Konten dari Pengguna

Mahasiswa dan Ketidaksadarannya

malik royan qodri

malik royan qodri

Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jurusan hubungan internasional

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari malik royan qodri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi mahasiswa yang sedang demo foto: dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi mahasiswa yang sedang demo foto: dokumentasi pribadi

Dewasa ini sering sekali kita menemukan mahasiswa yang berkoar-koar mengkritik pemerintah dengan dalih meminta keadilan. Dengan lantang berorasi saat demo di depan gedung pemerintahan, bahkan melalui media sosial mereka menyuarakan keresahannya dengan menyusun diksi-diksi yang rumit dan nyelekit.

Tidak salah jika seorang mahasiswa melakukan hal-hal itu karena mahasiswa harus dapat berpikir kritis. Namun, terdapat kekeliruan yang bahkan mereka sendiri tidak menyadarinya, yaitu substansi yang seharusnya benar-benar tersampaikan dan praktik yang terimplementasikan bukan hanya sebatas teori rumit yang diagung-agungkan.

Kenapa hal tersebut bisa ternormalisasikan? Apakah mungkin daya kritis seorang mahasiswa saat ini digunakan pada saat-saat krusial saja dan mendiskreditkan peran mahasiswa itu sendiri.

Padahal secara fungsional, seorang mahasiswa bukan hanya sekadar pelajar yang mengemban pendidikan di perguruan tinggi dengan tanggung jawab akademik, mahasiswa merupakan salah satu bagian dari masyarakat sehingga terdapat tanggung jawab sosial masyarakat yang harus benar-benar dapat terlaksana.

Peran Mahasiswa dalam Masyarakat

ilustrasi mahasiswa yang sedang bersosialisasi foto: dokumentasi pribadi

Sebagai salah satu golongan pemuda Indonesia yang memiliki tempat khusus di lingkungan masyarakat, bukan berarti mahasiswa memisahkan diri dengan masyarakat melainkan dituntut harus mampu memberikan kontribusinya. Haram jika mereka menjadi apatis dalam lingkungan sosialnya.

Mahasiswa bukan pahlawan yang datang ke tengah-tengah masyarakat dengan gagasannya yang lantang kemudian pergi dan mengharapkan tepuk tangan. Karena Mahasiswa harus menjadi objek juga dalam lingkungan.

Dalam mempertanggungjawabkan peran mahasiswa di dalam lingkungan masyarakat ditujukan sebagai sesosok agent of change, nantinya dapat memberikan pergerakan perubahan di lingkungan sosial dengan membawa pengetahuannya ke arah yang positif.

Bukan hanya itu, mereka juga harus mampu menjadi social control dimaksudkan mampu mengontrol keadaan sosial sekitarnya dari berbagai paradigma sesat.

Tidak lupa juga tetap menjaga nilai-nilai moral leluhur bangsa ini atau biasa disebut sebagai moral force. Sangat disayangkan kebanyakan mahasiswa saat ini bahkan tidak memahami perihal tersebut padahal mahasiswa diharapkan dapat menjadi generasi penerus bangsa yang tangguh (cahyono, 2019).

Penyakit Sosial Mahasiswa

Ilustrasi mahasiswa ujian. Foto: exam student/Shutterstock

Tidak heran bila di zaman sekarang banyak mahasiswa yang selalu acuh terhadap lingkungan sekitarnya mereka sangat apatis karena terdoktrin dengan budaya western yang menyebabkan ter-degradasinya pola pikir dan timbulnya rasa gengsi yang tinggi.

Akibatnya gaya hedonis dan selalu fomo (fear of missing out) terhadap suatu tren menjadi ciri khas yang selalu bertahan pada karakter mahasiswa. Lambat laun fenomena tersebut yang terus mengikat dapat membuat keadaan sosial yang buruk.

Menurut saya problem-problem tersebutlah yang menjadi cikal bakal melemahnya daya intelektual mahasiswa dan memarginalkan peran mereka di lingkungan masyarakat.

Progres awal untuk perubahan ke arah yang lebih baik dimulai dari kesadaran setiap individu untuk mampu mengontrol dirinya sendiri sebelum mengontrol keadaan sosial sekitarnya. Kenapa harus kesadaran? Karena sebuah kesadaran dapat membuka jalan pertumbuhan.