-hari, tentu potensi kontaminasi pada permukaan botol plastik di lingkungan terbuka jauh lebih besar. Ini menjadi dasar kami untuk menguji seberapa besar efektivitas segel Le Minerale dalam melindungi produknya,” ujar Prof. Agustino.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bagian luar kemasan juga memerlukan perlindungan. Terlebih, tutup dan leher botol merupakan area yang akan bersentuhan langsung dengan tangan maupun mulut konsumen.

Segel diuji secara ilmiah

Untuk mengetahui seberapa besar peran segel dalam melindungi kemasan, Unit Kerja Khusus Laboratorium Sains Terapan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia atau UKK LST FMIPA UI melakukan riset bertajuk “Pengaruh Segel Tutup Botol terhadap Ketahanan Paparan Cemaran Debu dan Mikroba”.

Riset tersebut menguji efektivitas segel salah satu brand AMDK yakni Le Minerale dalam melindungi area tutup dan leher botol dari paparan debu, bakteri, serta jamur. Pengujian dilakukan melalui dua pendekatan, yakni kondisi nyata di titik penjualan dan kondisi ekstrem di laboratorium.

Saat pengujian, produk ditempatkan di lingkungan yang menggambarkan situasi nyata yakni di pasaran, seperti warung kelontong, minimarket, dan terminal. Sementara itu, dalam pengujian laboratorium, botol Le Minerale ukuran 600 mililiter dipaparkan terhadap debu serta mikroba selama satu hingga enam jam.

Produk Le Minerale ditempatkan di sejumlah titik penjualan, seperti warung kelontong, minimarket, dan terminal, dalam pengujian efektivitas segel terhadap paparan lingkungan. Foto: Istimewa.

Setiap sampel kemudian dianalisis secara kuantitatif untuk mengukur jumlah partikel debu, bakteri, dan kapang yang menempel pada tutup serta leher botol. Pengujian membandingkan botol yang menggunakan segel dengan kemasan tanpa segel.

Hasilnya menunjukkan perbedaan. Dalam kondisi ekstrem di laboratorium, segel Le Minerale tercatat lebih efektif melindungi kemasan dari paparan debu hingga 80 persen, bakteri Staphylococcus aureus hingga 97 persen, serta kapang Aspergillus niger hingga 90 persen dibandingkan kemasan tanpa segel.

Sementara itu, hasil pengujian di pasaran—termasuk warung kelontong, minimarket, dan terminal—segel Le Minerale terbukti mampu mencegah kontaminasi debu, bakteri, dan jamur hingga 100 persen.

Menurut Prof. Agustino, hasil penelitian tersebut menjadi dasar ilmiah yang memperlihatkan bahwa segel bukan semata-mata fitur estetika. Keberadaannya menjadi bagian dari inovasi perlindungan kemasan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan konsumen.

Komitmen Le Minerale menjaga higienitas

Marketing Director Le Minerale, Febri Satria Hutama, mengatakan hasil penelitian FMIPA UI menjadi validasi ilmiah terhadap inovasi segel pelindung yang diterapkan Le Minerale.

Menurutnya, menjaga kualitas air mineral tidak hanya berkaitan dengan proses produksi. Produk juga perlu tetap terlindungi ketika melewati proses distribusi, penyimpanan, dan penjualan di berbagai kondisi lingkungan.

Le Minerale menggunakan segel pada tutup botol untuk membantu melindungi area tutup dan leher botol dari paparan debu serta mikroorganisme selama proses distribusi dan penyimpanan. Foto: Istimewa.

“Sejak awal, Le Minerale memiliki misi untuk menyediakan air mineral yang bukan hanya segar dan sehat, tetapi juga higienis secara menyeluruh,” jelas Febri.

Ia menambahkan bahwa salah satu tantangan yang kerap muncul di lapangan adalah potensi paparan kontaminasi selama produk berada di lingkungan terbuka, termasuk warung kelontong, terminal, dan berbagai area penjualan lainnya.

“Maka dari itu, penting bagi kami untuk tidak hanya menjawab kekhawatiran ini dengan inovasi, tetapi juga membuktikan efektivitas inovasi tersebut secara ilmiah,” lanjutnya.

Bagi Le Minerale, hasil riset tersebut memperkuat fungsi segel sebagai perlindungan tambahan pada bagian tutup dan leher botol. Inovasi itu dihadirkan agar higienitas kemasan tetap terjaga, tidak hanya ketika keluar dari pabrik, tetapi juga hingga produk sampai ke tangan konsumen.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UI, Prof. Dr. Hamdi Muluk, M.Si., mengapresiasi langkah Le Minerale yang mendorong penerapan riset ilmiah sekaligus memberikan perhatian terhadap Hak Kekayaan Intelektual para peneliti.

“UI bangga bahwa hasil riset ini tidak hanya menjadi kontribusi ilmiah, tapi langsung diterapkan industri demi perlindungan masyarakat. Ini selaras dengan semangat UI,” tutur Hamdi.

Kolaborasi tersebut juga diharapkan dapat mendorong pengembangan produk berbasis sains yang semakin relevan dengan kebutuhan konsumen, terutama dalam hal mutu, keamanan, dan higienitas.