Pendidikan di Persimpangan: Kritik Tokoh dan Jalan Perubahan

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Maulidia Lathifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pendidikan sering kali didengungkan sebagai kunci emas menuju kesejahteraan dan mobilitas sosial. Namun, jika kita melihat lebih dekat realitas di ruang-ruang kelas hari ini, apakah pendidikan benar-benar memerdekakan, atau justru menjadi alat pembatasan?
Hari ini, dunia pendidikan kita sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ada tuntutan untuk terus beradaptasi dengan efisiensi industri dan digitalisasi. Di sisi lain, ada krisis kemanusiaan, ketimpangan akses, dan hilangnya daya kritis peserta didik. Dalam kacamata Teori Sosial Pendidikan, kondisi ini bukanlah kebetulan belaka, melainkan hasil dari konstruksi sosial yang perlu kita pertanyakan ulang.
Pendidikan yang Membelenggu: Kritik dari Para Tokoh
Untuk memahami posisi pendidikan di persimpangan ini, penting bagi kita untuk melihat kembali gagasan kritikus dan sosiolog pendidikan terkemuka:
1. Paulo Freire dan Banking Concept of Education
Filsuf dan pendidik asal Brasil, Paulo Freire, dalam karyanya Pedagogy of the Oppressed, mengritik keras model "pendidikan gaya bank" (banking concept of education). Dalam sistem ini, murid diperlakukan seperti celengan kosong yang pasif, sementara guru adalah penabung yang menyuntikkan informasi.
Sistem seperti ini menindas daya kritis. Peserta didik diajarkan untuk menghafal dan patuh, bukan untuk memahami dan menguji realitas sosial di sekitar mereka.
2. Pierre Bourdieu dan Reproduksi Sosial
Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu menjelaskan mengapa pendidikan sering kali gagal menjadi alat pemerataan. Melalui konsep modal budaya (cultural capital) dan habitus, Bourdieu menunjukkan bahwa sekolah cenderung menguntungkan kelas sosial menengah ke atas.
Sekolah mengukur keberhasilan menggunakan bahasa, standar, dan gaya hidup kelas dominan. Akibatnya, pendidikan bukannya menghapus ketimpangan, melainkan mereproduksi struktur kelas sosial yang sudah ada.
3. Ivan Illich dan Deschooling Society
Ivan Illich melangkah lebih jauh dengan melontarkan gagasan ekstrem: bebaskan masyarakat dari kelembagaan sekolah (deschooling society). Menurut Illich, sekolah modern telah terinstitusionalisasi hingga memonopoli makna "belajar".
Masyarakat didikte bahwa seseorang hanya dianggap berpendidikan jika memiliki ijazah formal, padahal proses belajar yang sejati terjadi secara alami melalui interaksi sosial dan pengalaman hidup.
Potret Kritis Pendidikan Saat Ini
Jika ditarik ke konteks hari ini, kritik para tokoh tersebut masih sangat relevan dalam melihat berbagai persoalan di lapangan. Pendidikan kian bergeser menjadi produk komoditas dan pabrik pencetak tenaga kerja, di mana gelar akademik kerap dijadikan sekadar tiket untuk memasuki pasar kerja alih-alih sebagai proses pendewasaan berpikir. Di sisi lain, standarisasi melalui ujian berstandar tunggal atau kurikulum yang seragam sering kali mengabaikan konteks lokal serta keberagaman kecerdasan anak bangsa. Belum lagi masalah kesenjangan digital dan fasilitas antara wilayah perkotaan dengan daerah 3T yang semakin mempertegas tesis Bourdieu tentang ketimpangan modal sosial dan budaya.
Pendidikan tidak boleh dibiarkan sekadar menjadi pabrik pencetak tenaga kerja yang patuh pada sistem yang timpang. Pendidikan harus kembali pada fitrah utamanya proses memanusiakan manusia (humanisasi).
Sudah saatnya kita menentukan arah di persimpangan ini. Perubahan tidak akan datang hanya dari pergantian kurikulum formal belaka, melainkan dari keberanian kita bersama untuk mendobrak dogma, mengkritisi realitas, dan mengembalikan ruang belajar kepada pemilik aslinya peserta didik dan masyarakat.
