Saat Toleransi Menjadi Barang Langka di Indonesia

Pengamat sosial yang meneliti dinamika masyarakat kontemporer melalui pendekatan sosiologis kritis. Temui saya di Bluesky: @markusacian.com
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Markus Acian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang berlandaskan Pancasila, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang seharusnya menjadi perekat keberagaman. Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa nilai luhur itu kerap terkoyak oleh perilaku sebagian orang yang gagal memahami maknanya. Fenomena intoleransi semakin terasa di ruang publik. Bukan karena ajaran agama yang salah, melainkan tafsir dan sikap segelintir orang yang mengaku beragama, tetapi menutup diri dari perbedaan. Dalam keyakinannya, mereka memandang agama yang dianut sebagai satu-satunya kebenaran mutlak, sementara keyakinan lain dianggap sesat atau kafir. Cara berpikir seperti inilah yang menumbuhkan bibit intoleransi. Padahal, setiap agama mengajarkan kebaikan, cinta kasih, dan perdamaian. Persoalannya muncul ketika pemahaman sempit atas ajaran agama dijadikan pembenaran untuk merendahkan, bahkan menolak keberadaan orang lain yang berbeda keyakinan. Ironisnya, praktik intoleransi ini justru sering mengatasnamakan nilai-nilai suci. Indonesia adalah rumah bagi keragaman. Dengan lebih dari 17 ribu pulau, ratusan suku bangsa, bahasa, budaya, serta berbagai agama dan kepercayaan, bangsa ini seharusnya tampil sebagai contoh toleransi dunia. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya: perbedaan sering dijadikan alasan untuk saling curiga dan memecah belah. Krisis toleransi ini seharusnya menjadi alarm bersama. Menjaga keberagaman bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga agama, tetapi tanggung jawab seluruh warga negara. Toleransi tidak cukup berhenti pada slogan, melainkan harus tercermin dalam sikap sehari-hari—di lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, hingga ruang publik digital. Jika Indonesia terus membiarkan intoleransi tumbuh, maka Pancasila hanya akan menjadi semboyan kosong tanpa makna. Tetapi bila kita mampu kembali ke ruh sejati Bhinneka Tunggal Ika, Indonesia bukan hanya bertahan sebagai bangsa majemuk, tetapi juga menjadi teladan dunia dalam merawat perbedaan.
