Mentalitas Sosial di Era Digital: Cepat Bereaksi, Tapi Enggan Merefleksi

Pengamat sosial yang meneliti dinamika masyarakat kontemporer melalui pendekatan sosiologis kritis. Temui saya di Bluesky: @markusacian.com
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Markus Acian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kita hidup di era reaksi. Jempol lebih cepat bergerak daripada pikiran. Komentar muncul sebelum kalimat selesai dibaca. Dalam ruang digital yang penuh desakan untuk menanggapi, kita perlahan kehilangan satu kemampuan penting dalam kehidupan sosial: refleksi.
Fenomena ini mencerminkan perubahan dalam mentalitas sosial kita sebagai masyarakat digital. Di media sosial, opini dianggap berharga bukan karena isinya, tapi karena kecepatannya. Kita tidak lagi bertanya, “Apakah ini masuk akal?”, melainkan, “Apakah ini akan viral?”
Munculnya pola seperti ini tentu tidak terjadi dalam ruang hampa. Budaya algoritmik — yang memberi ruang lebih besar untuk konten cepat, panas, dan emosional — ikut membentuk perilaku publik. Yang penting bukan lagi kebenaran, tapi gema. Semakin gaduh, semakin diperhatikan.
Hal ini tidak hanya berdampak pada diskusi daring, tetapi juga pada cara masyarakat menanggapi isu-isu nyata. Isu sosial, politik, hingga tragedi kemanusiaan kerap ditanggapi dengan emosi mentah — entah simpati yang berlebihan atau kemarahan yang belum tentu terarah. Semuanya datang secara spontan, dan sering kali menghilang dengan cepat. Kita terlibat secara emosional, tapi dangkal.
Mentalitas reaktif yang terus dirawat akan membentuk masyarakat yang rapuh. Kita mudah tersinggung, mudah terbelah, dan sulit mendengar yang berbeda. Dalam konteks inilah, ruang publik kita justru menyempit, bukan membesar. Kita tidak berdiskusi, kita berperang opini. Dan tak jarang, publik justru terjebak dalam apa yang disebut “moral panic digital” — di mana satu isu kecil bisa dibesar-besarkan karena dorongan algoritma, sementara isu yang jauh lebih mendesak malah tenggelam. Perhatian publik menjadi komoditas, dan siapa yang paling berisik cenderung paling didengar. Sayangnya, ruang digital justru mempercepat itu. Orang saling mengoreksi, tapi lupa mengoreksi diri. Narasi saling mengalahkan, bukan saling memahami. Kita membaca untuk menyerang, bukan untuk mengerti. Kita “berpihak” bukan berdasarkan kesadaran, tapi berdasarkan siapa yang lebih dulu memenuhi beranda kita. Apakah ini berarti media sosial sepenuhnya buruk? Tidak juga. Media sosial bisa menjadi alat pembelajaran sosial yang luar biasa — asalkan digunakan dengan kesadaran. Persoalannya bukan pada teknologinya, tapi pada mentalitas kita saat menggunakannya. Dan sayangnya, kesadaran sosial tak bisa dibentuk oleh algoritma. Sebagai bagian dari masyarakat yang hidup di era informasi, kita punya tanggung jawab: untuk tidak hanya menjadi cepat, tapi juga cermat. Untuk tidak hanya menjadi berani bicara, tapi juga bersedia mendengar. Untuk tidak hanya menjadi pembaca, tapi juga perenung. Karena masyarakat yang tumbuh sehat bukanlah yang paling keras suaranya, tetapi yang paling kuat kemauannya untuk saling memahami. Dan itu hanya bisa dibangun jika kita memberi ruang bagi keheningan, jeda, dan perenungan — bahkan di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Mentalitas sosial tidak dibentuk oleh teknologi. Ia dibentuk oleh nilai-nilai yang kita pilih untuk dihidupkan, bahkan di layar kecil di tangan kita. Ketika teknologi bergerak lebih cepat dari budaya, maka kitalah yang harus memperlambat — agar tak kehilangan arah. Dan kalau hari ini terasa terlalu gaduh, mungkin bukan karena terlalu banyak yang bicara, tapi terlalu sedikit yang benar-benar mendengar.
