Antara Apresiasi Diri dan Impulsivitas: Self Reward Jadi Jebakan Finansial

Mahasiswa Akuntansi Universitas Pamulang yang tertarik pada isu sosial, gaya hidup, dan fenomena yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Marsetya Lule tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak dari kita merasa sedang mengapresiasi diri setiap kali berbisik, “aku pantas mendapatkan ini,” sambil menekan tombol checkout. Kita menyebutnya self reward, sementara saldo di akhir bulan menyebutnya hal lain. Fenomena ini banyak dipicu oleh budaya media sosial yang menormalisasi narasi seperti “you deserve it” atau “self-care is a priority”. Hal ini paling sering dialami mahasiswa, first-jobber, dan profesional muda.
Self reward sebenarnya bukan musuh. Masalahnya muncul ketika “apresiasi diri” dipakai sebagai pembenaran untuk setiap keinginan sesaat. Self reward yang sehat perlu dibedakan dari impulsivitas yang diberi label manis.
Hadiah yang Terlalu Sering Bukan Lagi Hadiah
Hadiah bermakna karena ia datang setelah usaha dan terasa istimewa. Membeli buku incaran setelah skripsi rampung adalah bentuk penghargaan. Tetapi, kopi mahal, jajan, dan checkout tengah malam setiap kali merasa “capek” lebih mirip refleks. Saat sesuatu dilakukan setiap hari, ia perlahan kehilangan kesan istimewanya.
Masalahnya lebih dalam dari sekadar soal nominal. Perlahan, otak kita belajar menghubungkan rasa lelah dengan belanja. Kita tidak lagi membeli karena ingin mengapresiasi diri, melainkan karena ingin cepat merasa lebih baik. Pada titik itu, belanja menjadi cara kita menghindari perasaan, bukan merayakan pencapaian.
Godaan yang Makin Murah dan Makin Mulus
Dari sisi ekonomi, hambatan untuk membeli makin tipis. Paylater, cicilan nol persen, dan promo tanggal kembar membuat pengeluaran terasa ringan. Rp150.000 sekaligus terasa berat, tetapi Rp25.000 per bulan selama enam bulan terasa “tidak apa-apa”. Padahal, ketika beberapa cicilan kecil menumpuk, gaji bulan depan sudah terpotong sebelum sempat kita terima.
Bagi yang berpenghasilan masih terbatas, hal tersebut bukan lagi sekadar kebocoran kecil, melainkan beban yang menyempitkan ruang gerak kita sendiri.
Dari sisi sosial, konten healing, haul, dan treat yourself di media sosial turut menormalisasi konsumsi sebagai bentuk menyayangi diri. Pelan-pelan, kita menjadi sulit membedakan kebutuhan dari tuntutan citra. Rasa tertinggal itulah yang sering mendorong kita membeli barang yang sebenarnya tidak kita inginkan.
“Hidup Hanya Sekali”
Tentu, alasan tersebut dapat dipahami. Kita sudah bekerja keras, jadi kenapa harus menahan diri terus? Saya setuju bahwa hidup tidak boleh hanya berisi menabung dan menunda kebahagiaan. Kita telah bekerja keras, dan menghargai diri sendiri memang penting di tengah kelelahan yang kita rasakan.
Namun, argumen ini goyah ketika dipakai untuk meniadakan batas. Membatasi diri bukan berarti menyiksa diri. Justru, orang yang memiliki anggaran self reward yang jelas bisa menikmati hadiahnya tanpa rasa bersalah karena uangnya memang sudah disiapkan.
Sebaliknya, belanja tanpa batas sering terasa hampa karena bayang-bayang tagihan ikut duduk di meja. Kebebasan finansial bukan berarti memiliki hak untuk membeli apa saja, melainkan memiliki ketenangan karena kita tidak terjerat oleh pilihan kita sendiri.
Merawat Diri Tanpa Menjebak Diri
Lalu, bagaimana menjaga keseimbangan? Ada beberapa hal sederhana yang bisa dicoba.
Pertama, sisihkan dana khusus untuk apresiasi diri setiap bulan dengan nominal yang realistis. Kedua, beri jeda sebelum membeli, lalu tanyakan kepada diri sendiri: “Aku membeli ini karena memang mau, atau karena sedang lelah?” Ketiga, ingat bahwa tidak semua hadiah harus berbentuk barang. Tidur yang cukup atau jalan sore sering kali lebih menyembuhkan dan hampir tidak memakan biaya.
Pada akhirnya, self reward yang baik adalah yang membuat kita lebih tenang di akhir bulan, bukan lebih cemas. Menghargai diri berarti juga memikirkan versi diri kita di masa depan yang akan menanggung akibat dari keputusan hari ini.
Jadi, lain kali jari kita melayang di atas tombol checkout dengan alasan “aku pantas”, berhentilah sejenak. Kita memang pantas mengapresiasi diri sendiri. Namun, jangan sampai hadiah sebagai bentuk apresiasi diri justru menjadi beban untuk diri kita di esok hari.
