Konten dari Pengguna

Ekonomi Tumbuh 5,29 Persen, tapi Ibu-ibu di Pasar Sudah Mulai Menghitung Ulang

Andri Wahid Maulana

Andri Wahid Maulana

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andri Wahid Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sebuah pasar tradisional pagi hari, seorang ibu meletakkan kembali sebungkus cabai merah ke meja pedagang. Harganya naik lagi. Ia menggantinya dengan cabai rawit, menyesuaikan menu dengan isi dompet hari ini. Tidak ada drama. Tidak ada keluhan keras. Hanya penyesuaian kecil yang sudah jadi kebiasaan.

Sumber: Gemini Ai
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Gemini Ai

Di saat yang bersamaan, Badan Pusat Statistik melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen pada triwulan II 2026 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kedua fakta itu tidak saling membantah. Tapi keduanya juga tidak sedang bicara tentang realita yang sama.

Angka yang Membesarkan, Angka yang Menyempitkan

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto menyebut fondasi eknomi domestik solid dan kebijakan yang ditempuh pemerintah berjalan efektif. Klaim itu tidak sepenuhnya salah ekonomi Indonesia semester I-2026 tumbuh 5,45 persen, pertumbuhan tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Namun ada detail penting yang sering luput dari sorotan. Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 ditopang oleh belanja pemerintah yang tumbuh 15,97 persen, sementara konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 5,06 persen, angka yan moderat dan menunjukkan bahwa pemulihan daya beli masyarakat belum sepenuhnya kuat.

Sumber: Gemini Ai

Artinya, mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini lebih banyak digerakkan oleh pengeluaran negara, bukan oleh kemampuan belanja masyarakat yang sesungguhnya. Sebuah perbedaan yang kecil di atas kertas, tapi sangat terasa di dompet.

Ketimpangan yang Diam-diam Bicara

Ada angka lain yang perlu dibaca secara serius. Merujuk pada data Maklumat.id, Gini Ratio meningkat menjadi 0,368 pada Maret 2026, dari 0,363 pada September 2025. Angka ini memberi pesan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pemerataan bukanlah dua hal yang otomatis berjalan bersama. KUE ekonomi bisa membesar tanpa semua orang memperoleh tambahan potongan yang sama.

Sumber: Gemini Ai

Di satu sisi ada kelompok yang memiliki aset, modal, dan bisnis. Di sisi lain ada kelompok yang pendapatannya terutama berasal dari upah. Ketika kenaikan pendapatan pekerja lebih lambat daripada kenaikan biaya hidup, pertumbuhan ekonomi terasa jauh dari kehidupan sehari-hari.

Ibu yang mengganti cabai merah dengan cabai rawit tadi adalah wajah nyata dari statistik yang tidak pernah masuk dalam siaran pers BPS.

Tekanan yang Datang dari Dua Arah

Daya beli masyarakat saat ini dihimpit dai dua sisi sekaligus. Berdasarkan laporan Kompas.com, Kepala Pusat Makroekonomi INDEF M. Rizal Taufikurahman menyebut kenaikan harga komoditas pangan seperti cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan beras mulai mengurangi ruang belanja rumah tangga, terutama kelompok menengah bawah yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk kebutuhan pangan.

Sumber: Gemini Ai

Dari sisi global, tekanan eksternal terbesar terjadi sepanjang kuartal kedua akibat tingginya harga energi global yang mengganggu kinerja perdagangan dan ekspor nasional. Harga minyak dunia yang bergejolak berdampak langsung pada ongkos produksi dan distribusi barang yang pada akhirnya bermuara pada harga di pasar tradisional yang dirasakan langsung oleh konsumen biasa.

Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menilai prospek semester II masih dibayangi pelemahan daya beli masyarakat, tingginya suku bunga, ketidakpastian ekonomi global, serta melemahnya kinerja ekspor.

Pertumbuhan Dirasakan Siapa?

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi jawabannya rumit. Sebagaimana dianalisis oleh Maklumat.id, ukuran pertumbuhan perlu diperluas bukan hanya berapa besar PDB, tetapi juga berapa besar pendapatan asli, berapa banyak pekerjaan berkualitas, dan berapa kuat daya beli.

Ketika pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,29 persen tapi konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 5,06 persen, ada celah yang berbicara banyak. Celah itu adalah jarak antara angka yang membuat pejabat tersenyum di Konsferensi pers, dan keputusan harian yang harus dibuat ibu-ibu di pasar setiap pagi.

Sumber: Gemini Ai

Apa yang Perlu Berubah?

Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam. Berdasarkan data BAK UNAS, kinerja APBN menjadi penopang utama daya beli masyarakat dan penggerak investasi proyek strategis, dengan berbagai program bantuan sosial yang terus digulirkan

Namun bantuan sosial bersifat menjaga, bukan mendorong. Yang dibutuhkan untuk memperkuat daya beli secara struktural adalah penguatan rantai pasok pangan lokal agar harga komoditas tidak mudah bergejolak, penciptaan lapangan kerja berkualitas yang upahnya tumbuh lebih cepat dari inflasi, serta kebijakan yang sungguh-sungguh memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh kelompok pemilik aset, tapi juga oleh mereka yang menggantungkan hidup pada upah bulanan.

Penutup

Ibu di pasar tadi tidak membaca laporan BPS. Ia tidak menghadiri konferensi pers Kemenko Perekonomian. Tapi ia adalah sensor ekonomi paling sensitif yang ada, tubuhnya merespons inflasi sebelum data resmi menangkapnya, dompetnya menyesuaikan diri sebelum kebijakan sempat berubah.

Ekonomi tumbuh 5,29 persen. Itu kabar baik yang layak diapresiasi. Tapi pertumbuhan yang bermakna bukan hanya yang terlihat dalam angka PDB, melainkan yang terasa dalam kemampuan seorang ibu untuk berbelanja tanpa harus menghitung ulang setiap rupiah yang ia keluarkan.