Ekonomi Asia Timur dan Pasifik Diperkirakan Tumbuh 4,5% Pada Tahun 2026
Tulisan dari Mayda Arianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Kawasan Asia Timur dan Pasifik atau East Asia and Pacific (EAP) pada 2025 ini menjadi 4,5%. Angka ini lebih tinggi 0,3 poin peresentase jika dibandingkan proyeksi sebelumnya yang sebesar 4,2%.
Adanya peningkatan ini memperlihatkan bagaimana perekonomian di Kawasan Asia cukup kuat meskipun terdapat tekanan global. Bank dunia melihat pertumbuhan ekonomi di Kawasan Asia Timur dan Pasifik ini berjalan dengan kecepatan yang berbeda-beda antar negara dan sektor.
Sektor yang paling mendorong pertumbuhan Kawasan ini adalah teknologi. Lonjakan kebutuhan global terhadap teknologi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) memberikan keuntungan bagi negara-negara yang terlibat dalam rantai pasok produk teknologi.
Dilansir dari CNBC, Negara yang memiliki proyeksi paling besar adalah salah satunya negara Vietnam. Bank Dunia menunjukkan ekonomi Vietnam yang tumbuh 7,4% pada tahun 2026, di mana naik 1,1 poin persentase dari perkiraan sebelumnya. Disusul dengan Malaysia yang juga diprediksi naik menjadi 5,1% dan Thailand mencapai 2%. Namun, pertumbuhan ini tidak sepenuhnya merata. China sebagai negara yang memiliki ekonomi terbesar di wilayah Asia Timur dan Pasifik diproyeksi tumbuh 4,4%. Hal tersebut masih menghadapi tekanan dari lemahnya kondisi pasar tenaga kerja dan penyesuaian yang berlangsung di sektor properti sehingga permintaan domestik belum sepenuhnya pulih.
Di sisi lain, negara-negara kepulauan di Pasifik menghadapi kondisi yang lebih berat. Bank Dunia memprediksi negara kepulauan hanya mencapai 2,2% di tahun 2026. Faktor ini disebabkan oleh tingginya harga energi global dan kemampuan menghadapi guncangan eksternal yang menekan Kawasan.
Kondisi Indonesia cukup positif. Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,2% dari yang sebelumnya 4,7%. Angka ini berada di atas rata-rata negara Kawasan Asia Timur dan Pasifik.
Selain ekonomi, Bank Dunia memberikan perhatian besar terhadap perkembangan AI. Teknologi mengubah arah perusahan terhadap negara kerja. Perusahaan tidak hanya membutuhkan kemampuan menggunakan AI, tetapi juga kemampuan analitis dan keterampilan sosial yang dapat melengkapi penggunaan teknologi tersebut. Tetapi, wilayah Asia Timur dan Pasifik belum secara merata dalam pemanfaatan AI. Hanya 13% pekerjaan di Kawasan ini yang membutuhkan kemampuan berpikir dan mengambil keputusan secara kompleks, sementara di negara-negara maju angkanya mencapai 39%. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kawasan.
Bank Dunia berusaha mendorong negara-negara Asia Timur dan Pasifik untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya dalam meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja. Hal tersebut dapat dilakukan melalui penguatan infrastruktur digital dan energi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, serta perluasan akses pembiayaan bagi dunia usaha.
Kenaikan proyeksi pertumbuhan Asia Timur dan Pasifik menjadi 4,5% memberikan sinyal bahwasannya Kawasan ini masih memiliki daya tahan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, pertumbuhan ekonomi saja belum cukup. Tantangan berikutnya adalah memastikan perkembangan teknologi, khususnya AI, dapat diterjemahkan menjadi produktivitas, lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan yang lebih merata.
Catatan Penulis
Kenaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia Timur dan Pasifik menjadi 4,5% memperlihatkan bahwa Kawasan ini masih kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Meskipun pertumbuhan di setiap negara masih belum merata. Indonesia sendiri berada di posisi yang cukuo baik dengan proyeksi pertumbuhan 5,2%. Perlu adanya penyesuaian sektor terbaru yakni teknologi terutama dalam perkembangan AI yang menjadi peluang pertumbuhan.

