Ciri-ciri Pola Asuh Otoriter dan Dampaknya pada Anak

·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Mama Rempong tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mama, sudah pernah dengar tentang pola asuh otoriter belum? Pola asuh otoriter adalah gaya parenting yang ditandai dengan tuntutan tinggi, tetapi apresiasi orang tua yang rendah.
Pola asuh otoriter sendiri pertama kali dijelaskan oleh psikolog perkembangan kepribadian yang bernama Diana Baumrind. Sama seperti namanya, pola asuh ini identik dengan perintah dan hukuman yang otoriter.
Nah, bagi Mama yang ingin memahami lebih lanjut mengenai ciri-ciri pola asuh otoriter dan dampaknya bagi anak, yuk simak informasi seputar pola asuh otoriter di bawah ini.
Apa Itu Pola Asuh Otoriter?
Mengutip dari Parents, pola asuh otoriter adalah pola asuh yang dijalankan oleh orang tua yang kaku atau strict parents kepada anaknya. Pola asuh ini merupakan kebalikan dari pola asuh yang permisif.
Pada jenis parenting ini, orang tua cenderung menerapkan banyak aturan, tetapi tidak memberikan diskusi tentang perasaan anak terhadap aturan yang diberikan. Orang tua dengan pola asuh ini juga biasanya tidak memberikan respons yang baik terhadap anak.
Meskipun terdengar kasar, orang tua yang memiliki pola asuh ini berpikir bahwa pola asuh tersebut mampu membuat anaknya cerdas, berwawasan luas, serta disiplin dan tidak terpengaruh oleh lingkungan yang buruk.
Ciri-ciri Pola Asuh Otoriter
Dikutip dari Very Well Family, pola asuh otoriter memiliki karakteristik tersendiri, di antaranya:
Menuntut terlalu banyak, tapi tidak memberikan respons. Artinya, orang tua terlalu menginginkan banyak hal dari anak, tetapi tidak pernah memberikan apresiasi yang positif.
Menerapkan banyak aturan. Pada pola asuh ini, orang tua banyak memberikan aturan pada anak yang jika dilanggar akan diberikan hukuman, baik secara fisik maupun mental
Bersikap dingin atau jarang menunjukkan sikap hangat kepada anak. Orang tua dengan pola asuh ini biasanya sulit didekati oleh anak dan sering kali bersikap kasar
Sering memberikan hukuman, bahkan hukuman fisik. Tujuannya untuk memberikan efek jera pada anak agar ia tidak melanggar aturan yang telah ditetapkan
Hanya memberikan beberapa pilihan untuk anak. Misalnya, orang tua hanya mengharuskan anak untuk kuliah di jurusan A atau jurusan B.
Selalu bersikap tidak sabar dan sering menampakkan sikap buruk di depan anak.
Tidak percaya pada pilihan anak serta tidak memberikan kebebasan pada anak untuk mengeksplor hal baru
Tidak mau bernegosiasi dengan anak ataupun selalu menerapkan komunikasi satu arah. Orang tua dengan pola asuh ini jarang mendengarkan pendapat anak.
Sering mempermalukan anak alih-alih memujinya atas kerja kerasnya.
Dampak Pola Asuh Otoriter
Pola asuh otoriter banyak dikaitkan dengan gangguan perkembangan emosional serta sosial anak. Ini juga bisa mempengaruhi prestasi akademik. Anak-anak yang memiliki pola asuh otoriter biasanya akan:
Sering menunjukkan rasa takut dan malu di sekitar orang lain
Merasa mereka hanya akan disayang jika memenuhi ekspektasi orang tuanya
Memiliki perilaku yang agresif kepada orang lain
Mengalami kesulitan dalam memahami dan beradaptasi di kehidupan sosial
Sering merasa tidak percaya diri
Rentan mengalami gangguan kesehatan mental, seperti depresi dan gangguan kecemasan
Karena orang tua otoriter sering mengharapkan anaknya menjadi, anak-anak yang dibesarkan dengan gaya ini tumbuh dengan patuh, tetapi selalu merasakan adanya hal yang kurang dari dirinya sendiri.
Itulah penjelasan mengenai pola asuh otoriter. Jika Mama merasa memiliki gaya parenting ini, Mama bisa mencoba untuk mempertimbangkan pola asuh yang melibatkan anak secara aktif, seperti pola asuh otoritatif.
(SAI)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan parenting yang otoriter?

Apa yang dimaksud dengan parenting yang otoriter?
pola asuh otoriter adalah gaya parenting yang ditandai dengan tuntutan tinggi, tetapi apresiasi orang tua yang rendah.
Apa dampak dari pola asuh otoriter?

Apa dampak dari pola asuh otoriter?
Pola asuh otoriter banyak dikaitkan dengan gangguan perkembangan emosional serta sosial anak. Ini juga bisa mempengaruhi prestasi akademik.
Mengapa orang tua menerapkan pola asuh otoriter?

Mengapa orang tua menerapkan pola asuh otoriter?
Meskipun terdengar kasar, orang tua yang memiliki pola asuh ini berpikir bahwa pola asuh tersebut mampu membuat anaknya cerdas, berwawasan luas, serta disiplin dan tidak terpengaruh oleh lingkungan yang buruk.
