Mengubah Cara Pandang Birokrasi Mengukur Keberhasilan Inovasi Pelayanan Publik

Pranata Hubungan Masyarakat. ASN di Pemprov Jabar.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Maya Resty Andryana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Inovasi Bukan Hanya Tentang Digitalisasi, Namun Kebermanfaatan Bagi Masyarakat

Tak jarang hampir setiap hari aktivitas kita erat kaitannya dengan digitalisasi. Pernah gak sih terbangun di pagi hari tanpa melihat ponsel dulu? Memesan makanan, membayar tagihan, hingga memperoleh informasi dalam hitungan detik cukup melalui ponsel saja. Perubahan seperti inilah yang mendorong pemerintah mulai bertransformasi untuk menjawab tuntutan masyarakat yang semakin dinamis.
Lalu, terbesit sebuah pertanyaan, “Apakah sesuatu baru bisa disebut inovasi ketika berbentuk digital, dan baru?” Pertanyaan ini mungkin terdengar sepele. Namun, di tengah derasnya transformasi digital pemerintahan, dan berbagai terobosan pelayanan terus bermunculan, pertanyaan tersebut menjadi semakin penting.
Di sini kita perlu mengubah cara pandang terhadap inovasi pelayanan publik. Bukan tentang siapa yang memiliki teknologi paling canggih, aplikasi paling banyak, atau tampilan paling modern, inovasi adalah tentang sesuatu yang mampu menyelesaikan persoalan masyarakat dengan cara yang lebih baik.
Bukan Seberapa Canggih, Inovasi Dimulai Dari Masalah
Ketika kita menghadapi masalah, kita tentu akan mencari solusi. Begitu juga dengan masalah yang dihadapi oleh Masyarakat dalam pelayanan publik. Inovasi bukan sekedar menciptakan sesuatu yang belum pernah ada menjadi ada, melainkan upaya menemukan cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah yang ada. Oleh sebab itu, pemerintah sudah seharusnya terbuka dengan pengaduan masyarakat yang masuk, karena pengaduan masyarakat dapat menjadi sumber inspirasi untuk melakukan perbaikan.
Teknologi adalah Alat, Bukan Tujuan
Tidak dapat dipungkiri, pemerintah memang perlu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pelayanan yang cepat, efisien, transparan, dan mudah diakses. Jawa Barat merupakan salah satu daerah yang terus mendorong transformasi tersebut. Indeks Inovasi Daerah Jawa Barat pun meningkat dari 81,27 pada Tahun 2024 menjadi 85,05 Tahun 2025.
Melalui Sapawarga, masyarakat dapat mengakses berbagai layanan publik, informasi, serta menyampaikan aspirasi dalam satu ekosistem digital. Saat ini, Sapawarga menyediakan berbagai layanan, mulai dari pembayaran pajak kendaraan, pendidikan, perizinan, pengaduan warga, lowongan pekerjaan, hingga pembelian tiket wisata ruang publik milik Pemprov.
Keberhasilan penggunaan teknologi tidak berhenti pada tersedianya aplikasi. Pertanyaan yang akan muncul selanjutnya adalah apakah masyarakat mampu menggunakannya. Aplikasi yang canggih tetapi sulit digunakan pada akhirnya hanya memindahkan kerumitan dari sistem pelayanan tatap muka ke layar ponsel. Teknologi boleh berubah, aplikasi bisa saja berganti, tetapi prinsip dasar tetap sama : memudahkan masyarakat.
Inovasi Boleh Banyak, Asal Berdampak
Pada tahun 2025, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat sebagai pionir inovasi di Indonesia kembali meraih penghargaan sebagai Provinsi Terinovatif Klaster Regional II (Pulau Jawa) dalam ajang Innovative Government Award (IGA). Sebanyak 200 inovasi unggulan berhasil dilaporkan oleh BP2D Jawa Barat hingga batas akhir pelaporan Agustus 2025. Tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi-inovasi tersebut tidak berhenti sebagai proyek sesaat untuk mendapatkan penghargaan maupun sebagai batu loncatan untuk kenaikan pangkat/jabatan.
Salah satu contoh menarik di Jawa Barat adalah Open Data Jabar, yang ditetapkan sebagai salah satu Outstanding Public Service Innovations dalam kategori Transformasi Digital Pelayanan Publik tahun 2025. Platform ini tidak sekadar menghadirkan teknologi, tetapi menyediakan data pembangunan yang dapat diakses dan dimanfaatkan masyarakat, akademisi, maupun pelaku usaha.
Penilaiannya tidak hanya berkaitan dengan aspek digital, tetapi juga kebermanfaatan dan kemudahan akses informasi publik. Contoh tersebut menunjukkan bahwa teknologi akan memiliki makna ketika dapat menjadi jembatan antara pemerintah dan masyarakat, bukan sekadar menjadi etalase kecanggihan birokrasi.
Mengubah Cara Pandang Menjadi Orientasi Dampak, serta Peran ASN sebagai Agen Perubahan
Pola pikir kita tentang inovasi apa saja yang sudah dibuat, sudah saatnya bergeser menjadi orientasi dampak yang terjadi saat digunakan oleh masyarakat. Di sini, kemampuan critical-thinking kita diuji. Setidaknya ada lima poin mendasar yang dapat dijadikan acuan untuk mengukur berdampak atau tidaknya inovasi tersebut bagi Masyarakat, yakni kemudahan penggunaan, inklusivitas, responsif, berdampak dan berkelanjutan.
Lima aspek tersebut mengingatkan kita bahwa inovasi bukan sekadar menciptakan sesuatu yang baru, namun juga menciptakan sesuatu yang lebih baik. Masyarakat dilibatkan dan menjadi bagian dari proses inovasi, melalui masukan maupun kritik yang disampaikan kepada pemerintah.
Selain itu, inovasi bukan hanya persoalan sistem yang didigitalisasikan. Terdapat proses perancangan, pelaksanaan, monitoring-evaluasi serta perbaikan yang dilakukan, dan ASN mempunyai peran penting. Sebagai ASN, kita perlu memiliki kemampuan critical-thinking, apakah cara yang kita lakukan selama ini masih relevan atau tidak dengan persoalan masyarakat saat ini. Jika jawabannya tidak, maka sebaiknya mulai merencanakan perubahan. Ingat, perubahan bukan hanya menciptakan sesuatu yang baru, namun sesuatu yang bermanfaat dan berdampak.
Kita sebagai ASN juga sebaiknya memiliki kerendahan hati dan terbuka untuk menerima kritik dan masukan. Inovasi tidak selalu langsung sempurna, ada proses uji coba, evaluasi, dan perbaikan untuk membuat inovasi yang berdampak. Masyarakat mungkin tidak akan tahu siapa yang membuat inovasi tersebut, namun manfaat yang didapatkan dari perubahan itu akan selalu diingat.
Birokrasi yang sehat itu bukanlah birokrasi yang tidak pernah salah, melainkan birokrasi yang mau belajar dari kesalahan dan tidak berhenti memperbaiki diri. Pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan pemerintah yang memiliki paling banyak aplikasi. Masyarakat membutuhkan pemerintah yang hadir ketika mereka memiliki persoalan. Sebab inovasi terbaik bukanlah inovasi yang paling canggih, melainkan inovasi yang paling terasa manfaatnya.
