Konten dari Pengguna

Selamat Ulang Tahun Marchisio! Sang Pangeran Kecil dari Juventus

Maulana Ramadhan

Maulana Ramadhan

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maulana Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selamat Ulang Tahun Marchisio! Sang Pangeran Kecil dari Juventus
zoom-in-whitePerbesar

Menyebut Juventus, bagi saya dan mungkin jutaan juventini di seluruh dunia, nama Alessandro Del Piero adalah yang pertama terlintas. Wajar saja, bukan hanya karena saya tumbuh besar menikmati aksi Del Piero di atas lapangan, namun karena Del Piero adalah simbol kebesaran bagi klub asal Turin ini.

Sayangnya, waktu sudah berjalan hampir enam tahun sejak Del Piero memainkan laga terakhirnya bersama Juventus Juli 2012 lalu. Bianconeri terus berupaya mencari ikon baru. Nomor kebesarannya pun sudah digunakan oleh tiga orang berbeda.

Berhasil? bagi saya sih belum. Toh, sebenarnya ada sosok lainnya yang pantas dijadikan ikon klub yang berdiri sejak 1897 ini.

Claudio Marchisio namanya. Marchi--panggilan Marchisio--memang belum selegendaris Buffon atau setenar Chiellini, dua nama yang saat ini menjadi pemain paling lama berkostum hitam-putih selain Marchisio di Juventus.

Namun Marchisio mempunyai keistimewaan yang tidak dimiliki oleh nama-nama besar di tim ini. Tidak Buffon, Del Piero, Platini atau Gaetano Sciera sekalipun, yakni berdarah hitam-putih sejak lahir.

Nama-nama sebelumnya adalah legenda besar di klub ini, namun semuanya bukanlah produk asli klub yang bermarkas di Vinovo ini. Marchisio lain, ia adalah putra Turin asli dan produk akademi Juventus. Kariernya bersama tim junior Juventus dimulai sejak dirinya berusia 7 tahun.

Pemain yang lahir pada 19 Januari 1986 ini mempersembahkan sejumlah trofi di level junior. 19 Agustus 2006, Marchi untuk pertama kalinya bermain di tim senior Juve. Ia turun menggantikan Mateo Paro di laga Coppa Italia melawan Martina.

Tahun 2006 sendiri merupakan musibah terbesar bagi Juventus namun menjadi berkah bagi dirinya. Ketika Juventus harus turun ke Serie-B dan ditinggalkan bintang-bintangnya, mau tak mau mereka mengandalkan sumber daya yang tersedia, Marchisio salah satunya.

Selamat Ulang Tahun Marchisio! Sang Pangeran Kecil dari Juventus (1)
zoom-in-whitePerbesar

Daftar riwayat hidupnya hanya ternoda oleh kehadiran Empoli. Ya, setelah musim pertama debut, Marchisio 'disekolahkan' terlebih dahulu ke Empoli di musim 2007-08 yang menjadikan Empoli adalah klub pertamanya di Serie-A. Sebuh noda kecil yang membuatnya gagal menjadi one club men seperti Totti ataupun Maldini.

Tapi, semua tidak ada yang sia-sia. Setahun menuntut ilmu di Empoli, Marchisio semakin berkembang. 26 laga Serie-A berhasil ia bukukan. Tidak buruk untuk dirinya yang masih berusia 20 tahun saat itu. Rapor ini juga yang membuat Claudio Ranieri--pelatih Juventus saat itu-- memanggil kembali Marchisio.

Di musim 2008-09, Marchisio bergabung di lini tengah Juventus. Selain dirinya, saat itu masih ada nama Pavel Nedved, Tiago, Nocerino, Poulsen, Marchionni, Camoranesi, hingga Sissoko, iya Sissoko yang main di Mitra Kukar itu.

Satu persatu nama-nama tersebut berguguran, karena dari tahun 2009-2011 menjadi periode kelam bagi Juventus. Namun Marchisio tetap bertahan. Saat itu, selain dirinya ada nama Sebastian Giovinco yang dianggap sebagai pemuda harapan Turin.

Ketika Juve memasuki era baru bersama Antonio Conte di Musim 2011/12, Marchisio tetap bertahan sebagai pilar lini tengah. Sementara Giovinco harus rela disekolahkan ke Parma.

Musim pertama bersama Conte, Marchisio mencuat sebagai gelandang top Serie-A. Ia dimainkan bersama dua gelandang baru Juventus, Andrea Pirlo dan Arturo Vidal.

Ketiganya berhasil menampilkan performa impresif yang berujung pada gelar Serie-A pertama Juventus setelah promosi dari Serie-B. Lebih-lebih dengan status 'The Invicibles'. Marchisio juga sukses mencetak 10 gol yang menjadi rekor tertinggi baginya hingga saat ini.

Selamat Ulang Tahun Marchisio! Sang Pangeran Kecil dari Juventus (2)
zoom-in-whitePerbesar

Oleh publik, ketiganya diberi julukan trio 'MVP' sesuai inisial namanya dan bisa jadi juga karena performanya yang begitu impresif. Selain itu, skema tiga gelandang juga menjadi pakem Juventus selama beberapa musim ke depan.

Kemampuannya disebut-sebut menyerupai gelandang legendaris Italia, Marco Tardelli. Oleh Conte, Marchi disebut bermain jauh lebih baik dibandingkan dirinya semasa di Juventus.

Di Musim 2012/13, Juventus kedatangan pemuda Prancis yang bernama Pogba. Komposisi lini tengah Juventus mulai diisi bergantian oleh keempatnya.

Tak jarang, Conte memilih untuk memainkan keempatnya dengan menempatkan Pogba di belakang striker.

Waktu terus berlalu, lini tengah Juventus mulai ditinggal para jagoannya. Dimulai dari Pirlo dan Vidal di akhir musim 2014/2015, lalu Pogba di akhir musim 2015/2016. Sementara Marchisio masih terus bertahan sebagai penggawa awal Juve di era kebangkitan.

Sayangnya, Marchisio tak kuasa menahan gempuran para gelandang anyar Juve. Dimulai sejak dirinya menderita cedera ACL di April 2016. Cedera itu memaksanya absen selama enam bulan sekaligus mengubur impiannya bermain bersama La Nazionale di Euro 2016.

Selamat Ulang Tahun Marchisio! Sang Pangeran Kecil dari Juventus (3)
zoom-in-whitePerbesar

Usai sembuh dari cedera, lini tengah Juve sudah dikuasai oleh Sami Khedira dan Miralem Pjanic.

Max Allegri juga mulai memainkan pola dua gelandang yang otomatis makin meminggirkan keberadaan Marchi. Di musim 2016/17, Marchi harus puas dengan 18 kali penampilan di Serie-A dan delapan di Liga Champions.

Di Musim 2017/18, Allegri kian mantab dengan pola dua gelandang pivot dan tiga gelandang di belakang striker. Ditambah dengan cedera yang kembali ia derita dan memaksanya menepi di awal musim digelar.

Untuk menembus ke tim intipun, Marchi harus bersaing dengan Blaise Matuidi dan gelandang muda Rodrigo Bentancur. Hingga melewati paruh musim, Marchi baru delapan kali bermain di Serie-A. Total ia baru sebelas kali turun lapangan musim ini.

Masa depannya mulai tak menentu. Santer terdengar Juve memburu gelandang Liverpool, Emre Can. Gosip kepindahannya terus merebak. Musim ini bisa saja menjadi musim terakhir bagi pemain berjuluk Il Princinpino atau pangeran kecil ini.

Namun Marchisio tetaplah Marchisio. Statusnya sebagai putra daerah tentu memiliki kedudukan sendiri di mata tifosi. Juventini membentangkan spanduk di pusat latihan, di Vinovo pada Selasa (16/1). Mereka meminta manajemen Juventus untuk tidak menjual si pangeran kecil.

"Jangan sentuh Marchisio. Tetaplah bersama kami," bunyi tulisan dalam spanduk itu.

Selamat Ulang Tahun Marchisio! Sang Pangeran Kecil dari Juventus (4)
zoom-in-whitePerbesar

Kini, Marchisio tengah merayakan hari jadinya yang ke-32. Masa depannya di Turin masih abu-abu. Meskipun begitu, Marchi sudah menorehkan namanya dalam jajaran pemain legendaris Juve.

Sosoknya yang sederhana dan tidak neko-neko, mengingatkan saya kepada Del Piero. Amat jarang mendengar keduanya berkeluh kesah soal jatah bermain di media.

Belum lagi dengan kehadirannya yang sering dipandang sebelah mata. Saya pribadi melihat sosok Marchisio tak ubahnya seperti Guti Hernandez di Real Madrid.

Keduanya pantas diberi gelar 'unsung hero'. Bila Marchisio merelakan sorot kamera kepada Pogba, Pirlo, ataupun Vidal, maka Guti harus rela perhatiannya terbagi kepada Zidane, Beckham, Figo, hingga Wesley Sneijder.

Sekali lagi, Tanti Auguri Claudio 'Il Principino' Marchisio. Teruslah bermain bersama Juve!