Studi Industri 2025: Liburan yang Penuh Fantasi
Tulisan dari Matthew Christian Nugraha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika guru mengumumkan bahwa kelas kami akan mengikuti kegiatan studi industri pada tahun 2025, saya tidak langsung membayangkan deretan angka, pasar modal, atau penjelasan panjang tentang ekonomi. Yang terlintas di kepala justru bus, tawa teman-teman, kota besar, dan suasana berbeda dari rutinitas sekolah. Namun semakin hari, saya mulai menyadari bahwa perjalanan ini bukan hanya soal pergi ke luar kota. Ini tentang cara baru memahami pelajaran yang mungkin selama ini terasa kaku jika hanya dilihat dari buku.
Setiap sekolah punya cara masing-masing untuk membuat siswanya belajar sambil menikmati suasana yang lebih santai. Salah satu caranya adalah melalui kegiatan studi industri. Begitu juga dengan SMA Trinitas Bandung, yang tahun ini berkesempatan mengunjungi Bursa Efek Indonesia (BEI), Sea World, dan Dunia Fantasi (Dufan) di Jakarta. Dari perjalanan ini, para siswa diharapkan bisa mengenal lebih dekat dunia perekonomian, perdagangan saham, hingga berbagai hal yang terkait investasi.
Pagi itu, tepat tanggal 9 Desember 2025, rombongan berangkat dari Bandung menuju Jakarta. Walaupun bulan Desember identik dengan liburan, para siswa sadar bahwa mereka masih mempunyai tanggung jawab. Bukan liburan biasa, melainkan “liburan rasa tugas”.
Hari keberangkatan tiba lebih cepat dari yang saya bayangkan. Pagi itu udara masih dingin, tetapi halaman sekolah sudah ramai. Ada yang sibuk mengatur barang bawaan, ada yang bercanda seolah-olah ini benar-benar liburan, dan ada pula yang terlihat masih mengantuk. Saya sendiri berusaha menenangkan diri, karena di satu sisi saya senang, tetapi di sisi lain saya penasaran apa yang sebenarnya akan kami alami sepanjang perjalanan.
Begitu bus mulai melaju, suasana berubah menjadi lebih santai. Musik pelan terdengar dari beberapa kursi belakang. Di barisan tengah, ada yang bermain kartu sambil tertawa kecil. Beberapa memilih tidur, mungkin menyiapkan tenaga untuk aktivitas nanti. Sesekali, kami melihat keluar jendela dan memperhatikan bangunan serta jalanan yang semakin padat. Perjalanan panjang itu seolah menjadi pembuka cerita.
Tujuan pertama kami adalah Bursa Efek Indonesia. Dari kejauhan, gedungnya terlihat tinggi, rapi, dan modern. Saat melangkah masuk, saya merasa seperti memasuki dunia orang dewasa — penuh ketertiban dan kesibukan. Kami diarahkan ke ruang pertemuan yang besar, lalu duduk rapi menunggu penjelasan. Pada awalnya, saya khawatir materi akan sulit dipahami. Tetapi ternyata, pembicara menjelaskan dengan bahasa sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kami diperkenalkan pada apa itu saham, bagaimana seseorang bisa memiliki sedikit bagian dari sebuah perusahaan, dan mengapa pasar modal penting bagi perekonomian negara. Istilah yang selama ini terasa asing, seperti indeks pasar dan investasi, perlahan mulai masuk akal. Kami bahkan diminta mencoba menghitung persentase perubahan saham menggunakan contoh angka. Saat itulah saya menyadari bahwa pelajaran Matematika yang kadang membuat pusing, ternyata punya fungsi nyata dalam kehidupan. Contohnya seperti, ketika ingin menghitung kenaikan dari harga awal dan harga akhir indeks harga saham.
Setelah sesi penjelasan selesai, kami melihat ruang dengan banyak layar besar yang menampilkan angka dan grafik. Semuanya bergerak cepat. Rasanya seolah melihat denyut nadi ekonomi. Saya membayangkan orang-orang yang bekerja di sana harus fokus, teliti, dan terbiasa mengambil keputusan dengan tepat. Dari situ, saya belajar bahwa dunia kerja bukan hanya tentang gaji, tetapi tanggung jawab dan ketekunan. Serta dalam mata pelajaran Ekonomi, kami belajar bahwa saham itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, dapat menjadi cara yang sangat efektif untuk membangun kekayaan jangka panjang. Kami juga belajar bagaimana cara kerja investasi, saham, dsb.
Perjalanan berlanjut ke Sea World. Begitu masuk, suasananya langsung berbeda. Lampu redup, air biru, dan ikan-ikan yang berenang pelan membuat suasana terasa tenang. Kami berjalan menyusuri lorong kaca, memperhatikan berbagai makhluk laut dari jarak dekat. Ada penyu besar, ikan pari, hiu, dan ratusan ikan kecil berwarna cerah.
Setiap akuarium memiliki papan informasi. Di sana tertulis asal, jenis makanan, dan peran hewan-hewan itu dalam ekosistem. Guru sesekali berhenti dan menjelaskan kembali dengan bahasa yang lebih sederhana. Saat melihat hewan yang dilindungi, kami diajak memikirkan dampak sampah dan pencemaran laut. Tiba-tiba, kebiasaan kecil seperti membuang plastik sembarangan terasa sangat berbahaya.
Kami juga mendapat tugas membuat vlog singkat. Awalnya saya malu berbicara di depan kamera, tetapi perlahan saya menikmati prosesnya. Saya belajar memilih kata-kata, menjelaskan secara singkat, dan mencoba tidak terlihat gugup. Bagi saya, itu bukan hanya tugas tetapi latihan percaya diri. Nah, disini mata pelajaran yang terkait adalah Inggris karena kami diminta untuk membuat video vlog singkat dengan menggunakan bahasa Inggris penuh. Dengan tugas ini, kami sekarang tahu bahwa negara kami ini kaya akan keindahan alam dunia lautnya. Kami belajar bahwa kami harus menjaga kehidupan laut sama seperti kami menjaga dan merawat diri kita sendiri.
Setelah itu, kami menuju Dunia Fantasi. Dari kejauhan saja sudah terlihat wahana tinggi yang membuat jantung berdebar. Suasananya ramai dan penuh warna. Tetapi sebelum bermain, guru kembali mengingatkan bahwa kami tetap membawa misi belajar. Setiap wahana, katanya, punya cerita sains di dalamnya.
Saat menaiki wahana-wahana yang berputar dan bergerak cepat, saya merasakan tarikan kuat yang membuat tubuh seperti terdorong ke luar. Guru menjelaskan bahwa itu adalah akibat gaya tertentu dalam Fisika. Ketika mencoba roller coaster, saya benar-benar merasakan perubahan energi dan kecepatan. Dari atas, semua terasa lambat. Namun begitu turun, rasanya seperti melaju tanpa bisa berhenti. Pengalaman itu membuat saya memahami bahwa pelajaran yang selama ini hanya berupa rumus ternyata nyata di kehidupan sehari-hari.
Di sela-sela keseruan, kami tetap diingatkan tentang tanggung jawab. Kami harus menjaga barang, mengikuti aturan, dan saling memperhatikan. Ketika ada teman yang merasa takut menaiki wahana, yang lain menemani. Ketika ada yang kelelahan, kami berbagi air dan makanan. Hal-hal kecil seperti itu yang akhirnya membuat perjalanan terasa lebih manusiawi.
Sore menjelang, kami bersiap pulang. Di dalam bus, suasana tidak seramai saat berangkat. Banyak yang tertidur, mungkin karena lelah sekaligus puas. Saya memandangi lampu-lampu kota dari jendela dan berpikir bahwa hari itu terasa sangat panjang, tetapi penuh makna. Saya belajar tentang ekonomi, lingkungan, sains, dan kebersamaan — semuanya dalam satu hari.
Sesampainya kembali, saya menyadari bahwa studi industri bukan sekadar acara wajib sekolah. Ini adalah pengalaman yang membuka cara pandang. Saya mulai melihat pelajaran di kelas bukan hanya sebagai materi untuk ujian, tetapi sebagai bekal memahami dunia. Saya juga belajar bahwa bekerja sama, disiplin, dan saling menghargai sama pentingnya dengan nilai akademik.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa belajar tidak selalu harus duduk diam di ruang kelas. Terkadang, kita perlu melihat langsung, merasakan, dan bertanya. Dari perjalanan ini, saya membawa pulang bukan hanya catatan, tetapi juga cerita, kesan, dan semangat baru untuk terus belajar.

