Konten Media Partner

Demo Sopir Truk Sebut Ada Mafia Solar, Hari Ini Antrean Panjang di SPBU Hilang

Manado Baciritaverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Situasi salah satu SPBU di Kota Manado, Sulawesi Utara pada Selasa 30 September 2025, tak terlihat adanya antrean panjang pengisian solar subsidi. Kondisi ini berbeda dengan sebelumnya yang selalu terjadi antrean panjang.
zoom-in-whitePerbesar
Situasi salah satu SPBU di Kota Manado, Sulawesi Utara pada Selasa 30 September 2025, tak terlihat adanya antrean panjang pengisian solar subsidi. Kondisi ini berbeda dengan sebelumnya yang selalu terjadi antrean panjang.

MANADO - Ada pemandangan tak biasa terlihat di SPBU-SPBU di Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut), Selasa 30 September 2025 siang, sehari setelah ada aksi demo yang dilakukan para sopir truk terkait kelangkaan solar subsidi hingga terjadinya antrean panjang.

Pasalnya, usai di demo para sopir secara jelas mengatakan jika kondisi tersebut disebabkan adanya mafia solar, hari ini tak lagi terlihat antrean panjang pengisian solar di SPBU.

kumparan post embed

Meski ketersediaan stok solar di SPBU masih banyak, tetapi yang mengantre tak lagi sebanyak hari-hari sebelum ada demo para sopir truk tersebut. Pantauan hanya terlihat beberapa truk bermuatan material maupun truk ekspedisi yang mengantre di SPBU.

Sejumlah sopir truk pengangkut barang, mengatakan kondisi ini diduga tak lepas dari demo yang mengungkap jika kondisi antrean panjang dan solar langka disebabkan oleh mafia solar.

"Kemarin kan torang (kami) demo kong (lantas) bilang ada mafia solar yang bikin adanya kelangkaan solar hingga sebabkan antrean panjang setiap hari. Pak Gubernur so (sudah) respons dan bilang akan pantau mafia solar itu. Eh hari ini, so nda (tidak) ada tu antre," ujar beberapa sopir truk yang ditemui di SPBU.

Lebih lanjut, para sopir ini juga mengatakan kondisi ini (tak ada antrean solar), persis terjadi seperti saat Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengunjungi Sulut ketika dia masih menjabat sebagai Komisaris Pertamina.

"Waktu pak Ahok masih di Pertamina kong datang ke Manado, semua SPBU kosong tidak ada antrean karena beredar kabar kalau pak Ahok mau inspeksi soal solar di SPBU. Memang langsung kosong. Tapi, pas pak Ahok pulang, satu dua hari langsung panjang ulang antrean," kata para sopir truk ini.

"Kami berharap pemerintah, Pertamina maupun aparat mau memberantas mafia solar ini. Karena terus terang yang dirugikan itu kami sopir-sopir truk yang gajinya harian atau hitung per angkutan. Kami rugi kalau harus antre panjang seperti sekarang," ujar mereka kembali.

Sebelumnya, Senin (29/9), para sopir truk melakukan aksi demo di kantor DPRD Sulut. Perwakilan mereka juga menemui Gubernur Sulut untuk melaporkan adanya dugaan mafia solar. Ada tujuh tuntutan utama dari para sopir truk ini. Ketujuh tuntutan itu adalah:

  1. Meminta untuk setiap wilayah Manado, Minut, Bitung, Tomohon, Tondano, Mitra harus ada beberapa SPBU yang diawasi khusus oleh APH, BPH Migas dan pemerintah daerah guna pengawasan penyaluran BBM solar subsidi tepat sasaran.

  2. Copot Kepala BPH Migas dan Pertamina Sulut karena tidak mampu melaksanakan fungsi pengawasan di setiap SPBU.

  3. Meminta Kapolda Sulut untuk bantu perketat pengawasan di setiap SPBU, karena diduga adanya praktik penyalahgunaan solar bersubsidi yang dilakukan oleh petugas SPBU.

  4. Meminta Gubernur dan Pertamina membentuk tim pengawasan BBM solar subsidi yang melibatkan BPH Migas/APH serta perwakilan organisasi dump truck.

  5. Meminta kepada pihak Pertamina untuk mempermudah pengurusan barcode solar subsidi.

  6. Jika kami masih mengalami kesulitan dalam mengisi BBM solar, maka kami akan kembali melakukan unjuk rasa dengan menggerakkan seluruh anggota asosiasi di Sulawesi Utara.

  7. Meminta kepada Gubernur untuk mempermudah pengurusan UIN Galian C (material pasir, batu, dll) karena Galian C merupakan salah satu sumber pendapatan sopir angkutan material.