Kurikulum Cinta: Ilmu Unik yang Tak Ada di Buku Teks

Guru Pesantren, Div Riset dan Inovasi IAPPI dan Alumni Connect PPI Dunia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Abdul Aziz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika mendengar kata “kurikulum,” pikiran kita biasanya langsung melayang ke deretan silabus, kompetensi inti, rencana pembelajaran, hingga tumpukan dokumen resmi yang kadang lebih tebal dari kitab tafsir. Kurikulum identik dengan sesuatu yang baku, formal, dan kerap membuat guru maupun siswa menghela napas panjang. Namun, di balik semua perangkat pendidikan itu, ada satu kurikulum yang absen dari ruang kelas, tidak tercantum dalam RPP, dan tak pernah masuk kisi-kisi ujian nasional: Kurikulum Cinta.
Kurikulum ini bukan tentang romantisme picisan ala drama Korea, tetapi tentang cinta sebagai energi pengetahuan, sebagai metodologi belajar, bahkan sebagai kompetensi dasar kehidupan. Ilmu yang tidak ada di buku teks, tetapi justru menentukan makna semua teks.
Mengapa Cinta Tidak Masuk Kurikulum Formal?
Pendidikan kita sibuk mengukur kemampuan kognitif, memetakan angka, dan menjejalkan hafalan, tetapi lupa memberi ruang pada hal paling fundamental: belajar dengan hati. Padahal, filsuf pendidikan Paulo Freire sudah lama menegaskan bahwa pendidikan yang sejati bukanlah sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses humanisasi menjadikan manusia lebih manusiawi. Tanpa cinta, humanisasi berhenti menjadi jargon.
Di Indonesia, sejak Kurikulum 1947 hingga Kurikulum Merdeka, hampir semua perubahan lebih banyak fokus pada apa yang harus dipelajari, bukan bagaimana hati belajar. Kita menjejalkan matematika, sains, dan sejarah, tetapi abai menanamkan cinta sebagai medium memahami ilmu. Akibatnya, banyak siswa cerdas secara intelektual, tetapi kering dalam empati.
Ilmu yang Tak Ada di Buku Teks
Cinta adalah ilmu yang tidak pernah dicetak dalam modul resmi, tetapi diam-diam menjadi guru paling efektif dalam sejarah. Bayangkan: mengapa seorang ulama dahulu rela berjalan ribuan kilometer hanya untuk mendapatkan satu hadis? Mengapa seorang ilmuwan modern bertahan berbulan-bulan di laboratorium demi satu penemuan kecil? Jawabannya bukan sekadar “karena tugas,” melainkan karena cinta pada ilmu itu sendiri.
Hadis Nabi ﷺ menegaskan: “Tidaklah beriman salah seorang dari kalian, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim). Di sini, cinta bukan teori abstrak, melainkan metodologi kehidupan: membangun relasi sosial yang sehat, mengikis egoisme, dan menumbuhkan empati.
Ironisnya, di kelas kita, cinta seringkali dianggap “pelajaran tambahan” jika bukan malah candaan. Padahal, ini justru inti pendidikan. Cinta adalah kurikulum tak tertulis yang memampukan manusia memahami dimensi terdalam dari pengetahuan.
Ketika Pendidikan Kehilangan Cinta
Tanpa cinta, pendidikan berubah menjadi pabrik nilai. Guru hanya menjadi operator mesin, siswa sekadar produk yang dicetak sesuai standar. Akhirnya, kita punya lulusan yang piawai mengerjakan soal pilihan ganda, tetapi gagap menghadapi realitas yang kompleks.
Lebih miris lagi, dalam dunia akademik kita sering menemukan fenomena “pengetahuan tanpa nurani.” Ilmu digunakan untuk menguasai, bukan memanusiakan. Misalnya, teknologi yang lebih sibuk mengeksploitasi bumi ketimbang merawatnya, atau politik yang menggunakan retorika pendidikan untuk kepentingan kuasa semata. Semua itu lahir karena cinta tidak pernah masuk silabus.
Kita lupa bahwa tujuan akhir ilmu bukan sekadar tahu, tetapi peduli. Bukan sekadar cerdas, tetapi bijaksana. Dan kebijaksanaan selalu lahir dari cinta.
Kurikulum Cinta dalam Praktik
Apakah Kurikulum Cinta mungkin diajarkan? Tentu saja. Tapi bukan lewat diktat atau soal ujian. Ia diajarkan lewat teladan, pengalaman, dan interaksi yang penuh makna. Seorang guru hadits, misalnya, Muhammad Abdul Aziz, BA., M.Pd, bisa mengajarkan hadits jibril yang didalamnya ada relevansi dengan metode pendidikan & adab-adab mencari ilmu. Guru matematika, bisa mengajarkan rumus integral sambil menanamkan kesabaran dan ketekunan. Guru sejarah bisa mengisahkan peristiwa bukan hanya sebagai deretan tanggal, tetapi sebagai kisah manusia yang penuh haru, luka, dan perjuangan.
Kurikulum Cinta juga bisa muncul dalam hal sederhana: guru yang menyapa siswanya dengan ramah, orang tua yang menemani anaknya belajar dengan sabar, atau lembaga pendidikan yang lebih mengutamakan karakter daripada sekadar ranking.
Dalam bahasa Rumi, “Cinta adalah guru, kita hanyalah muridnya.” Maka tugas pendidikan bukan hanya menambah ilmu, tetapi memperdalam cinta pada ilmu, pada sesama, dan pada Sang Pencipta.
Cinta Sebagai Kompetensi Abadi
Kurikulum bisa berganti-ganti: 2006, 2013, Merdeka Belajar, dan entah apa lagi setelahnya. Tetapi Kurikulum Cinta tetap abadi, karena ia adalah inti dari setiap ilmu. Ia mungkin tidak ada di buku teks, tetapi selalu tertulis di hati mereka yang sungguh-sungguh belajar.
Akhirnya, pendidikan sejati bukan soal seberapa banyak teori yang kita kuasai, melainkan seberapa dalam cinta yang kita tanamkan. Tanpa cinta, ilmu hanyalah angka di rapor. Dengan cinta, ilmu menjadi cahaya yang menghidupkan.
Maka, marilah kita resmikan Kurikulum Cinta bukan di dokumen kementerian, melainkan dalam diri kita sendiri.
