Konten dari Pengguna

Ketika Gratis Menjadi Jalan Sehat: Cerita di Balik 29,8 Juta Peserta CKG

Erlangga W Gunadi

Erlangga W Gunadi

Seorang ASN Humas di Kemenkes yang sedang mencoba menyukai kembali menulis. Saat ini juga sedang mencoba menjadi Youtuber dengan nama channel Erlangga Maskoki. Senang berbagi info dan pengetahuan melalui youtube dan tulisan

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Erlangga W Gunadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu lalu, seorang teman bercerita dengan nada bercanda, “Aku takut periksa kesehatan. Nanti malah ketahuan sakitnya apa!”

Saya tertawa kecil, tapi di hati saya merasa sedih — karena dia tidak sendiri. Banyak orang di sekitar saya, bahkan saudara sendiri, mengaku takut atau enggan melakukan pemeriksaan kesehatan. Bukan karena tidak peduli, tapi karena ada dua hal yang sering mereka sebut: takut hasilnya, dan takut biayanya.

Ada yang bekerja di kantor dengan program medical check-up (MCU) rutin, memilih ikut hanya karena program wajib dari kantornya dan takut kena sanksi, bukan karena sadar akan kesehatannya, dia berujar “malah stres kalau tahu hasilnya.” Ada pula yang ingin periksa, tapi menunda karena tidak punya uang lebih.

Namun, semua alasan itu tiba-tiba hilang saat program Cek Kesehatan Gratis (CKG) diluncurkan oleh Kementerian Kesehatan pada Februari 2025.

Dari Rasa Takut Menjadi Antusiasme

Data terbaru per 17 September 2025 mencatat, sudah 29,8 juta orang di 38 provinsi mengikuti CKG. Jumlah ini luar biasa — hampir menyamai total penduduk Malaysia.

Bahkan 99,6% puskesmas di seluruh Indonesia (10.226 unit) telah melayani program ini.

Ketika saya membaca angka itu, saya teringat wajah-wajah yang dulu takut periksa kesehatan. Kini mereka berbondong-bondong datang, membawa KTP, antre dengan sabar, dan pulang dengan rasa lega. Mengapa? Karena gratis.

Banyak peserta CKG yang saya lihat di pemberitaan adalah para lansia. Mereka dengan jujur mengatakan bahwa mereka senang ikut program ini karena tidak perlu bayar. “Kalau bayar, mana sanggup? Saya sudah tidak kerja lagi,” kata seorang nenek.

Bahkan para orang tua murid yang dulu enggan membawa anaknya ke dokter kini mulai sadar pentingnya pemeriksaan dini. Sejak Agustus 2025, program CKG Sekolah menjangkau 5,9 juta siswa di lebih dari 91 ribu sekolah dan pesantren, atau sekitar 12,63% dari peserta didik Indonesia.

Bagi banyak keluarga, ini kesempatan yang mungkin belum pernah mereka punya sebelumnya — kesempatan tahu kondisi kesehatan tanpa harus memikirkan biaya.

Fakta di Balik Angka

Dari total peserta, 57,5% adalah perempuan, menunjukkan bahwa kaum perempuan — sering kali pengambil keputusan kesehatan dalam keluarga — lebih aktif memanfaatkan layanan ini.

Namun, di balik antusiasme itu, data pemeriksaan juga menyimpan peringatan penting. Pada bayi dan balita, 19,3% kasus yang terdeteksi menunjukkan masalah kesehatan serius sejak lahir (data per 19 Agustus 2025).

Sementara pada kelompok dewasa, 45,7% peserta berisiko yang diperiksa lanjutan terdeteksi memiliki potensi stroke, dan di kelompok lansia 50,9% peserta berisiko juga menunjukkan potensi stroke (data per 20 Agustus 2025).

Artinya, banyak dari mereka yang tampak sehat ternyata menyimpan risiko serius yang baru terungkap setelah ikut program ini.

Bayangkan bila CKG tidak pernah ada — berapa banyak yang mungkin terlambat tahu kondisi kesehatannya?

Gratis Itu Bukan Sekadar Harga, Tapi Akses

Cerita teman dan saudara saya tadi, yang takut periksa kesehatan, kini punya makna baru.

Ketika layanan kesehatan gratis hadir, rasa takut mereka kalah oleh kesempatan. Gratis ternyata bukan sekadar soal biaya nol rupiah — tapi tentang akses dan keberanian untuk tahu kondisi diri sendiri.

CKG membuat banyak orang berani datang ke puskesmas tanpa rasa malu, tanpa khawatir dompetnya kering.

Bagi masyarakat kecil, “gratis” bukan kemewahan, tapi jembatan menuju harapan.

Saya percaya, di balik angka 29,8 juta peserta itu, ada jutaan cerita yang tak pernah tertulis:

orang-orang yang baru pertama kali tahu tekanan darahnya tinggi, ibu-ibu yang sadar pentingnya deteksi dini, dan lansia yang akhirnya mendapat perhatian kesehatan di usia senja.

Dari Program ke Budaya

Dengan partisipasi hampir 30 juta warga dan 99,6% puskesmas, CKG bukan lagi sekadar program pemerintah. Ia mulai tumbuh menjadi gerakan bersama menuju masyarakat sehat.

Namun, tantangannya belum selesai. Setelah pemeriksaan, apa yang terjadi selanjutnya? Apakah masyarakat akan menjaga pola hidup sehat, atau kembali ke kebiasaan lama?

Pertanyaan itu selalu terngiang di kepala saya:

“Apakah Cek Kesehatan Gratis hanya akan berhenti sebagai angka keberhasilan, atau benar-benar menjadi budaya hidup sehat di setiap rumah tangga Indonesia?”

Saya percaya jawabannya ada pada kita semua. Pemerintah bisa membuka akses, tapi kesadaran menjaga kesehatan hanya bisa lahir dari niat masing-masing individu.

Semoga CKG menjadi langkah awal — bukan akhir — dari perjalanan panjang Indonesia menuju bangsa yang sehat, kuat, dan berdaya saing.

CKG Sekolah-Humas Kesprimkom