Konten dari Pengguna

Seni Menjadi "Penonton" di Rumah Sendiri: Kekuatan Tersembunyi Anak Tengah

Nisa Maharani

Nisa Maharani

Mahasiswi Prodi Ilmu Hukum Universitas Katolik Santo Thomas Medan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Nisa Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pexels/Suhail
zoom-in-whitePerbesar
Pexels/Suhail

Anak pertama adalah kebanggaan yang dirayakan dengan penuh euforia. Anak terakhir adalah kesayangan yang dijaga dengan dekapan proteksi. Lalu, di mana posisi anak tengah? Bagi banyak orang yang merasakannya, jawabannya sering kali pahit: Anak tengah adalah sosok yang ada secara fisik, namun kerap kali "tak terlihat" secara emosional.

Kita lahir di saat euforia kehadiran "anak pertama" sudah mulai hambar, namun perhatian orang tua belum sepenuhnya beralih ke "si bungsu" yang dianggap paling butuh perlindungan. Sejak kecil, anak tengah seolah-olah diprogram untuk menjadi penonton di rumahnya sendiri. Kita belajar untuk mandiri bukan karena kita benar-benar kuat, tapi karena kita sadar bahwa meminta perhatian adalah hal yang sia-sia di tengah meja makan yang sudah penuh.

Namun, di balik rasa "tak terlihat" itu, ada sebuah proses pendewasaan yang unik. Karena tidak terbiasa disorot, kita tumbuh menjadi pengamat yang handal. Karena tidak terbiasa selalu dibela, kita menjadi pribadi yang lebih tangguh dan mandiri. Kita belajar bahwa validasi terbaik tidak selalu datang dari tepuk tangan orang lain, melainkan dari ketangguhan saat kita mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Menjadi anak tengah memang berarti harus berbagi segalanya—mulai dari baju lungsuran hingga perhatian yang terbagi. Tapi dari sanalah kita mengerti, bahwa tidak menjadi pusat perhatian justru memberikan kita kebebasan untuk melihat dunia dengan sudut pandang yang lebih luas dan hati yang lebih lapang. Kita mungkin tak terlihat, tapi kita adalah fondasi yang kuat di tengah keluarga.

Nisa Maharani mahasiswi universitas Katolik Santo Thomas Medan