Entertainment
·
16 Mei 2020 16:51

Ilmu Begal: Perampokan (Part 3)

Konten ini diproduksi oleh
Ilmu Begal: Perampokan (Part 3) (38456)
Ilmu Begal. Foto: Masayu Antarnusa
Teman-teman Abe berubah pikiran. Mereka tidak berani kalau harus merampok rumah karena terlalu berisiko. Akhirnya hanya Abe dan Iwan saja yang beraksi. Tengah malam, mereka berdua berangkat dari rumah dengan mengendarai motor sport.
ADVERTISEMENT
Rumah yang menjadi target perampokan, lokasinya cukup jauh. Butuh waktu sekitar satu jam perjalanan. Mereka melewati pasar tradisional yang sudah tutup, jalan raya lengang, dan ruko-ruko yang di depannya dijadikan tempat mangkal para pelacur.
Saat memasuki perumahan, Iwan memperlambat laju motornya. Tepat di belakang rumah mewah bercat putih, mereka menghentikan motor lalu turun. Keduanya mengenakan topeng badut, menggendong tas hitam dan juga berpakaian serba hitam.
Pagar tembok belakang rumah itu lumayan tinggi. Tapi, Iwan sudah membawa tali yang ujungnya diberi pengait. Ia lemparkan tali tersebut ke dinding. Setelah tali itu tersangkut dengan kuat, satu persatu mereka memanjat dinding lalu mengendap ke pintu belakang rumah.
Abe mengeluarkan linggis pendek dari dalam tasnya untuk mencongkel pintu. Perlahan tanpa terdengar si pemilik rumah, pintu berhasil dicongkel. Mereka lalu masuk ke dapur. Di sana gelap, lampunya sudah dimatikan oleh si pemilik rumah. Abe sedia golok di tangan kanannya. Sementara itu, Iwan menggenggam pistol, senjata favoritnya.
ADVERTISEMENT
Saat mereka sedang mengendap-endap, terdengar suara langkah kaki dari atas tangga. Lampu dinyalakan, muncul seorang pembantu menuruni anak tangga. Iwan dan Abe bersembunyi di balik dinding. Abe kemudian membekap wanita itu dengan tisu yang sudah dibasahi cairan obat bius. Wanita itu pun pingsan dalam beberapa detik saja tanpa ada perlawanan apa pun.
Abe dan Iwan masuk ke dalam kamar. Sepasang suami istri yang sedang tidur nyenyak tiba-tiba terbangun. Mereka panik lalu mengangkat lengan saat Iwan menodongkan pistol ke arah mereka. Abe mengikat kedua kaki dan lengan mereka, juga melakban mulutnya.
Dengan leluasa mereka menjarah seisi rumah, menggeledah lemari, merampas barang-barang berharga. Mereka menemukan uang tunai entah berapa jumlahnya yang jelas sangat banyak. Uang itu dibungkus dengan amplop cokelat. Iwan dan Abe tersenyum senang.
ADVERTISEMENT
Setelah tas mereka penuh, mereka bergegas kabur sebelum warga mengetahuinya. Iwan dan Abe berhasil keluar dari rumah tersebut lalu memanjat kembali pagar belakang. Sayangnya aksi mereka tepergok seorang lelaki yang sedang ronda. Ia langsung berteriak, membuat Abe dan Iwan panik.
Tanpa ragu, Iwan menembakkan pistolnya ke arah lelaki itu. Peluru menembus dada kirinya, lelaki itu tewas seketika. Kemudian Iwan mencoba menyalakan motornya. Sialnya motor itu tidak mau menyala.
Segerombolan anak muda berlari menghampiri mereka dengan membawa batu dan kayu. Anak-anak muda itu berteriak sehingga membangunkan warga lainnya yang sedang tidur nyenyak.
“Gimana nih?” Abe melirik kakaknya.
“Berpencar!” kata Iwan.
Mereka meninggalkan motor. Iwan berlari ke arah barat, sedangkan Abe ke arah timur. Sebelum kabur, Iwan sempat menembakkan peluru terakhirnya ke arah gerobolan warga. Satu orang tertembak di bagian kaki.
ADVERTISEMENT
Bukannya takut, warga malah semakin geram dan menyerbu Iwan. Hanya tiga orang yang mengejar Abe. Sementara sisanya mengejar Iwan. Mereka sangat marah pada Iwan.
Abe termasuk yang paling beruntung. Ia berhasil sembunyi di gorong-gorong pinggir jalan. Tidak ada warga yang menemukan persembunyiannya. Yang paling sial adalah Iwan. Ia tertangkap oleh warga.
“Bangsat kau!” seorang lelaki berperut buncit memukul kepala Iwan dengan pentungan hingga bocor.
Darah membasahi rambut Iwan. Ia berteriak kesakitan sambil memegangi kepala. Tidak sampai di situ, pakaian Iwan dilucuti. Ia hanya mengenakan celana dalam. Warga juga mengikat lengan dan kakinya. Iwan kemudian dipukuli dengan kayu. Wajahnya bonyok, bibirnya pecah mengeluarkan darah.
“Awas!” seorang lelaki berjaket merah membawa sebotol bensin lalu mengguyurkannya ke tubuh Iwan.
ADVERTISEMENT
Ia menyalakan korek api.
“Ya... bakar saja!” sorak warga dengan nada penuh kebencian.
Iwan mendongakkan wajah ke arah lelaki yang sedang menyalakan korek api.
“Jangan....!” suara Iwan keluar dari tenggorokannya, parau.
Batang korek yang sudah menyala itu dilemparkan ke tubuh Iwan. Seketika api membakar tubuhnya. Iwan seperti cacing mengamuk kesakitan sambil berteriak. Tidak ada satu pun yang kasihan kepadanya. mereka tersenyum puas melihat Iwan tewas dibakar hidup-hidup.
Dari kejauhan, Abe mengintip diam-diam. Ia menangis melihat kakaknya tewas. Abe akan selalu ingat wajah orang yang membakar kakaknya itu. Ia berjanji akan membunuhnya dengan sadis seperti ia membunuh kakanya.
***
Lain halnya yang terjadi di tengah perkebunan karet, Nurimah sedang berkabung atas meninggalnya Jamal. Jasad Jamal dikuburkan di belakang rumah panggung. Nurimah, sang istri, tidak mau meninggalkan perkebunan itu. Ia ingin menggantikan suaminya bekerja di sana.
ADVERTISEMENT
Setiap menjelang malam, Nurimah menaburkan kembang di atas kuburan suaminya sambil menangis. Seperti yang ia lakukan malam ini dengan hanya diterangi lampu canting. Ia berziarah ke makam Jamal. Tidak ada doa yang dirapalkan Nurimah. Ia hanya menangis dan menumpahkan kekesalannya.
“Nurimah....”
Suara seorang lelaki tiba-tiba mengagetkannya. Ia menoleh ke belakang, tapi tidak ada siapa-siapa. Ia hanya melihat pohon-pohon karet yang berjajar. Nurimah bangkit. Ia menyeka air matanya yang membasahi pipi kemudian melangkah perlahan ke arah jajaran pohon karet.
“Nurimah....”
Suara itu terdengar dari atas. Nurimah mendongak. Lampu yang ia pegang terjatuh dari tangannya. Ia terkejut bukan main saat melihat Jamal sedang duduk di dahan pohon karet sambil tersenyum memandanginya.
ADVERTISEMENT
“Jamal?” Nurimah mengerutkan dahi.
___
Nantikan cerita Ilmu Begal selanjutnya. Agar tidak ketinggalan, klik subscribe di bawah ini: