Kenapa Toko Online Orang Lain Ramai, Punyaku Sepi?
Tulisan dari Marsha Fahira tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih, sudah capek-capek foto produk, bikin caption, lalu posting di media sosial, tetapi yang melihat cuma sedikit? Notifikasi yang ditunggu-tunggu ternyata bukan pesanan, melainkan sekadar tanda suka dari teman sendiri. Sementara itu, saat melihat toko online lain, rasanya hampir setiap hari ada saja pembelinya.
Awalnya mungkin muncul pikiran, “Apa produk yang aku jual kurang menarik, ya?” Apalagi kalau barang yang dijual sebenarnya mirip dengan milik toko lain. Harganya juga tidak jauh berbeda. Namun, setelah dipikir-pikir, ternyata berjualan online bukan cuma soal punya produk bagus dan harga murah. Ada hal lain yang sering luput dari perhatian, yaitu cara memperkenalkan produk kepada calon pembeli.
Foto Produk Bagus, Tapi Kenapa Masih Sepi?
Coba bayangkan ada dua toko yang sama-sama menjual tas. Toko pertama hanya mengunggah foto tas dengan tulisan, “Tas ready, yuk order!” Sementara itu, toko kedua memperlihatkan isi tas, ukurannya, pilihan warna, dan video saat tas digunakan.
Kalau menjadi calon pembeli, kemungkinan besar kita akan lebih tertarik melihat toko kedua. Bukan berarti produk toko pertama jelek, tetapi informasi yang diberikan belum cukup membuat orang yakin.
Aku rasa, hal seperti ini sering terjadi dalam jualan online. Penjual terkadang terlalu fokus menawarkan barang, sampai lupa bahwa calon pembeli juga ingin tahu apakah produk tersebut cocok dengan kebutuhan mereka.
Lagi pula, pembeli tidak bisa memegang atau mencoba barang secara langsung. Jadi, foto, video, dan penjelasan produk menjadi salah satu cara untuk membantu mereka membayangkan barang yang akan dibeli.
Jangan Sampai Konten Isinya Jualan Terus
Pernah melihat akun toko online yang hampir setiap unggahannya berisi tulisan “Buruan checkout!”, “Stok terbatas!”, atau “Diskon hari ini!”? Awalnya mungkin menarik, tetapi kalau terus-menerus melihat hal yang sama, orang bisa merasa bosan.
Menurutku, konten jualan tidak harus selalu mengajak orang membeli. Sesekali, penjual bisa membagikan tips, menunjukkan cara menggunakan produk, atau menceritakan masalah yang bisa diselesaikan dengan barang tersebut.
Misalnya, kalau menjual tas untuk mahasiswa, kontennya bisa berupa video tentang barang-barang yang muat di dalam tas untuk kuliah seharian. Konten seperti ini terasa lebih dekat dengan kehidupan calon pembeli daripada sekadar foto produk dengan tulisan harga.
Hal sederhana seperti itu juga bisa membuat orang lebih mudah memahami manfaat produk. Informasi yang jelas dan tampilan yang menarik merupakan bagian penting dalam jual beli online. Penjual bisa mempelajari panduan dari Bank Indonesia tentang berjualan di e-commerce https://www.bi.go.id/id/BLISS/modul-dasar/contents/ecommerce.aspx untuk memahami kegiatan jual beli secara digital.
Kalau Nggak Viral, Berarti Gagal?
Sekarang, banyak orang menganggap konten yang berhasil adalah konten yang ditonton ribuan bahkan jutaan kali. Padahal, jumlah penonton yang banyak belum tentu membuat penjualan ikut meningkat.
Bayangkan sebuah video produk ditonton 10.000 orang, tetapi hanya beberapa yang bertanya dan membeli. Di sisi lain, video yang ditonton 500 orang justru bisa mendatangkan pesanan karena orang-orang yang melihatnya memang sedang membutuhkan produk tersebut.
Dari situ, menurutku, viral bukan satu-satunya ukuran keberhasilan jualan online. Jumlah penayangan memang bisa menjadi tanda bahwa konten menarik perhatian, tetapi penjual juga perlu melihat apakah orang mulai bertanya, mengunjungi toko, atau melakukan pemesanan.
Jadi, daripada terus mengejar viral, lebih baik memikirkan bagaimana membuat konten yang tepat untuk calon pembeli. Memang menyenangkan kalau unggahan ramai, tetapi akan lebih menyenangkan lagi kalau perhatian tersebut berubah menjadi penjualan.
Sepi Bukan Berarti Harus Menyerah
Kalau toko online masih sepi, rasanya wajar kalau mulai kehilangan semangat. Apalagi ketika sudah berusaha membuat konten, tetapi hasilnya belum sesuai harapan. Namun, menurutku, kondisi ini tidak selalu berarti produknya tidak laku atau usahanya tidak punya peluang.
Coba lihat lagi unggahan yang sudah dibuat. Apakah fotonya cukup jelas? Apakah informasi harga dan ukuran sudah lengkap? Apakah caption menjelaskan manfaat produk? Atau justru kontennya terlalu sering menawarkan barang tanpa memberikan informasi yang benar-benar dibutuhkan calon pembeli?
Penjual juga bisa mencoba jadwal posting yang sederhana, misalnya tiga kali seminggu. Setelah beberapa waktu, perhatikan unggahan mana yang paling banyak mendapat respons. Dari situ, kita bisa belajar tentang jenis konten yang lebih disukai calon pembeli.
Selain konten, harga, kualitas produk, dan pelayanan juga tetap perlu diperhatikan. Jangan sampai kontennya sudah menarik, tetapi calon pembeli malah ragu karena informasi tidak lengkap atau pertanyaannya tidak dijawab dengan baik.
Pada akhirnya, membuat toko online ramai memang membutuhkan proses. Tidak semua unggahan akan berhasil, dan tidak semua produk langsung mendapat banyak pembeli. Namun, setiap respons bisa menjadi bahan untuk memperbaiki cara berjualan.
Jadi, kalau sekarang toko online masih sepi, jangan buru-buru membandingkan diri dengan toko lain. Coba mulai dari hal sederhana: tampilkan produk dengan lebih jelas, buat konten yang dekat dengan kebutuhan pembeli, dan pelajari apa yang berhasil dari setiap unggahan. Sebab, tujuan konten bukan sekadar membuat orang berhenti melihat layar, tetapi juga membuat mereka tertarik dan percaya pada produk yang kita tawarkan.
referensi
Bank Indonesia - Panduan Berjualan di E-commerce
https://www.bi.go.id/id/BLISS/modul-dasar/contents/ecommerce.aspx?
Google - Perilaku Konsumen dalam Perjalanan Belanja

