Konten dari Pengguna

Ketika Timur Tengah Bergejolak, Pasar Minyak Ikut Berubah

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mayda Arianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kilang minyak di Timur Tengah yang sedang beroprasi. Sumber: Gettyimages.
zoom-in-whitePerbesar
Kilang minyak di Timur Tengah yang sedang beroprasi. Sumber: Gettyimages.

Adanya ketegangan di wilayah Timur Tengah tidak hanya menjadi ancaman keamanan bagi negara-negara di kawan. Ketegangan ini dapat mempengaruhi bagaimana pasar energi dunia. Salah satu respon cepat dari adanya ancaman ini adalah harga minyak.

Mengutip Reuters, pada akhir September 2026, harga minyak Brent turun sekitar 2,6 persen menjadi US$102,59 per barel. Sedangkan, West Texas Intermediate (WTI) turun 3,5 persen menjadi US$89,38 per barel. Penurunan tersebut terjadi ketika pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Dalam hal ini, salah satu yang menjadi perhatian adalah kembalinya operasional East-West Pipeline sebagai infrastruktur minyak Arab Saudi. East-West Pipeline mulai digunakan kembali dan aktivitas pemuatan minyak di Yanbu juga berangsur pulih. Kondisi ini memberikan ruang bagi pasar untuk melihat bahwa distribusi minyak mulai kembali berjalan.

Namun, persoalannya tidak sesederhana harga minyak yang naik atau turun.

Minyak dan Geopolitik

Gangguan di Kawasan Timur Tengah cukup mempengaruhi negara-negara seluruh dunia, bahkan negara yang tidak terlibat secara langsung. Hal itu terjadi karena Timur Tengah memiliki posisi penting dalam perdagangan energi global.

Data Kpler yang dikutip Reuters menunjukkan ekspor minyak mentah dari produsen Timur Tengah meningkat menjadi sekitar 16,328 juta barrel per hari pada September. Angka tersebut menunjukkan adanya pemulihan arus ekspor, meskipun belum berarti kondisi telah kembali sepenuhnya normal.

Saat ini yang masih menjadi perhatian adalah keamanan jalur perdagangan, terutama Selat Hormuz. Jalur tersebut memiliki posisi strategis dalam distribusi energi dari kawasan Teluk ke pasar internasional. Jika terjadi gangguan, dampaknya dapat merambat ke harga energi dan perekonomian negara-negara konsumen.

International Energy Agency mulai memperkirakan produksi minyak tahun 2026 berada di sekitar 100,7 juta barel per hari dan pemulihan penuh produksi negara-negara Timur Tengah baru diperkirakan berlangsung pada 2027. Artinya, pasar minyak masih belum stabil. Pemulihan pasokan memang dapat menekan harga, tetapi perkembangan geopolitik tetap menjadi faktor yang sulit dipisahkan dari pergerakan energi dunia.

Seperti dikatakan Senior Vice President of Trading BOK Financial, Dennis Kissler, “semakin banyak minyak yang kembali mengalir dari kawasan Timur Tengah, semakin berkurang posisi tawar Iran dalam negosiasi.”

Catatan Penulis

Perkembangan ini menunjukkan bagaimana minyak dunia masih menjadi fokus utama dalam politik internasional. Konflik yang terjadi di satu kawasan dapat memberikan dampak ekonomi kepada negara-negara lain melalui perdagangan energi.

Karena itu, persoalan Timur Tengah seharusnya tidak hanya dilihat sebagai konflik politik atau keamanan. Ada persoalan keamanan energi yang ikut dipertaruhkan.

Penurunan harga minyak saat ini memang menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan pasokan. Namun, selama ketegangan geopolitik dan risiko gangguan jalur perdagangan masih ada, pasar energi global belum sepenuhnya aman dari gejolak berikutnya.

Pada akhirnya, yang menentukan stabilitas harga minyak bukan hanya seberapa banyak minyak yang tersedia, tetapi juga seberapa aman minyak tersebut dapat bergerak dari produsen menuju konsumen.