Konten dari Pengguna

Serunya Berdiplomasi dengan Anak-anak Kelas 5 SD di Amerika Serikat

Margaretta Puspita

Margaretta Puspita

A scribbler of verses who thinks she is a poet, a mother of two who always questions her parenting skills, and a woman who invests so much time and effort for infrastructure diplomacy.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Margaretta Puspita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah anda mencoba menjelaskan mengenai profesi atau pekerjaan anda kepada anak kecil? Katanya, jika kita tidak bisa menjelaskan tentang sesuatu kepada anak kecil hingga mereka mengerti, maka kita sesungguhnya tidak paham mengenai sesuatu itu.

Penulis dan Tim menjelaskan tentang Indonesia kepada anak-anak kelas 5 SD di AS. (Sumber: KBRI Washington, D.C.)
zoom-in-whitePerbesar
Penulis dan Tim menjelaskan tentang Indonesia kepada anak-anak kelas 5 SD di AS. (Sumber: KBRI Washington, D.C.)

Salah satu tugas rutin saya sewaktu bertugas di KBRI Washington, D.C. adalah mengenalkan Indonesia dan menjelaskan tentang diplomasi Indonesia kepada anak-anak kelas-5 SD di Amerika Serikat (AS). Sungguh mudah menjelaskan tentang Indonesia dan politik luar negeri kita kepada politisi, pejabat, jurnalis atau sesama diplomat asing lainnya. Mereka tentu sudah banyak tahu tentang Indonesia, namun menjelaskan mengenai Bhineka Tunggal Ika kepada sekelompok anak berusia 10 tahun yang bahkan tidak pernah mendengar tentang Indonesia sebelumnya merupakan keseruan tersendiri.

Embassy Adoption Program, sebuah program yang diinisiasi oleh District of Columbia Public Schools bekerja sama dengan Washington Performing Arts, bertujuan untuk meluaskan horison anak-anak SD di DMV (D.C., Maryland dan Virginia) dan mengenalkan budaya asing sejak dini sehingga diharapkan dapat menumbuhkan toleransi terhadap keberagaman yang lebih tinggi. Dalam program ini, Kedutaan asing "mengadopsi" kelas-5 atau kelas-6 Sekolah Dasar Negeri selama enam bulan. Saya dan tim mengisi dua jam pelajaran setiap bulan untuk mengenalkan tentang Indonesia, dari bentuk kepulauan kita hingga permainan tradisional anak-anak Indonesia. Lalu di akhir bulan ke-6 anak-anak tersebut mempresentasikan apa yang telah mereka pelajari kepada Duta Besar RI sebagai salah satu bentuk penghargaan.

Kunci keberhasilan dalam program ini adalah perencanaan materi pengajaran yang baik. Pertemuan yang hanya 6 kali tersebut sangat terbatas untuk menceritakan begitu banyak aspek tentang Indonesia, belum lagi keterbatasan sarana peraga. Saya dan tim harus memilah pengetahuan tentang Indonesia yang relevan namun menarik untuk disampaikan kepada anak-anak tersebut.

Agar menarik, ada 3 seni berbicara dengan anak-anak yaitu melalui hal yang mereka (kebanyakan) suka, yang mereka tidak asing, dan melalui hadiah. Tantangannya kemudian adalah mengkaitkan semua itu dengan yang menjadi ciri khas Indonesia.

1. Aku suka Komodo!

Pada saat pertemuan pertama, kami membawa gambar Komodo yang kami cetak besar dan kami taruh di depan kelas. Decak kagum bercampur ngeri kami dengar mereka, “Who wants to meet Komodo, the only living dinosaur”(Siapa yang mau berkenalan dengan Komodo, si dinosaurus yang hidup?) dan otomatis mereka serentak mengangkat tangan. Lalu kami melanjutkan cerita mengenai Komodo sebagai satwa asli Indonesia dan hanya ada di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar dan Gili Motong, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Tidak hanya Komodo, kami juga menjelaskan satwa dan fauna asli Indonesia lainnya. Selama menjelaskan, pada layar kami sajikan video mengenai kekayaan alam Indonesia

Kebetulan di Kebun Binatang Smithsonian, Washington, D.C. terdapat satu ekor Komodo. Sehingga dalam akhir program sebelum presentasi di hadapan Duta Besar, kami menjadwalkan karya wisata untuk melihat Komodo secara langsung. Pada kesempatan ini kami sekaligus menjelaskan mengenai upaya konservasi alam yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Indonesia.

Pada pertemuan selanjutnya, kami mengenalkan beberapa informasi umum seperti bendera Indonesia dan artinya serta bentuk kepulauan Indonesia yang berjumlah lebih dari 17.000 pulau. Kembali mereka tercengang dan muncul pertanyaan lugu seperti “Do you guys travel with small boats everywhere?” (Apakah kalian pergi ke mana-mana dengan kapal kecil?). Kali ini giliran saya yang tersenyum sembari menjelaskan bahwa Indonesia mempunyai 5 pulau besar dengan beberapa kota metropolitan yang pembangunannya pesat.

Kontras dengan video pertama, kami memperlihatkan video kota-kota besar dengan gedung pencakar langit serta konektivitas pelabuhan maupun bandara untuk menggambarkan Indonesia yang modern. “I thought it is all jungle in Indonesia,” ujar salah satu murid (Aku pikir Indonesia isinya hanya hutan). Biasanya kami kemudian menceritakan sedikit mengenai Indonesia permainan tradisional dan modern anak-anak Indonesia.

2. Aku tahu lagu ini!

Pada bulan berikutnya, kami mengenalkan Bahasa Indonesia melalui lagu anak-anak Indonesia yang disadur dari lagu anak-anak berbahasa Inggris. Tentunya lagu tersebut tidak asing bagi mereka karena diajarkan berulang sewaktu mereka kecil. Beberapa contohnya adalah lagu "ABC", “Kalau Kau Senang Hati”, dan “Satu-satu Aku Sayang Ibu”.

Mengajarkan Bahasa Indonesia melalui lagu anak-anak. (Sumber: KBRI Washington, D.C.)

Karena tidak asing, mereka jadi lebih cepat menyerap Bahasa Indonesia dengan memadankan lirik dalam Bahasa Inggrisnya. Saya pun jadi lebih mudah mengajarkannya, tidak terbayang jika harus mengajarkan lagu “Abang Tukang Bakso” yang sama sekali asing untuk mereka.

3. Terima kasih untuk hadiahnya, Ibu!

Pada pertemuan-pertemuan berikutnya, kami membawa hadiah kecil untuk mereka yang dapat menjawab pertanyaan ataupun berpartisipasi aktif. Hadiah kecil ini tentu saja berhubungan dengan Indonesia seperti pembatas buku wayang atau keripik tempe. Mereka semakin antusias selama jam pelajaran dan hadiah tersebut merupakan salah satu sarana kami mengajarkan lebih dalam mengenai budaya dan kulineri Indonesia.

Terima kasih, Ibu! (Sumber: KBRI Washington, D.C.)

Pengalaman mengajar tentang Indonesia lewat Embassy Adoption Program tersebut merupakan salah satu yang paling berkesan untuk saya. Mengenalkan Indonesia kepada anak-anak di AS dan menjawab beribu pertanyaan mereka, menyadarkan saya bahwa masih banyak hal tentang negara saya sendiri yang harus saya pelajari.

Tanggapan dan persepsi dari anak-anak ini merupakan gambaran yang lebih riil bagaimana warga AS melihat Indonesia. Diplomasi publik kepada orang biasa memang tidak dapat dirasakan efeknya secara langsung, ini merupakan investasi jangka panjang.

Program semacam ini memang tidak langsung berujung pada peningkatan citra positif Indonesia di publik AS. Sebagaimana layaknya investasi yang berbuah, jika dilakukan secara berlanjut dan eskalasi skala bertahap maka setidaknya akan meningkatkan familiaritas publik AS terhadap Indonesia. Pemahaman mengenai Indonesia akan lebih baik jika terinternalisasi sejak dini.

Siapa yang tahu jika 30 tahun dari sekarang beberapa dari anak-anak kelas 5 SD tersebut akan menjadi pembuat kebijakan di Amerika Serikat?