Konten dari Pengguna

Standarisasi Buku Kurikulum: Mengikis Lokalitas Anak Daerah Sejak Bangku Sekolah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Maulidia Lathifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Sumber: https://www.pexels.com/id-id/foto/siswa-belajar-di-kelas-di-indonesia-35548840/
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Sumber: https://www.pexels.com/id-id/foto/siswa-belajar-di-kelas-di-indonesia-35548840/

Krisis Identitas di Balik Penyeragaman Materi

Penyeragaman materi dalam buku paket pegangan siswa di seluruh sekolah negeri memberikan peringatan terhadap krisis identitas murid daerah. Dalam pembelajaran ilmu sosial, seringkali murid disuguhi materi yang hanya memuat kehidupan “Jawa Sentris” dan nyaris tidak pernah membahas kehidupan masyarakat daerahnya. Buku paket yang dipelajari nyatanya belum mampu merepresentasikan muatan materi yang mewakili lokalitas anak derah. Potret pembelajaran menunjukkan jika murid yang berasal dari luar pulau Jawa harus mempelajari pengetahuan yang menonjolkan kehidupan sosial ibu kota. Misalnya pada muatan materi pembangunan wilayah hanya menonjolkan pembangunan dikota besar yang bertolak belakang dengan lingkungan geografisnya. Kearifan lokal yang terbaikan, secara sosiologi dapat menyebabkan lahirnya generasi yang inferior yaitu generasi yang menganggap daerahnya adalah kawasan “tertinggal”. Murid memaksakan dirinya untuk mengikuti standar dalam buku paket agar keberadannya diakui dan dianggap “terdidik” sebagai pelajar.

Reproduksi Budaya: Dominasi Kelompok Dominan Menjadi Standar Nasional

Sosiologi kurikulum memandang bahwa pendidikan sejatinya dibuat “seragam” tanpa mempertimbangkan kelestarian lokalitas daerah. Teori reproduksi budaya oleh pierre Bourdieu menegaskan jika sekolah merupakan arena kompetisi bagi seluruh murid. Buku paket yang dirancang oleh pusat dengan memuat standar sosial dari kelompok dominan berpotensi memperlebar ketimpangan sosial. Murid yang berasal dari kelompok dominan akan selalu berada diatas, sedangkan murid lainnya harus menyesuaikan diri dengan belajar lebih keras mengikuti standar dalam buku paket. Siklus tersebut akan selalu terjadi dari generasi kegenerasi tanpa bisa dihentikan secara menyeluruh jika tidak ada gerakan revolusioner untuk memperbaiki tatanan pendidikan Indonesia.

Haruskah Standar Pusat Menjadi Ukuran Keberhasilan Pelajar?

Penyeragaman materi dalam buku kurikulum secara tidak langsung membentuk cara pandang murid terhadap kesuksesan. Jika menginginkan nilai tinggi, murid harus mempelajari seluruh isi buku paket dan menghafalkan seluruh materi didalamnya. Menurut Pierre Bourdieu, tindakan ini merupakan kekerasan simbolik yang memaksa individu untuk mengikuti standar kurikulum sebagai “kebenaran akademik dan meminggirkan muatan materi lokalitas bagi murid daerah.

Hilangnya Ruang Kontekstual

Kurikulum merdeka dengan gagasan pembelajaran kontekstual berbasis latarbelakang murid harusnya mampu menjadi angin segar bagi setiap sekolah dipenjuru negeri. Namun, penerapannya sulit dilakukan oleh guru di luar pulau Jawa akibat instrumen evaluasi materi pembelajaran yang masih berpedoman pada buku paket terbitan pusat. Ketika ruang kreativitas guru untuk menghadirkan pembelajaran kreatif yang mengakomodasi latarbelakang siswa gagal diterapkan, maka disitulah pendidikan melahirkan generasi sebagai “pabrik standarisasi” yang mengikis identas kampung halaman. Sering dijumpai ketika dewasa anak daerah memilih meninggalkan kampung halaman demi mengejar “kesuksesan” yang dilihat dalam lembaran buku paket sejak berada dibangku sekolah.