Nilai Tukar Petani di Sulut Naik 0,81 Persen di Februari 2023

Konten Media Partner
2 Maret 2023 17:41 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Petani di Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.
zoom-in-whitePerbesar
Petani di Kabupaten Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
MANADO - Mengalami penurunan di awal tahun 2023, Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Utara (Sulut) pada bulan Februari 2023 kembali naik sebesar 0,81 persen.
ADVERTISEMENT
Jika sebelumnya di bulan Januari 2023, NTP Sulut berada di angka 104,78, di bulan Februari ini menjadi 105,63.
Perubahan NTP ini sendiri berasal dari dua sisi, yakni dari sisi Indeks Harga yang diterima oleh petani naik sebesar 0,69 persen, dan dari sisi Indeks Harga yang dibayar oleh petani turun sebesar 0,12 persen.
Namun demikian, menurut Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut, Asim Saputra, jika dilihat secara tahun kalender maupun secara tahun ke tahun, justru ada tren penurunan yang terjadi.
"NTP secara tahun kalender turun 0,40 persen dan secara tahun ke tahun turun hingga mencapai 4,76 persen," ujar Asim.
Sementara itu, dijelaskan Asim, untuk Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga mengalami kenaikan sebesar 0,58 persen, dari nilai 103,77 di bulan Januari menjadi 104,37 di bulan Februari 2023.
ADVERTISEMENT
"Jika dilihat dari tahun kalender, NTUP mengalami penurunan 0,65 persen dan jika dibandingkan secara tahun ke tahun turun hingga 6,33 persen," kata Asim kembali.
Lanjut, terkait dengan laju inflasi, di bulan Februari 2023 ini khusus di wilayah perdesaan terjadi deflasi 0,20 persen, di mana deflasi terjadi pada kelompok pengeluaran Makanan, Minuman dan Tembakau.
Sementara delapan kelompok lainnya mengalami inflasi seperti Pakaian dan Alas Kaki; Perumahan, Air, Listrik dan Bahan Bakar Lainnya; Perlengkapan, Peralatan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga; Kesehatan; Transportasi; Rekreasi, Olahraga dan Budaya; Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran serta Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya.
"Sedangkan pada kelompok Informasi, Komunikasi, & Jasa Keuangan dan Pendidikan cenderung stagnan," tutup Asim.
manadobacirita