Konten Media Partner

Sulawesi Utara Alami Deflasi 3 Bulan Berturut, Tahun 2024 Deflasi Sudah 6 Kali

Manado Baciritaverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tomat menjadi komoditas yang menjadi penahan laju inflasi di Sulawesi Utara sehingga di bulan September terjadi deflasi.
zoom-in-whitePerbesar
Tomat menjadi komoditas yang menjadi penahan laju inflasi di Sulawesi Utara sehingga di bulan September terjadi deflasi.

MANADO - Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), kembali mengalami deflasi di bulan September 2024. Ini merupakan deflasi ketiga secara berturut sejak bulan Juli, Agustus dan September 2024.

Tak hanya itu, deflasi juga telah terjadi sebanyak enam kali sepanjang tahun 2024 ini, yakni di bulan Januari, Februari, Mei, Juli, Agustus dan September.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulut, menyebutkan jika deflasi secara month to month (m-to-m) di bulan September ini sebesar 0,54 persen. Dan jika dilihat secara year to date atau tahun kalender, deflasi sebesar 0,11 persen.

Adapun komoditas ekonomi yang memilik andil menahan laju inflasi atau penyebab deflasi adalah tomat sebesar 0,46 persen, daging ayam ras dan daun bawang 0,10 persen, kangkung 0,09 persen dan air kemasan 0,07 persen.

Kepala BPS Sulut, Aidil Adha, menjelaskan di bulan September 2024 ini, jika dilihat andil berdasarkan kelompok pengeluaran, maka yang menyebabkan deflasi di antaranya kelompok pengeluaran:

  • Makanan, minuman dan tembakau: -1,84 persen dengan andil deflasi 0,60 persen

  • Pakaian dan alas kaki: 0,83 persen dengan andil deflasi 0,05 persen

  • Perlengkapan, peralatan dan Pemeliharaan rutin Rumah Tangga: -0,33 persen dengan andil deflasi 0,01 persen

  • Kesehatan: -0,35 persen dengan andil deflasi 0,01 persen

  • Pendidikan: -1,29 persen dengan andil deflasi 0,04 persen

  • Perawatan pribadi dan jasa lainnya: -0,15 persen dengan andil deflasi 0,01 persen

  • "Sementara kelompok yang terjadi inflasi adalah kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga 0,20 persen, transportasi 1,03 persen, Rekreasi, Olahraga dan Budaya 1,59 persen dan Penyediaan makanan dan minuman 0,04 persen," kata Aidil.