News
·
6 Agustus 2021 20:10
·
waktu baca 6 menit

Kronologi Ibu Hamil Tewas di RSUP Kandou Manado versi Keluarga dan Rumah Sakit

Konten ini diproduksi oleh Manado Bacirita
Kronologi Ibu Hamil Tewas di RSUP Kandou Manado versi Keluarga dan Rumah Sakit (47826)
searchPerbesar
RSUP Prof Kandou Manado. (foto: istimewa)
MANADO - Sulawesi Utara kini tengah dihebohkan dengan ibu hamil tewas di RSUP Kandou Manado, di mana diduga ada kelalaian dalam pelayanan yang diberikan rumah sakit. Selain itu, pasien juga diduga dicovidkan dan harus dimakamkan dengan protokol corona.
ADVERTISEMENT
Ibu hamil dengan identitas MM atau Amy, berusia 27 tahun beralamatkan Kolongan Tetempangan, Kabupaten Minahasa Utara (Minut). Pihak keluarga, menilai ada kejanggalan dari kematian pasien dan juga bayi yang di kandungnya. Keluarga mengatakan, dari beberapa rekaman voice note yang dikirimkan korban saat berada di ruang isolasi, pelayanan yang diberikan kepadanya sangat buruk.
Pasien disebut tidak mendapatkan makanan dan juga harus memakai baju penuh muntah. Selain itu, kejanggalan menurut keluarga adalah petugas kesehatan yang menangani korban, tak memakai APD padahal status korban sudah positif COVID-19 dan berada di ruangan isolasi.
Pihak RSUP Prof Kandou Manado, membantah tudingan tidak memberikan pelayanan yang baik, termasuk dugaan mengcovidkan pasien. Koordinator Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUP Prof Kandou, dr Hanry Takasenseran, menjelaskan semua tindakan yang diambil sudah sesuai dengan aturan yang berlaku.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, ada rekam medis yang bisa menjelaskan tentang tewasnya ibu hamil tersebut. Selain itu, pasien masuk sudah ada dokumen rapid antigen positif, yang artinya sudah sebagai kasus terkonfirmasi positif COVID-19.
“Semua yang dilakukan ada dalam catatan rekam medis kami. Jadi semua prosedur itu mengikuti regulasi yang ada. Semua bisa kami pertanggungjawabkan,” katanya.
Berikut Kronologi tewasnya MM alias Amy, versi keluarga maupun rumah sakit:
Versi Keluarga:
Sabtu, 31 Juli 2021
MM alias Amy yang tengah hamil, sekitar pukul 07:00 WITA, dibawa ke bidan di Desa Kolongan, Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara (Minut) dalam keadaan pecah ketuban (hamil 9 bulan). Hingga malam hari Amy masih di bidan. Dikarenakan bidan tidak bisa membantu lahir normal, maka bidan mengarahkan Amy ke rumah sakit.
ADVERTISEMENT
Minggu, 1 Agustus 2021
Sekitar pukul 10:00 WITA, Amy dibawa ke Rumah Sakit Umum Hermana Lembean. Sesampai di RSU Hermana Lembean, Ibu Amy ditolak dengan alasan bahwa Ibu Amy akan melahirkan anak pertama, dan tidak ada petugas kesehatan yang melayani. Selain itu kondisi RSU Hermana sedang full.
Saat itu juga, Amy dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Maria Walanda Maramis. Tiba di RSUD itu, tenaga kesehatan langsung memasangkan infus serta menyuntikan antibiotik. Sesuai prosedur, Amy kemudian dilakukan pemeriksaan Rapid Antigen. Hasil Antigen dinyatakan Reaktif.
Pihak RSUD Maria Walanda Maramis kemudian menyuruh suami Amy untuk menulis dan menandatangani surat yang menyatakan bahwa Amy Reaktif COVID-19, dan mengurus berkas untuk mempercepat proses operasi. Di ruangan itu juga ada pasien ibu hamil yang baru melahirkan.
ADVERTISEMENT
Setelah pengurusan administrasi selesai, pihak RSUD Maria Walanda Marmis justru merujuk Amy ke RSUP Prof Dr RD Kandou Malalayang, Kota Manado, dengan alasan ruang operasi di RSUD Walanda tutup di hari Minggu.
Sekitar pukul 16:00 WITA, Amy akhirnya dirujuk ke RSUP Prof Dr RD Kandou Malalayang, menggunakan mobil ambulans dari RSUD Maria Walanda Maramis. Tim tenaga kesehatan RSUD Walanda Maramis memperbolehkan keluarga naik di ambulance yang sama, padahal ada keluarga yang dalam keadaan hamil (Ibu Amy yang REAKTIF COVID tidak dipisahkan dengan keluarga).
Sampai di RSUP Prof Dr RD Kandou Malalayang, tanpa swab dan/atau pemeriksaan COVID-19 lanjutan, dokter langsung menyatakan ibu Amy positif COVID-19 dan harus segera diisolasi. Saat dirawat di ruang isolasi COVID-19, keluarga melihat dokter yang keluar masuk ruangan tidak memakai Alat Pelindung Diri (APD), hanya baju dokter biasa.
ADVERTISEMENT
Sekitar pukul 17.36 WITA, Amy mengirim VN (voice note) ke keluarga, dan mengeluh kelaparan, kepanasan, baju penuh muntah, perut kesakitan dan ingin pulang.
Senin, 2 Agustus 2021
Sekitar pukul 01.55 WITA, Dokter menyampaikan ke Amy bahwa bayi dalam kandungan sudah meninggal dunia. Sekitar pukul 06.00 WITA, Amy melahirkan bayinya dalam keadaan normal (menunggu bukaan 10) dan kondisi bayi sudah meninggal dunia.
Kemudian, bayi diserahkan ke keluarga, tanpa adanya prosedur COVID-19. Setelah itu, Amy sudah tidak ada komunikasi lagi dengan keluarga.
Keluarga Amy menyampaikan bahwa ada beberapa kejanggalan dalam kejadian itu. Ada tiga tuntutan keluarga atas kejadian itu.
Yang pertama, mereka mempertanyakan apakah benar pasien terkena Covid-19 atau tidak.
Kedua, setelah dinyatakan terpapar COVID-19, kenapa penanganan tidak seperti terkena COVID-19?.
ADVERTISEMENT
Ketiga, Keluarga menyampaikan kekecewaan mereka atas penanganan yang dianggap lambat untuk keselamatan almarhumah Amy.
Kronologi Ibu Hamil Tewas di RSUP Kandou Manado versi Keluarga dan Rumah Sakit (47827)
searchPerbesar
Koordinator Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUP Prof Kandou, dr Hanry Takasenseran
Versi RSUP Prof Kandou Manado melalui dr Joice Sondakh, Spesialis Kebidanan dan Kandungan yang menangani pasien:
Minggu, 1 Agustus 2021
MM alias Amy tiba di RSUP Prof Kandouw Manado sekitar pukul 17.00 WITA, dengan membawa rujukan dari Rumah Sakit Umum (RSU) Maria Walanda Maramis dengan diagnosa hamil pertama umur 27 tahun, hamil cukup bulan dan gawat janin (Ketuban pecah dingin).
Dari riwayat pemeriksaan di RSU Maria Walanda Maramis, sudah ada bukaan 4 cm, dan swab Antigen positif. Setelah tiba di RSUP Prof Dr RD Kandou, langsung dimasukan ke ruang isolasi.
Bidan memeriksa detak jantung bayi yang hasilnya sudah tidak ada atau sudah meninggal dunia. Dokter jaga langsung memeriksa kebenaran atas meninggalnya janin dan ternyata benar.
ADVERTISEMENT
Saat akan diperiksa lanjutan, Amy syok dan menolak. Kurang lebih dua jam pihak RSUP Prof Dr RD Kandou dan Keluarga membujuk Amy mau diperiksa. Baru sekitar pukul 19.00 WITA, bersedia diperiksa.
Ami kemudian di USG dengan hasil negatif, jika janin sudah meninggal dunia. Pihak RSUP Prof Dr RD Kandou menyiapkan Partus Normal, karena kondisi korban sedang di dalam ruang isolasi COVID-19. Partus normal dapat dilakukan karena posisi bayi memungkinkan, letak kepala bagus, bayi tidak besar sekali sebesar 3,5 Kg, panjang 50 Cm dan panggul Ami cukup luas.
Pihak RSUP Prof Kandou memberikan obat perangsang agar mempercepat proses persalinan sesuai protokol Rumah Sakit. Karena pasien dalam keadaan bagus, sekitar pukul 22.00 WITA, obat perangsan diberikan.
ADVERTISEMENT
Senin, 2 Agustus 2021
Sekitar pukul 01.00 WITA, pihak RSUP Prof Kandou kembali memberi obat perangsang kepada Ami.
Pada pukul 04.00 WITA, hasil pemeriksaan laboratorium secara keseluruhan, menunjukan hasil foto paru-paru didapati ada gambaran khas COVID-19, kemudian gangguan pada ginjal dan elektrolit darah menurun.
Sekitar pukul 05:40 WITA, pembukaan sudah lengkap dan siap untuk partus. Pukul 06:55 WITA bayi lahir, dan proses persalinan berjalan lancar, bayi dalam keadaan meninggal dunia dalam perut. Sisa air ketuban sudah bau. Setelah penjahitan, tidak ada keluhan dan tidak ada tanda-tanda sesak.
Pukul 07:00 WITA, menurut konsul dengan dokter penyakit dalam, bahwa hasil laboratorium menyatakan Ami terkonfirmasi positif COVID-19 gejala berat, ada shock septic, gangguan ginjal akut, fungsi hati sedikit meningkat, kadar elektrolit menurun, diagnosa internal, dengan catatan sistem organ menjadi kacau karena serangan COVID-19.
ADVERTISEMENT
Sekitar pukul 08:00 WITA, pasien mengeluh sesak, pihak RSUP Prof Kandou langsung memberi oksigen 15, dan nafas kembali bagus. Pukul 08:15 WITA, Ami kembali mengalami sesak nafas, saturasi oksigen naik turun antara 70 sampai 80, kemudian konsul ke ruangan Palma.
Setelah Palma acc, belum sempat pindah, Ami drop lagi. Saturasi oksigen semakin menurun. Pihak RSUP Kandou melakukan upaya penyelamatan dengan cara kejut jantung. Pukul 10:30 WITA pasien dinyatakan meninggal dunia dengan gawat nafas akut akibat COVID-19.
febry kodongan
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020