Sains yang Tahu Adat: Jejak Jeff Wonda Membaca Payangko dan Gunung Cycloop

Lulusan Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Gadjah Mada. Memiliki ketertarikan pada isu lingkungan, tata ruang, literasi, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Meidelyne Ayomi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di bawah kaki Pegunungan Cycloop, kota dan kabupaten Jayapura selalu tampak terburu-buru dengan segala aktivitasnya. Namun di atas sana, di balik kabut yang betah berlama-lama, waktu berjalan melambat seperti detak jantung hewan ekidna purba yang sedang bersembunyi. Bagi masyarakat adat, Cycloop bukanlah sekadar tumpukan batu dan barisan pepohonan yang menjulang. ''Gunung Cycloop adalah mama''
Sebagai pemuda yang lahir dan besar di Jayapura, Jeff Wonda tumbuh dengan jendela rumah yang sama dengan saya, jendela yang menghadap ke sebuah kemegahan yang sunyi. Gunung Cycloop adalah wilayah yang tak tersentuh. Ia berdiri menjaga jarak, diselimuti kabut, dan dipagari oleh rasa hormat yang teramat ketat. Bagi masyarakat adat, gunung ini adalah ruang sakral yang tak boleh sembarangan dimasuki oleh langkah kaki yang gegabah.
Namun, zaman berdesak-desakan di kaki gunung, membawa sains modern mengetuk pintu rahim Cycloop. Jefri datang membawa camera trap (kamera jebak) dan GPS, benda-benda ringkih buatan manusia yang mencoba membaca rahasia alam yang paling purba.
Sebagai pembaca buku-buku karya Jared Diamond, saya tentu saja langsung tertarik saat melihat bagaimana riset ini berjalan. Di kepala saya, Papua selalu tergambar sebagai bentang alam yang megah sekaligus penuh teka-teki peradaban. Namun, melihat apa yang dilakukan Jeff di lapangan, saya menemukan sains jenis lain. Sebuah sains yang tidak angkuh, sains yang tahu diri, dan mau melepas alas kaki di depan pembatas adat.
Jeff memenangkan EDGE Fellowship (2025–2027), sebuah pendanaan riset internasional yang prestisius. Tapi meneliti di wilayah adat yang dikeramatkan bukanlah perkara membalik telapak tangan. Sains modern sering kali datang seperti tamu yang tidak tahu adat dengan mengetuk pintu dengan kasar, mengambil apa saja yang ia suka, lalu pulang tanpa pamit. Jeff menolak menjadi tamu yang kurang ajar seperti itu.
"Saya sadar betul kalau mau meneliti wilayahnya orang, itu sakral dan punya aturan adat. Makanya dari awal saya sangat transparan. Saya datang dan kasih tahu jujur tujuan utama saya ke gunung untuk penelitian," jawab Jeff santai.
Ia meyakinkan para Ondoafi (tetua adat) bahwa kamera yang dibawanya hanya bertugas meminjam bayangan satwa untuk dicatat oleh peradaban, bukan untuk merampas atau membawa satwa pergi dari pelukan gunung. Transparansi itu berbuah manis. Kepercayaan adat melunak karena sains datang dengan kepala tertunduk hormat. Menariknya, data yang dikumpulkan Jeff tidak akan ia simpan untuk pribadi atau di menara gading. Ia berencana mengembalikan seluruh rekaman visual itu kepada pemilik sah gunung melalui sebuah workshop kampung. Ia ingin para orang tua dan anak muda melihat sendiri kekayaan yang selama ini tersembunyi di balik rimbunnya daun-daun Cycloop.
Saat GPS (Global Positioning System) Berguru pada Indigenous Knowledge
Di tengah hutan, sains modern yang tampak gagah itu segera menyadari kerapuhannya sendiri. Angka-angka di layar GPS sering kali mendadak buta di bawah kanopi hutan yang rapat. Di titik itulah, Jeff belajar bahwa teknologi sains harus bersedia berguru pada indigenous knowledge atau pengetahuan lokal masyarakat adat yang telah diwariskan turun-temurun.
‘’Masyarakat lokal ikut terlibat langsung dan menjelaskan ke kami. Mereka beri tahu, 'Oh hewan ini dia punya tempat main di sebelah sini,' baru mereka juga tahu nama lokalnya. Jadi pengetahuan lokal mereka ini yang menuntun metode ilmiah kami di lapangan," ujar Jeff.
Kamera canggih seharga puluhan juta rupiah tidak ada gunanya tanpa kompas alami berupa naluri para pemuda lokal. Mereka yang paling tahu di mana rimba menyembunyikan ruang bermain bagi satwa-satwa langka. Di Yongsu,misalnya, masyarakat mengenal Payangko (Ekidna Moncong Panjang Zaglossus attenboroughi) sebagai lambang pembawa kedamaian. Pengetahuan lokal inilah yang menyelamatkan sains agar tidak tersesat di jalannya sendiri.
Ketika Zona Inti Mulai Berisik
Namun, rumah yang tenang itu kini sedang digerogoti oleh rayap-rayap keserakahan. Mama Cycloop sedang terluka dan menahan perih. Saat obrolan kami mulai menghangat, saya bertanya, "Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, seberapa kritis atau terancam kondisi habitat spesies saat ini?"
Jeff menarik napas. Nadanya berubah masygul. "Aktivitas ilegal di Cycloop sekarang sudah jadi ancaman nyata yang sangat kritis buat hewan-hewan di sana. Ini terjadi berulang-ulang. Contohnya di Buper ada penambangan ilegal, lalu di Doyo, ada pengambilan kerikil secara ilegal. Itu merusak sekali."
Lalu dengan kalimat tajam, Jeff menampar kenyamanan kita yang tinggal di bawah gunung. "Imbas dari krisis ini bukan cuma ke hewan, tapi sudah sampai ke krisis air bersih bagi kita manusia yang tinggal di bawah kaki gunung. Aktivitas itu merusak dan mengganggu sumber mata air yang menghidupi kabupaten Sentani juga Keerom."
Kerusakan itu tidak berhenti pada galian batu. Lahan kebun berpindah perlahan-lahan merayap naik menembus zona penyangga, bahkan dengan berani menjamah zona inti hutan yang seharusnya steril dari peradaban manusia.
Dua Komunitas di Balik Kabut Gunung Cycloop
Di atas gunung yang berkabut, Jeff mengamati adanya dinamika sosial-demografis yang sensitif dan rumit. Cycloop dihuni oleh dua komunitas, yaitu komunitas lokal asli (seperti orang Sentani, Depapre, Yongsu, Pasir 6 dan sekitarnya) dan komunitas migrasi lokal yang datang dari wilayah pegunungan (Tolikara, Puncak Jaya, dan sekitarnya). Menurut pengamatan langsung oleh Jeff, perambahan hutan Cycloop paling masif justru didorong oleh aktivitas berkebun dari komunitas migrasi lokal yang naik hingga ke jantung daerah inti, di mana Payangkau dan satwa endemik lainnya meletakkan sisa hidup mereka.
Jeff menolak tinggal diam. Melalui proyek EDGE Fellowship ini, ia berencana membuka ruang social site discussion. Bukan untuk berdebat, melainkan untuk duduk bersama menyeduh kopi dengan komunitas migrasi tersebut. Ia ingin mengetuk hati mereka dengan pertanyaan sederhana: "Sebenarnya bagi masyarakat, arti Gunung Cycloop itu apa?"
Menolak Selesai Saat Dana Usai
Kekhawatiran terbesar dalam proyek konservasi berbasis pendanaan internasional sering kali bermuara pada satu pertanyaan klasik: Apa yang terjadi setelah program selesai? Ketika masa pendanaan habis, jamak terjadi program konservasi ikut mati suri dan ditinggalkan begitu saja. Kekhawatiran inilah yang mendorong saya untuk menelusuri lebih dalam mengenai komitmen keberlanjutan riset ini. Saya pun mengejar Jef dengan kegelisahan yang sama: bagaimana nasib Cycloop jika nanti masa pendanaan habis? Namun, Jeff rupanya sudah menyiapkan fondasi yang kokoh agar sains yang dibawanya tidak menjadi proyek musiman yang datang lalu hilang.
"Menurut saya, kunci sustainable conservation (konservasi berkelanjutan) itu ada pada transfer ilmu," tegas Jeff mantap.
Ia tidak ingin membawa ilmu itu pulang di dalam ranselnya sendiri. "Melalui riset ini, anak-anak muda lokal saya latih cara penggunaan kamera jebak, penggunaan GPS, dan metodologi lainnya. Jika hasil penelitian ini berdampak baik, nanti kalau ada peneliti luar atau lembaga lain yang masuk ke kampung itu, mereka tidak perlu bawa orang luar lagi. Mereka harus pakai anak-anak muda lokal yang sudah dapat ilmu ini untuk terlibat langsung dalam penelitian. Mereka sudah mandiri."
Bagi Jeff, kemandirian pemuda kampung adalah benteng pertahanan terbaik bagi masa depan Cycloop, jauh setelah masa kontrak pendanaan EDGE Fellowship-nya berakhir.
Refleksi Bersama
Pada akhirnya, di ujung wawancara bersama Jeff Wonda, lelaki yang namanya tertera mentereng di jurnal internasional sebagai Gison Morib itu, kita disodorkan sebuah cermin besar yang retak.
Menyelamatkan Payangko tidak hanya sekadar urusan romantis mendandani binatang purba dengan kalimat akademik yang mentereng agar kelihatan keren di mata internasional, tetapi juga melihat seisi kabupaten yang sedang mengantre menuju dehidrasi masal jika penambangan ilegal di Cycloop dibiarkan terus berjalan.
Sains yang dibawa Jeff tidak memakai jas laboratorium yang putih dan angkuh. Ia adalah sains yang bersedia melepas sepatu botnya, duduk bersila di tikar, dan berguru pada masyarakat adat. Melalui kamera jebaknya, Jeff tidak sedang mengusik privasi sang mamalia purba. Ia justru sedang menyingkap kabut ketidaktahuan kita, memperlihatkan kepada dunia bahwa Payangkau itu ada, mereka hidup, dan rumah mereka sedang diambang kehancuran oleh keserakahan manusia kota.
