Kebiasaan Warga Saat Ada Kebakaran: Pilih Live Medsos Dibandingkan Ikut Menolong
·waktu baca 2 menit

MANADO - Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Manado, Glennstiano Kowaas, punya cerita unik terkait dengan pergeseran kebiasaan warga saat menghadapi kasus kebakaran.
Menurutnya, jika dulu masyarakat akan sibuk bantu memadamkan api walaupun hanya menggunakan peralatan seadanya, maka sekarang yang lebih diutamakan adalah melakukan live di media sosial dan menjadikan kebakaran sebagai konten untuk diunggah ke media sosial.
“Banyak yang sibuk live di sosial media dibanding saling tolong memadamkan api," ujar Glen, sapaan akrabnya.
Menurut Glen, hal ini memang tak bisa disalahkan, karena itu adalah hak dari masing-masing warga.
Namun demikian, yang perlu disorot dan dijadikan bahan evaluasi menurutnya adalah kebiasaan tersebut, sampai mengganggu upaya pemadam kebakaran melakukan tugasnya.
Diceritakan Glen, sering terjadi saat ada kasus kebakaran, mobil pemadam kebakaran yang kesulitan akses jalan karena telah dipadati oleh masyarakat yang tengah sibuk live atau siaran langsung media sosial.
Padahal menurut Glen, selain berbahaya karena bisa saja tersambar kendaraan pemadam kebakaran yang pastinya bergerak cepat, juga ikut menghambat proses pemadaman api karena para petugas harus terhalangi jalan masuk ke lokasi kebakaran.
"Di jalan itu, belum banyak juga (masyarakat) yang sadar untuk memberikan kita akses jalan, padahal kondisinya sudah darurat,” kata Glen.
Untuk itu, Glen meminta agar masyarakat bisa memahami tugas dari pemadam kebakaran, termasuk memberikan akses jalan yang lebih mudah agar api bisa cepat dipadamkan sehingga kerugian bisa diminimalkan.
"Selain berbahaya untuk masyarakat jika terlalu dekat dengan api, proses pemadaman api juga tidak terlambat. Ini yang kami minta agar masyarakat setidaknya bisa membantu dengan tidak menghalangi akses jalan untuk para petugas," katanya kembali.
