PPDS Ilmu Penyakit Dalam FK Unsrat Dibuka Lagi Usai Dibekukan karena Bullying
·waktu baca 2 menit

MANADO - Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, resmi dibuka lagi setelah sebelumnya dibekukan karena kasus Bullying yang dilakukan mahasiswa senior ke juniornya.
Dibukanya lagi PPDS Ilmu Penyakit Dalam ini, usai ada pertemuan antara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Selain itu, pihak Unsrat dan RSUP Prof Kandou pun telah melakukan penandatanganan komitmen terkait pembukaan kembali PPDS Ilmu Penyakit Dalam, dengan harapan dapat mencegah kejadian serupa kembali terulang.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan, dr. Azhar Jaya, menjelaskan jika terdapat 35 langkah yang wajib dilakukan guna memastikan adanya perbaikan pada program untuk dokter spesialis itu.
“35 langkah itu mulai dari perjanjian kerja, pengaturan jam kerja, pengadaan CCTV, pemantauan, profesional dengan look book, dan beberapa detail lain,” ujar Azhar di Manado.
Azhar juga mengatakan jika fungsi pengawasan sangat penting untuk dijalankan oleh dua belah pihak, sehingga dapat mencegah adanya praktik bullying.
“Jika masih ada laporan, kami akan berikan warning untuk dilakukan evaluasi. Kalau angkanya tidak terkendali maka otomatis kita akan lakukan audit lagi,” katanya lagi.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Unsrat, dr. Billy Kepel, mengaku bahagia dengan dibuka kembali program PPDS Ilmu Penyakit Dalam Unsrat.
Ia pun memastikan bila pihaknya akan menjaga kepercayaan tersebut dengan menaati komitmen bersama yang telah dibuat.
“Ke depan kami berkomitmen untuk melaksanakan apa yang sudah disepakati bersama. Dan berkomitmen untuk turut mengawasi bersama,” ujarnya lagi.
Sebelumnya, Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, dibekukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada bulan Oktober 2024 lalu.
Pembekuan PPDS Ilmu Penyakit Dalam ini disebabkan ditemukannya kasus perundungan (bullying) yang dilakukan oleh mahasiswa senior kepada juniornya. Setelah hampir delapan bulan dibekukan, program ini akhirnya kembali dibuka.
