Curhat Mahasiswa Unsrat Manado yang Kecewa Kebijakan Rektorat Soal Kuliah Daring
·waktu baca 3 menit

MANADO - Kebijakan pihak Rektorat Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, untuk mengalihkan sistem kuliah menjadi sistem dalam jaringan (daring) atau online, ternyata banyak mendapatkan penolakan dari mahasiswa.
Kebijakan yang diambil dengan alasan situasi yang tak kondusif seusai pemilihan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tersebut, dinilai sangat merugikan para mahasiswa, terutama yang telah memiliki jadwal ujian akhir semester maupun yang akan sidang proposal dan skripsi.
Natasha, salah satu mahasiswa, mengaku jika dia merasa sangat dirugikan dengan kebijakan ini, karena jadwal ujian menjadi tertunda. Menurutnya, penundaan ini bisa terjadi cukup panjang, mengingat ada dua momen libur panjang di dua pekan mendatang.
"Jadi ujian harus ditunda karena kebijakan tak bisa datang ke kampus. Dan penundaan ini bisa berlangsung lama, karena minggu depan ada juga libur kenaikan Isa Almasih. Kemudian ada libur Idul Adha. Ini sangat merugikan kami," kata Natasha.
Menurut Natasha, seharusnya mahasiswa yang bertikai saja yang diberikan sanksi atau skors, dan bukan mengorbankan banyak mahasiswa yang sama sekali tidak terlibat dengan pemilihan Presiden BEM tersebut.
"Jangan sampai hanya karena segelintir kepentingan orang, kami mahasiswa lainnya kena dampak. Ini sangat merugikan sekali," ujarnya kembali.
Senada diungkapkan Ferry, mahasiswa akhir di salah satu Fakultas non eksakta. Menurut Ferry, kebijakan itu justru akan menimbulkan kerugian yang besar untuk dia dan mahasiswa akhir lainnya yang berasal dari luar daerah.
Menurutnya, karena jadwal yang berubah, maka konsekuensi lain bisa terjadi, termasuk konsekuensi ekonomi. Menurutnya, jika sesuai jadwal, dia bisa menyelesaikan studinya pada semester ini, yang artinya dia tidak lagi akan membayar uang semester depan dan juga tak akan lagi membayar kos-kosan karena sudah selesai.
Tapi menurutnya, karena kebijakan larangan mahasiswa ke kampus, otomatis jadwal yang sudah ada bakal tertunda. Bahkan menurutnya, penundaan bisa terjadi cukup panjang karena akan ada libur panjang di dua pekan berturut-turut.
"Dan ini sudah mau masuk bulan Juni yang artinya semester ini akan berakhir. Jadi, kami rugi secara ekonomi juga dan yang kasihan orang tua saya yang masih harus membayar lagi. Kami menyesalkan hal ini karena rektorat justru merugikan kami," ujarnya kembali.
Sebelumnya, pihak Rektorat kampus Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, memilih untuk mengalihkan perkuliahan ke sistem dalam jaringan (daring), buntut adanya kekhawatiran bentrok pendukung calon Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Keputusan ini berlaku sejak Selasa (20/5) hingga Jumat (23/5). Pihak rektorat menilai kebijakan ini adalah yang terbaik setelah melihat perkembangan situasi yang berkembang usai pemilihan Presiden BEM yang harus dilakukan ulang di beberapa TPS.
“Kami telah melaksanakan rapat. Kami mencegah supaya tidak ada eskalasi, makanya kami sepakat jangan dulu ada kuliah tatap muka,” ujar Wakil Rektor Satu Unsrat Manado, Ir Arthur Pinaria.
