Orang Eropa Enggan Lihat Pasar Ekstrim Tomohon

KOALISI pecinta anjing dari seluruh dunia, menyebutkan jika anggapan banyak wisatawan asing senang melihat Pasar Ekstrim, Kota Tomohon, Sulawesi Utara adalah salah.
Menurut anggota Koalisi yang terdiri dari Chance for Animals Foundation, Dog Meat Free Indonesia (DMFI), Action Project Animal, Wordpress Media, Hope and Wellness foundation e.v Germany dan pecinta anjing se Eropa, para wisatawan asing justru akan menghindar setelah mengetahui ada tindakan biadab yang dilakukan terhadap hewan di pasar Ekstrim tersebut.
BACA JUGA: Pemerintah Sulut Diminta Komitmen Soal Larangan Konsumsi Daging Anjing
Sebastian Margenfeld, Founder and Director of Hope and Wellness foundation e.v Germany menyebutkan, orang-orang Eropa termasuk Jerman, tidak akan pernah mau melihat penyiksaan terhadap hewan, seperti yang terlihat di pasar Ekstrim.
"Pasar ekstrim adalah sesuatu yang tidak ingin dilihat orang-orang, terutama orang Barat dan Jerman, sama sekali tidak mau melihat hal seperti itu," tutur Sebastian.
Menurutnya, seharusnya yang ditonjolkan adalah keindahan dari Indonesia, sebuah negara yang memiliki banyak hal positif untuk diperlihatkan kepada dunia.
"Indonesia adalah negara yang sangat indah. Jangan tercoreng dengan hal-hal buruk seperti yang terjadi di pasar Ekstrim," ungkap Sebastian, Sabtu (2/3).
Sebelumnya, dalam pertemuan antara Koalisi Pecinta Anjing se dunia dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Jumat (1/3), Assisten I Edyson Humiang yang mewakili Gubernur Sulut, sempat keceplosan menyebutkan jika pasar ekstrim di Tomohon, menarik wisatawan untuk datang.
Namun demikian, Humiang menjelaskan jika Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara telah mengupayakan sosialisasi kepada masyarakat, tentang bahaya kesehatan mengkonsumsi daging anjing dan melarang tindakan brutal dalam membunuh hewan.
"Terima kasih karena para koalisi pecinta anjing ini mau menginformasikan mengenai bahaya kesehatan untuk masyarakat. Kami benar-benar mengpresiasinya dan siap untuk bekerjasama dalam membantu upaya sosialisasi itu," tutur Humiang.
isa anshar jusuf
