Meski Garuda Tidak Ikut Dalam Piala Dunia 2026, Antusiasme Tak Pernah Padam

Faculty of Da'wah and Communication Sciences, UIN Jakarta Journalism Study Program
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Mahesa Pasha perdana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suara sorak sorai memecah kesunyiaan dini hari, Dari rumah ke rumah, cahaya televisi tetap menyala walupun jarum jam telah melewati tengah malam. Di ruang tamu puluhan mata memandangi layar televisi yang masih menyala, Menunggu peluit panjang pertandingan piala dunia 2026. Tak ada bendera merah putih yang berkibar di pagelaran piala dunia 2026, tetapi semangat masyarakat indonesia seolah tak pernah absen menyambut pesta sepak bola terbesar di dunia.
Euforia itu selalu datang tanpa perlu undangan, bagi masyarakat indonesia, ajang yang di gelar empat tahun sekali itu telah menjadi perayaan akbar yang di nanti, menghadirkan sejumlah tradisi seperti begadang, nonton bersama, hingga perdebatan seru mengenai tim favorit. Meski timnas indonesia belum berhasil menembus ajang piala dunia kali ini, auntiasiasme masyarakat indonesia tidak pernah padam, dari anak-anak hingga orang tua, dari penggemar fanatik hingga penonton musiman, semua larut dalam euforia yang sama ketika peluit pertama pertandingan di bunyikan.
Tetapi dalam fenomena tersebeut memunculkan satu pertanyaan yang menarik, mengapa masyarakat indonesia tetap larut dalam gegap gempita piala dunia meski timnas indonesia belum berhasil menjadi bagian dari itu? Bagi sebgian orang, piala dunia itu bukan hanya tentang negara yang bertanding, melainkan tentang kecintaan terhadap sepak bola yang tumbuh sejak lama. Turnamen ini menjadi ruang untuk menikmati permainan para pesepak bola terbaik dunia, sekaligus memelihara harapan bahwa suatu hari nanti Garuda akan ikut berlaga di panggung yang sama.
Terakhir kali timnas indonesia berhasil menembus ajang piala dunia pada tahun 1938 yang di adakan di prancis, pada saat itu timnas indonesia masih bernama Hindia Belanda (Dutch East Indies) karena pada saat itu indonesia masih berada di bawah kolonialisme belanda. Meskipun belum menggunakan nama indonesia, catatan resmi FIFA tetap mengakui capaian tersebut dan mencatat indonesia sebagai negara asia pertama yang berhasil tampil di ajang piala dunia.
